Napas asma itu bukan berasal dari paru-paruku, melainkan dari speaker ponsel yang kugenggam erat. Di layar, angka *viewers* terus berputar g***, melampaui angka tiga juta. Sebuah pencapaian yang seharusnya membuatku bersulang sampanye di kelab malam paling mahal di Jakarta, namun saat ini, angka itu terasa seperti hitung mundur menuju eksekusi matiku.
"Guys... tetap... tetap di sini," bisikku, suaraku parau, hampir hilang ditelan gema langkah kakiku yang menyeret di atas lant** linoleum yang lengket. "Kita hampir sampai di Ruang Operasi Pusat. Jangan lupa *gift*-nya. Aku melakukan ini... demi kalian."
Bohong. Aku melakukan ini demi tumpukan utang yang menggunung dan rasa haus akan pengakuan yang tak pernah kenyang. Namun, kamera tidak boleh tahu betapa pengecutnya aku di balik layar ini.
Bau itu menyerangku lagi. Bukan sekadar bau debu atau kotoran tikus, melainkan aroma tajam dari daging yang mulai membusuk dan cairan antiseptik yang kedaluwarsa. Aku melirik ke bawah, ke arah kaki kiriku. Sial. Langkahku semakin berat. Sepatu kets mahalku terasa sesak, seolah kakiku membengkak dua kali lipat dalam hitungan menit.
Aku berani bersumpah, aku bisa melihat semburat keunguan yang menjalar dari balik celana *jeans*-ku, naik menuju lutut. Rasanya dingin, mati rasa, namun berdenyut dengan rasa sakit yang menusuk-nusuk saraf.
"Jangan berhenti, Radit," sebuah komentar muncul di layar, dikirim oleh akun bernama *BedahSaraf44*. "Bagian bawahmu sudah siap. Kami sudah tidak sabar untuk mencoba melangkah dengan kaki itu."
Aku menelan ludah yang terasa seperti pasir. Mereka benar-benar berniat mengambil tubuhku. Setiap donasi, setiap *like*, setiap detik mereka menonton, adalah satu inci lebih dekat bagi mereka untuk menarik jiwaku keluar.
Lorong menuju Ruang Operasi Pusat tampak seperti usus raksasa yang tak berujung. Di kiri dan kananku, pintu-pintu kayu yang melapuk mulai berderit terbuka. Dari kegelapan di balik pintu-pintu itu, wajah-wajah pucat bermunculan. Mereka tidak memiliki mata yang utuh; hanya lubang hitam yang memancarkan kerinduan yang sangat lapar.
Satu sosok keluar dari Ruang Radiologi. Seorang wanita dengan gaun pasien yang compang-camping, lehernya miring dalam sudut yang tidak ma**k akal. Dia tidak berjalan, dia meluncur, seolah ditarik oleh benang-benang gaib.
"Minggir!" teriakku, lebih kepada diriku sendiri daripada kepada hantu itu. Aku memaksakan kakiku untuk berlari, namun kaki kiriku kini terasa seperti balok semen. *Gub**k!*
Aku tersungkur. Ponselku terlempar beberapa meter ke depan, lampunya menyorot ke arah plafon yang berjamur. Di layar, kolom komentar meledak dengan tawa digital. Emoji tengkorak memba****i layar.
"Sakit, hah?" tanya sebuah suara, bukan dari ponsel, melainkan dari sekelilingku. Suara itu berbisik serempak, ribuan suara yang tumpang tindih.
Aku merangkak, mengabaikan rasa perih di telapak tanganku yang tergores lant** kotor. Saat tanganku meraih ponsel, aku melihat pemandangan yang membuat jantungku nyaris berhenti. Kulit di punggung tanganku mulai berubah warna. Pucat, kebiruan, dan teksturnya berubah menjadi seperti kertas basah yang mudah robek. Di bawah kulit itu, aku bisa melihat sesuatu bergerakβsesuatu yang bukan otot atau pembuluh darahku.
"Proses sinkronisasi: 45%," sebuah notifikasi sistem dari aplikasi Soul Stream muncul di layar dengan font merah darah.
"Tidak, tidak, tidak!" aku berteriak, memaksakan diri untuk berdiri. Aku harus sampai ke Ruang Operasi Pusat. Di sana, menurut rumor yang kubaca di forum gelap, terdapat pusat pemancar lama rumah sakit yang entah bagaimana terhubung dengan server aplikasi terkutuk ini. Aku harus memutus koneksinya.
Aku kembali berlari, atau lebih tepatnya, melompat-lompat pincang. Di belakangku, ribuan arwah itu mulai memenuhi lorong. Mereka tidak lagi bersembunyi. Mereka berdesakan, saling sikut, seolah-olah aku adalah barang diskonan yang sedang diperebutkan di hari pembukaan mal. Suara seret kaki mereka terdengar seperti ombak yang mengejarku.
"Raditya, lihat ke kamera!" perintah sebuah donasi senilai sepuluh juta rupiah dari akun *DonorMata*. "Tunjukkan ekspresi ketakutanmu lebih dekat lagi!"
Dengan tangan gemetar, aku mengarahkan kamera ke wajahku sendiri. Aku terkesiap. Mataku... salah satu mataku sudah berubah warna menjadi abu-abu keruh, persis seperti mata mayat yang sudah terendam air berhari-hari.
"Kalian g***! Kalian monster!" teriakku ke arah kamera, air mata mulai mengalir, namun terasa dingin seperti es.
"Kami hanya penonton, Radit," balas sebuah komentar yang lewat dengan cepat. "Kamu yang menandatangani kontraknya. Kamu yang menginginkan angka-angka ini."
Aku sampai di depan pintu ganda besar dengan tulisan "RUANG OPERASI PUSAT" yang sudah berkarat. Aku menghantamkan tubuhku ke pintu itu. Terkunci.
"Buka! Si****, buka!" aku menggedor-gedor pintu itu dengan tinjuku yang mulai membiru.
Di ujung lorong, kerumunan arwah itu berhenti. Mereka berdiri diam, menatapku dengan tatapan kosong yang mengerikan. Lalu, secara serempak, mereka mulai menunjuk ke arahku.
Layar ponselku mendadak statis. Suara denging tinggi menyayat telingaku, membuatku berlutut sambil menjerit kesakitan. Di tengah rasa sakit itu, aku merasakan sesuatu yang basah di celanaku. Bukan kencing. Aku menunduk dan melihat cairan hitam pekat merembes dari pori-pori kulit kakiku yang membusuk, membasahi lant**.
Kaki kiriku sudah tidak bisa digerakkan sama sekali. Rasanya seolah-olah saraf-sarafnya telah dicabut dan digantikan dengan kabel-kabel dingin yang dikendalikan oleh orang lain. Aku mencoba menggerakkan jari kakiku, tapi yang bergerak justru jari-jari tangan kanan sosok pria tanpa wajah yang berdiri paling depan di kerumunan arwah itu.
Dia tersenyum, meski tak punya bibir.
"Terima kasih atas tumpangannya, Radit," bisik suara di dalam kepalaku.
Tiba-tiba, kunci pintu di belakangku berputar sendiri. Suara *klek* yang keras bergema di lorong yang sunyi. Pintu itu terbuka perlahan, mengeluarkan hembusan angin dingin yang membawa bau kematian yang jauh lebih pekat daripada apa pun yang pernah kucium sebelumnya.
Aku terjatuh ke belakang, ma**k ke dalam kegelapan ruang operasi itu. Sebelum pintu tertutup secara otomatis, aku sempat melihat layar ponselku yang masih menyala di lant**.
Angka *viewers* melonjak ke angka lima juta. Dan di bawahnya, sebuah notifikasi baru muncul:
*βPersiapan Meja Operasi Selesai. Pasien Siap Dipisahkan dari Inangnya.β*
Di dalam kegelapan ruangan itu, lampu operasi di atas kepalaku mendadak menyala, menyilaukan dan dingin, sementara suara instrumen bedah yang saling beradu mulai terdengar dari sudut-sudut ruangan yang tak terjangkau cahaya. Aku tidak sendirian di sini. Dan mereka tidak membawa bius.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!