Layar ponsel di genggamanku bergetar hebat, seolah-olah benda itu memiliki detak jantungnya sendiri yang terpacu oleh ketakutan. Cahaya biru dari layar menyinari wajahku, menonjolkan keringat dingin yang mengucur deras dari pelipis. Di sekelilingku, lorong Rumah Sakit Medika terasa menyusut, dinding-dindingnya yang berjamur seakan bergerak mendekat, ingin menghimpitku dalam kegelapan yang pekat.
Angka di pojok kiri atas layar terus meroket. *2,4 juta penonton*. Angka yang dulu sangat kudambakan, namun sekarang menjadi vonis mati bagiku.
"Oke, oke, Guys... dengerin dulu," suaraku bergetar, hampir pecah. Aku mencoba memaksakan senyum narsistik andalanku ke arah kamera, tapi otot wajahku terasa kaku seperti semen. "Kita sudah sampai di sini. Kalian sudah lihat semuanya, kan? Ruang mayat, bangsal anak, semuanya sudah kubongkar. Sekarang... gimana kalau kita bicarakan soal jalan keluar?"
Aku menelan ludah yang terasa seperti butiran pasir. Tanganku gemetar saat mengusap layar, mencoba membaca aliran komentar yang melesat secepat kilat.
**@LukaBakar_44:** *Belum c**up. Kami butuh wadah.*
**@SusterTanpaMata:** *Baumu manis, Radit. Jangan pergi dulu.*
**@PasienKamar402:** *Donasi 5.000 Soul-Coin dikirim. Permintaan: Potong satu jari kelingkingmu untuk pembukaan.*
Mataku terbelalak melihat notifikasi donasi itu. Nilainya setara dengan seratus juta rupiah jika dicairkan. Tapi syaratnya... g***.
"Jangan bercanda, dong!" aku tertawa hambar, mencoba berimprovisasi. "Kalian tahu kan akun ini aset berharga? Kalau aku terluka, siapa yang bakal menghibur kalian besok-besok? Gimana kalau gini, aku janji bakal balik lagi minggu depan dengan peralatan yang lebih canggih. Aku bakal bawa kru lengkap! Deal?"
Komentar di layar mendadak berhenti. Sepi yang mencekam menyergap. Satu-satunya suara yang kudengar adalah suara napasku yang memburu dan bunyi tetesan air di ujung lorong yang bergema seperti lonceng kematian.
Lalu, layar ponselku berkedip merah darah. Sebuah pesan muncul di tengah layar dengan font yang tampak seperti torehan pisau.
**SISTEM: NEGOSIASI DITOLAK.**
**PENONTON MEMINTA 'SPECIAL CONTENT': RITUAL PENYAMBUTAN.**
"Ritual apa?" bisikku, mundur perlahan sampai punggungku menab**k pintu lift yang sudah berkarat.
Tiba-tiba, sebuah suara tawa melengking terdengar dari speaker ponselku, tapi bukan berasal dari aplikasi. Suara itu berasal dari belakangku, dari dalam lubang lift yang tertutup rapat. Aku meloncat menjauh, hampir menjatuhkan ponselku.
Layar ponselku kembali dipenuhi komentar, namun kali ini warnanya berubah menjadi abu-abu pucat, seperti warna kulit mayat.
**@Arwah_Lant**3:** *Kami tidak butuh kontenmu besok. Kami butuh tubuhmu SEKARANG.*
**@TanpaNama:** *Donasi 50.000 Soul-Coin dikirim. Permintaan: Ma**k ke Ruang Bedah Utama dan kunci dirimu di dalam selama 10 menit tanpa lampu.*
Satu miliar rupiah. Satu tantangan itu bernilai satu miliar rupiah.
Otakku yang serakah sempat berdenyut, menimbang-nimbang angka itu di tengah teror yang melanda. Dengan uang itu, hutangku lunas. Aku bisa membeli apartemen baru. Aku bisa kembali jadi raja media sosial. Tapi nuraniku yang tersisa berteriak bahwa ini adalah jebakan.
"Dengar, aku... aku nggak bisa lakukan itu," kataku, mencoba bernegosiasi lagi. "Gimana kalau aku kasih kalian hal lain? Aku punya rahasia. Aku bisa kasih tahu kalian siapa yang sebenarnya membocorkan lokasi ini ke publik! Aku bisaβ"
Kalimatku terputus saat sebuah tangan pucat dengan kuku-kuku hitam yang panjang perlahan-lahan keluar dari pinggiran layar ponselku. Tangan itu transparan, namun nyata. Ia mencoba meraih leherku.
Aku berteriak dan melempar ponsel itu ke lant**. Namun, bukannya pecah, ponsel itu justru berdiri tegak di atas lant** beton, kameranya otomatis berputar menghadapku. Lampu *flash*-nya berkedip-kedip seperti kode Morse yang kacau.
"Kalian mau apa?!" teriakku histeris pada udara kosong. "Uang? Aku sudah kasih kalian tontonan! Kenapa kalian nggak biarkan aku pergi?!"
Sebuah suara bisikan ribuan orang bergema di seluruh koridor, bukan dari ponsel, tapi dari dinding-dinding rumah sakit itu sendiri. "Kami... ingin... pulang..."
Di layar ponsel, sebuah bar kemajuan (progress bar) muncul. Warnanya ungu gelap dengan tulisan: **PROSES PENGUNDUHAN JIWA: 15%**.
Setiap persen yang bertambah membuat dadaku terasa seperti dihujam ribuan jarum. Napasku sesak. Aku merasa seolah-olah ada sesuatu yang sedang ditarik paksa dari dalam pori-pori kulitku.
**@PenjagaGedung:** *Jangan lari, Raditya. Semakin kamu lari, semakin sakit proses 'check-out'-nya.*
Aku menyadari satu hal yang mengerikan. Mereka tidak menonton siaranku untuk hiburan. Mereka menggunakan koneksi internet ini sebagai jembatan. Jutaan pasang mata itu adalah jutaan arwah yang sedang mengantre untuk berebut ma**k ke dalam satu-satunya pintu yang terbuka ke dunia manusia: tubuhku.
"Nggak... ini nggak mungkin," gumamku sambil meraba wajahku yang mulai terasa dingin.
Tiba-tiba, lampu koridor yang tadinya mati, mendadak menyala satu per satu. Bukan lampu neon putih, melainkan cahaya merah temaram yang menyakitkan mata. Pintu menuju Ruang Bedah Utama di ujung lorong terbuka perlahan, mengeluarkan suara derit besi yang memilukan. Dari dalam kegelapan ruangan itu, tercium aroma busuk daging yang terbakar dan bau anyir darah segar.
Ponselku yang tergeletak di lant** melayang ke udara, seolah dipegang oleh tangan tak kasat mata. Lensa kameranya membidik tepat ke arah mataku yang terbelalak ketakutan.
**SISTEM: HADIAH 'SUPER-CHAT' DITERIMA DARI 'SANG DIREKTUR'.**
**TANTANGAN: JANGAN BERKEDIP SAAT KAMI MA**K.**
Sesosok bayangan besar, jauh lebih gelap dari kegelapan di sekitarnya, mulai merangkak keluar dari Ruang Bedah. Sosok itu membawa sebuah nampan berisi alat bedah yang sudah berkarat. Di belakangnya, ratusan bayangan lain dengan mata menyala mengikuti, semuanya menatapku dengan rasa lapar yang tak terbayangkan.
Aku mencoba membalikkan badan untuk lari, namun kakiku terasa berat, seolah semen telah membeku di sekeliling pergelangan kakiku. Aku melihat ke bawah. Ratusan tangan transparan muncul dari lant** beton, memegangi kakiku dengan cengkeraman yang sedingin es.
"Tolong!" teriakku, namun suaraku hilang di tenggorokan.
Di layar ponsel yang melayang di depanku, komentar terakhir yang terbaca sebelum pandanganku kabur adalah:
**@Admin_Gaib:** *Waktunya operasi plastik, Radit. Kami butuh wajah baru untuk kembali ke dunia.*
Bayangan besar itu kini berdiri tepat di depanku. Ia mengangkat sebuah pisau bedah yang bergerigi, ujungnya yang tajam berkilau terkena cahaya lampu *flash* ponselku yang tak henti-hentinya mengambil gambar.
"Senyum, Radit," bisik suara itu tepat di telingaku. "Ini bakal jadi konten paling viral dalam sejarah kematianmu."
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!