Napas terengah-engah itu terdengar seperti gergaji yang memotong keheningan koridor. Aku menendang pintu ganda bermaterial kayu lapis besi itu hingga terbuka, lalu segera menguncinya dari dalam dengan sisa tenaga yang kumiliki. Bau formalin yang tajam menyengat hidung, menusuk hingga ke belakang tenggorokan. Gelap. Hanya lampu kilat dari kamera ponselku yang membelah kegelapan, memantul pada ubin keramik putih yang sudah retak dan kusam.
Kamar mayat. Tempat terakhir yang ingin dikunjungi siapa pun, tapi di gedung terkutuk ini, ini adalah satu-satunya tempat yang tampaknya dihindari oleh bayangan-bayangan yang tadi mengejarku di Bangsal Mawar.
Aku bersandar pada pintu, merosot perlahan hingga terduduk di lant** yang sedingin es. Jantungku berdegup kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari dadanya. Kupaksakan mataku menatap layar ponsel yang terpasang pada *stabilizer*.
Angka penonton: **1.800.000**.
Dan saldo di pojok kanan atasβangka yang biasanya membuatku ingin menariβkini hanya tampak seperti hitung mundur menuju kematianku. **Rp 3.250.000.000**. Tiga miliar lebih. C**up untuk membayar semua utang judi online, membeli apartemen di Senopati, dan membungkam semua orang yang pernah meremehkanku. Tapi harganya... harganya mulai terasa tidak ma**k akal.
"Guys... kalian lihat itu?" bisikku ke arah kamera, mencoba menjaga suaraku agar tidak bergetar. Persona 'Radit yang Berani' harus tetap terjaga, meski tanganku basah oleh keringat dingin. "Kita di jantung Rumah Sakit Medika sekarang. Kamar mayat. Sesuai permintaan kalian. Puas?"
Kolom komentar bergerak begitu cepat hingga sulit dibaca.
*User666: Buka lokernya, Radit.*
*Pasien_Nol: Kami haus, Raditya.*
*Sultan_Mati: 500 juta kalau kamu tidur di dalam salah satu laci itu selama 10 menit.*
"G*** kalian," gumamku, tapi mataku tidak bisa lepas dari tawaran 500 juta itu. Keserakahan di dalam diriku mulai berbisik, mencoba mengalahkan rasa takut yang melumpuhkan. *Hanya sepuluh menit, Dit. Sepuluh menit untuk setengah miliar.*
Aku berdiri, mengarahkan kamera ke deretan laci besi di dinding. Ada sekitar tiga puluh laci, tersusun rapi namun tampak seperti mulut-mulut raksasa yang tertutup. Suhu di ruangan ini turun drastis. Setiap napas yang kukeluarkan membentuk uap tipis di udara.
Aku berjalan mendekat, langkah kakiku bergema di atas lant** yang lengket. Aku harus mengatur strategi. Jika aku bisa bertahan satu jam lagi sampai fajar menyingsing, semua uang ini akan menjadi milikku. Aku hanya perlu tempat bersembunyi yang tidak terpikirkan oleh... mereka.
Tiba-tiba, ponselku bergetar hebat. Sebuah notifikasi donasi muncul dengan animasi koin emas yang berhamburan di layar.
*Ting!*
Suaranya sangat nyaring di ruangan yang sunyi ini. Tapi anehnya, suara itu tidak hanya berasal dari speaker ponselku. Suara *Ting!* itu bergema dari balik salah satu laci besi di ujung ruangan.
Aku membeku. Bulu kudukku berdiri tegak.
"Kalian dengar itu?" tanyaku pada penonton, meski aku tahu mereka pasti mendengarnya.
*Ting!*
Suara donasi kembali terdengar. Kali ini lebih keras. Dari laci nomor 14.
Lalu, bunyi logam beradu terdengar. *Klak.* Pengait laci nomor 14 terbuka dengan sendirinya. Perlahan, laci itu merosot keluar, menampakkan ruang gelap di dalamnya. Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa kering seperti pasir.
*Ting! Ting! Ting!*
Notifikasi donasi itu meledak bertubi-tubi. Layar ponselku dipenuhi pesan donasi dari akun-akun dengan nama yang mengerikan: *TanpaKepala99, UsusTerburai, SusterNgesotOri.*
Dan setiap kali suara notifikasi itu berbunyi, satu laci besi terbuka.
*Klak! Klak! Klak!*
Suara besi yang bergeser memenuhi ruangan, menciptakan simfoni kematian yang m****akkan telinga. Satu per satu, laci-laci itu menyembur keluar dari dinding dengan kecepatan yang tidak wajar. Ruangan yang tadinya sunyi kini dipenuhi suara denting koin virtual yang bercampur dengan decit logam karatan.
"Berhenti... berhenti!" teriakku, tapi jariku tidak sanggup menekan tombol *end stream*. Angka viewers melonjak ke **2,5 juta**. Mereka semua ingin melihat apa yang ada di dalam laci-laci itu.
Aku mundur selangkah, hampir tersandung kaki meja otopsi di tengah ruangan. Kamera di tanganku berguncang hebat. Cahaya lampu kilat menyoroti laci-laci yang kini terbuka lebar. Dari dalam kegelapan laci nomor 14, aku melihat sesuatu bergerak. Bukan mayat utuh. Tapi sepotong tangan yang pucat, kebiruan, dengan kuku-kuku yang sudah terlepas, merayap keluar dan mencengkeram pinggiran besi.
Lalu, dari laci nomor 7, terdengar suara tawa lirih yang disusul oleh bau busuk yang begitu menyengat hingga membuatku mual.
*Ting!*
Pesan donasi baru muncul di tengah layar, menutupi wajahku yang pucat pasi.
*Donatur Anonim memberikan Rp 1.000.000.000: "Check-out dimulai. Pilih lokermu atau kami yang memilihkan untukmu, Raditya."*
"Ini bukan konten lagi," bisikku pada diri sendiri. Air mata mulai menggenang. "Ini bukan prank."
Aku berbalik, berlari menuju pintu tempatku ma**k tadi. Aku menarik gagangnya sekuat tenaga, tapi pintu itu tidak bergeming. Seolah-olah kayu itu telah menyatu dengan dinding beton. Aku menggedor-gedornya, berteriak meminta tolong, namun yang terdengar hanyalah suara tawa dari speaker ponselku yang bersahutan dengan suara notifikasi donasi yang semakin mengg***.
Aku menoleh ke belakang. Laci-laci itu kini sudah terbuka sepenuhnya. Dan dari kegelapan di dalamnya, kepala-kepala tanpa rambut, mata-mata yang hanya menyisakan lubang hitam, dan mulut-mulut yang dijahit mulai bermunculan. Mereka tidak keluar sepenuhnya. Mereka hanya diam di sana, menatapku dengan rasa lapar yang tak terbayangkan.
Lalu, suara notifikasi itu berubah. Bukan lagi suara denting koin yang ceria, melainkan suara jeritan melengking yang membelah gendang telinga.
Ponselku menampilkan hitungan mundur di layar streaming.
**Waktu Check-out: 00:59.**
"Siapa kalian?!" teriakku histeris, melemparkan ponselku ke arah meja otopsi, namun *stabilizer*-nya membuatnya tetap berdiri tegak, lensanya tepat mengarah ke arahku.
Satu suara serak terdengar dari laci yang paling dekat denganku. "Kami... adalah yang kau jual demi konten, Raditya. Sekarang, kami ingin membeli bagianmu."
Tiba-tiba, semua lampu kilat di ponselku padam. Kegelapan total menyergap. Satu-satunya yang tersisa hanyalah cahaya biru redup dari layar ponsel yang masih menyala di atas meja otopsi, dan suara gesekan tubuh-tubuh dingin yang mulai turun dari laci-laci mereka, merayap di lant** menuju tempatku berdiri.
Aku merasakan sebuah tangan yang sangat dinginβbegitu dingin hingga terasa membakarβmelingkar di pergelangan kakiku.
"Selamat datang di kamar mayat, Radit," bisik suara itu tepat di bawah telingaku. "Jangan lupa... senyum ke kamera."
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!