Layar ponsel di genggamanku terasa panas, hampir membakar telapak tangan yang terus berkeringat. Angka di pojok kanan atas berkedip merah kejam: 915.203 penonton. Jantungku berdentum seirama dengan detak notifikasi yang tak berhenti ma**k. Setiap detik, puluhan ribu 'mata' baru bergabung, membawa serta aura dingin yang seolah menyedot oksigen dari ruangan ini.
"Sedikit lagi, Radit. Fokus," bisikku pada diri sendiri, suaraku parau dan bergetar. Aku berada di dalam ruang direktur Rumah Sakit Medika yang pengap. Bau apek kertas tua bercampur dengan aroma anyir yang samar, seolah dinding-dinding ini menyimpan memori tentang darah yang tumpah bertahun-tahun lalu.
Tanganku mengacak-acak laci meja kayu ek yang sudah lapuk. Kertas-kertas berhamburan, rekam medis yang sudah menguning, hingga akhirnya jemariku menyentuh sesuatu yang keras di balik tumpukan map. Sebuah buku catatan bersampul kulit hitam dengan inisial emas yang sudah memudar: *dr. A.S.*
"Dapat," gumamku. Aku mengarahkan kamera ponsel ke buku itu, berusaha menjaga agar wajahku tetap terlihat 'menarik' di layar, meski aku tahu mataku kini tampak cekung dan liar. "Lihat ini, *Guys*. Rahasia besar rumah sakit ini ada di tanganku. Kalian mau tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini?"
Kolom komentar mengg***.
*“Buka cepat! Kami ingin melihat kontraknya!”*
*“Jangan banyak bicara, atau kami yang akan membukamu!”*
*“950 ribu viewers... sebentar lagi tubuhmu jadi milik kami.”*
Aku menelan ludah, mengabaikan ancaman yang tersamar sebagai antusiasme itu. Aku membalik halaman demi halaman dengan cepat. Tulisan tangannya cakar ayam, penuh dengan kegelisahan. Di halaman tengah, aku menemukan sketsa yang membuat darahku membeku. Sebuah lingkaran dengan pola geometris rumit, persis seperti ruang bawah tanah yang kulewati tadi.
*‘Janji harus ditepati. Media penyiaran bukan sekadar alat komunikasi, ia adalah jembatan. Untuk memutus kontrak, sang perantara harus dihancurkan di titik nol sebelum mata keseribu ribu melihat kebenaran sejati,’* tulis sang direktur.
Titik nol. Itu adalah ruang operasi utama di lant** dasar, tempat di mana ritual 'penyembuhan' terlarang itu dimulai puluhan tahun lalu. Dan 'perantara' itu... mataku beralih ke ponsel di tanganku. Gadget mahal ini, alat yang kupuja sebagai sumber kekayaanku, ternyata adalah jangkar yang mengikat jiwaku dengan jutaan arwah yang kini menontonku.
"G***... ini g***," bisikku. Aku harus menghancurkan ponsel ini? Di tengah siaran yang bisa menghasilkan miliaran rupiah ini? Logika narsistikku menjerit. Jika aku menghancurkan ponsel ini, karirku tamat. Aku akan kembali jadi bukan siapa-siapa. Aku akan miskin.
Namun, bayangan wajah-wajah pucat dengan mata berlubang yang mengintip dari balik kegelapan lorong rumah sakit ini membuatku tersadar. Kekayaan tidak ada gunanya jika aku menjadi wadah kosong bagi arwah penasaran.
970.000 penonton.
Aku berlari keluar dari ruang direktur, kakiku menghantam lant** koridor yang licin oleh lendir dan debu. Napas memburu, paru-paruku terasa seperti ditusuk jarum-jarum es. Di layar, filter wajahku mulai glitch, menunjukkan wajah asliku yang pucat pasi berselingan dengan wajah mayat yang membusuk.
"Tunggu, Radit! Mau ke mana kamu?" sebuah suara parau menggema di koridor. Aku tidak menoleh. Aku tahu itu bukan manusia. Suara itu berasal dari speaker langit-langit yang seharusnya sudah mati total.
Aku tiba di depan pintu ganda ruang operasi utama. Tanganku mendorong pintu itu hingga terbuka dengan derit yang memilukan. Di tengah ruangan, sebuah meja operasi tua berdiri di bawah lampu melingkar yang berkedip-kedip pucat. Di bawah meja itu, pola melingkar yang sama dengan di buku catatan itu terukir di lant**, memancarkan cahaya merah redup yang berdenyut seperti jantung.
985.000 penonton.
"Ini dia, *Guys*! Puncak dari segalanya!" teriakku ke arah kamera, mencoba menyembunyikan getaran hebat di tanganku. "Kalian ingin melihat hadiah utamanya, kan?"
Tanganku gemetar saat aku berjalan ke tengah lingkaran. Ponsel ini terasa semakin berat, seolah ribuan tangan tak kasat mata sedang menariknya agar tetap berada di dekat wajahku. Layar ponsel mulai mengeluarkan cairan hitam kental yang merembes ke jemariku.
*“Berikan pada kami!”*
*“Jangan hancurkan!”*
*“Satu juta! Satu juta! Satu juta!”*
Hitungan penonton melonjak drastis. 990.000. 995.000.
Setiap angka terasa seperti paku yang menancap di peti matiku. Aku melihat bayangan hitam mulai merayap keluar dari sudut-sudut ruangan, ribuan sosok tanpa bentuk yang perlahan memadat, membentuk kerumunan penonton yang selama ini hanya kulihat dalam bentuk angka di layar. Mereka mengelilingiku, mulut mereka menganga lebar seolah siap melahap setiap inci kulitku.
"Maaf, *Guys*," bisikku, air mata ketakutan dan penyesalan mengalir di pipiku. "Siaran ini... harus berakhir."
Aku mengangkat ponsel itu tinggi-tinggi di atas meja operasi, tepat di titik tengah ukiran ritual. Hanya butuh satu bantingan keras, dan kontrak ini akan hancur. Namun, tepat saat aku hendak menghempaskannya, layar ponsel menyala dengan cahaya putih yang membutakan.
Sebuah notifikasi donasi muncul dengan nominal yang belum pernah kulihat seumur hidupku. Angka nolnya begitu banyak hingga menutupi seluruh layar. Dan di bawahnya, ada sebuah pesan singkat dari 'Admin Gaib':
*“Jika kamu melakukannya sekarang, kami akan mengambil jiwamu sebelum ponsel itu menyentuh lant**. Pilihanmu: Mati sebagai legenda, atau hidup sebagai sampah yang tidak diingat siapa pun?”*
Tanganku membeku di udara. Pandanganku beralih antara angka viewers yang kini menyentuh 999.000 dan kegelapan yang siap menerkam di depanku. Jantungku seolah berhenti berdetak saat angka itu berkedip, bersiap untuk berubah menjadi satu juta.
Satu detik lagi. Satu pilihan lagi. Dan ponsel itu mulai bergetar hebat di genggamanku, mengeluarkan jeritan jutaan jiwa yang menuntut hak mereka.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!