Lant** beton di bawah kakiku terasa bergetar, bukan karena gempa, melainkan karena frekuensi statis yang m****akkan telinga. Ruang server di basement Rumah Sakit Medika ini tidak seperti yang kubayangkan. Tidak ada rak besi yang rapi, hanya gundukan daging yang berdenyut, terjalin dengan kabel-kabel fiber optik yang berpendar biru pucat. Bau ozon bercampur busuk bangkai menyeruak, menusuk paru-paruku setiap kali aku tersengal.
Layar ponselku—satu-satunya sumber cahaya di kegelapan ini—menampilkan angka viewers yang tak ma**k akal: 6.666.666 penonton. Komentar di kolom chat bergerak begitu cepat hingga hanya terlihat seperti garis putih yang melesat.
*“Check out! Check out! Check out!”*
“C**up!” teriakku, suaranya parau, nyaris habis karena ketakutan yang mencekik selama berjam-jam. “Aku sudah melakukan semuanya! Aku sudah memberikan darahku, aku sudah menunjukkan mayat-mayat itu! Sekarang biarkan aku pergi!”
Tiba-tiba, tumpukan kabel di depanku merayap, membentuk siluet manusia tanpa wajah. Itulah dia. Sang Admin. Sosok yang selama ini mengirimkan tantangan g*** melalui notifikasi aplikasi. Wujudnya terus berubah, kadang menyerupai perawat dengan rahang yang hilang, kadang seperti anak kecil yang matanya dijahit. Suaranya tidak keluar dari mulut, melainkan langsung bergema di dalam tengkorak kepalaku.
*“Kontrak belum selesai, Raditya. Kau menginginkan ini, bukan? Kau haus akan perhatian. Kau muak menjadi sampah yang dilupakan.”*
Sebuah jendela pop-up muncul di layar ponselku. Bukan tantangan baru, melainkan sebuah nilai nominal yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak.
**Donasi Ma**k: Rp10.000.000.000.000.**
Sepuluh triliun rupiah. Angka nolnya berjejer seperti barisan tentara yang siap menaklukkan dunia. Jariku gemetar. Dengan uang itu, aku bukan hanya bisa melunasi hutang; aku bisa membeli rumah sakit ini, menghancurkannya, dan membangun istana di atas abunya. Aku tidak akan pernah lagi merasa kecil.
“Apa... apa syaratnya?” bisikku. Narsismeku, sisi gelap yang selalu lapar akan validasi, mulai mengalahkan rasa takutku.
Sosok Admin itu melangkah maju. Tangannya yang terdiri dari kabel-kabel hitam terjulur, menyentuh dadaku. Dinginnya luar biasa, seolah es langsung menyentuh jantungku.
*“Pilihannya sederhana. Matilah sekarang sebagai pahlawan yang mencoba memutus sinyal ini, dan biarkan ribuan arwah ini tetap terperangkap di sini bersamamu. Atau... jadilah wadah kami.”*
Aku tertegun. “Wadah?”
*“Satu tubuh untuk jutaan kesadaran. Kau akan hidup selamanya di layar mereka. Kau akan menjadi konten abadi. Uang itu akan mengalir ke rekeningmu, keluargamu akan kaya tujuh turunan, dan namamu akan disebut di setiap sudut internet sebagai legenda. Kau hanya perlu menekan tombol ‘Sync’ di aplikasimu.”*
Aku menunduk menatap ponsel. Tombol merah bertuliskan ‘Sync’ berkedip-kedip, seirama dengan denyut nadiku. Di sisi lain ruang server, aku melihat pemancar sinyal utama—sebuah alat kuno yang dimodifikasi dengan jantung manusia yang masih berdetak di tengahnya. Jika aku menghancurkannya dengan linggis di tanganku, aliran ini akan putus. Sinyalnya akan mati. Arwah-arwah itu akan lenyap kembali ke kegelapan, dan aku... aku kemungkinan besar akan tewas dalam ledakan sirkuit itu.
“Jika aku menolak?” suaraku bergetar.
*“Maka kau mati sebagai orang biasa yang menyedihkan. Tanpa uang. Tanpa pengikut. Hanya satu lagi mayat tak dikenal di rumah sakit tua ini. Tak ada yang akan mengingat namamu dalam dua hari.”*
Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada fisik mana pun. Dilupakan. Itulah ketakutan terbesarku. Menjadi debu yang tak berarti.
Aku melihat ke arah kamera depan ponselku. Wajahku di layar tampak mengerikan; pucat, berlumuran darah, dengan kantung mata hitam yang dalam. Namun, di mataku, ada binar keg***an yang tak bisa kusembunyikan. Jutaan orang sedang menontonku sekarang. Mereka menanti keputusanku.
*“Ayo, Radit,”* bisik Admin, suaranya kini terdengar seperti ribuan suara yang digabungkan menjadi satu harmoni yang menggoda. *“Tekan tombolnya. Jadilah Tuhan di dunia digital ini. Berikan mereka apa yang mereka mau.”*
Jariku melayang di atas layar sentuh. Hanya butuh satu ketukan ringan. Sepuluh triliun rupiah dan keabadian. Aku bisa merasakan keringat dingin mengalir di pelipis. Di saat yang sama, aku menggenggam erat linggis besi di tangan kiriku. Logam dingin itu terasa nyata, berlawanan dengan semua keg***an digital di depanku.
Tiba-tiba, sebuah komentar muncul di layar, melambat sejenak sehingga aku bisa membacanya: *“Lihat matanya. Dia sudah bukan manusia lagi. Dia sudah menjadi bagian dari mereka.”*
Kata-kata itu memicu sesuatu di dalam diriku. Apakah aku benar-benar ingin menjadi tempat penampungan bagi jutaan jiwa yang haus darah? Apakah aku ingin hidup, tapi bukan sebagai diriku sendiri?
“Kalian ingin tontonan, kan?” geramku, menatap langsung ke arah lensa kamera. Aku memaksakan senyum narsistikku yang paling lebar, senyum yang biasanya kugunakan untuk menipu sponsor. “Kalian ingin klimaks yang tak terlupakan?”
Aku mengangkat linggis tinggi-tinggi. Admin itu menjerit, sebuah suara statis yang menyayat telinga, mencoba menerjangku dengan kabel-kabelnya.
“Ini adalah episode terakhir!” teriakku.
Jariku bergerak cepat di atas layar. Namun, bukannya menekan tombol ‘Sync’, aku menekan ikon ‘Report Channel’ dan memilih opsi ‘Harmful Content’, lalu dengan kekuatan penuh, aku menghantamkan linggis itu bukan ke arah Admin, melainkan ke arah jantung manusia yang berdenyut di mesin pemancar.
Cahaya putih menyilaukan meledak dari pusat mesin. Suara jeritan jutaan arwah meledak di dalam kepalaku seolah-olah otakku sedang direbus. Aku merasakan tubuhku terlempar ke belakang, menghantam dinding beton dengan keras. Pandanganku kabur, tertutup oleh percikan api dan bayangan hitam yang beterbangan panik.
Ponselku terlepas dari tangan, mendarat di lant** dengan layar yang retak seribu. Angka donasi itu berkedip, berubah menjadi nol, lalu layar itu mati total.
Dalam kegelapan yang tiba-tiba mencekam, aku mendengar sesuatu yang lebih mengerikan daripada suara Admin. Itu adalah suara pintu-pintu di seluruh rumah sakit yang terbuka secara bersamaan. Dan langkah kaki yang berjumlah ribuan, semuanya berlari menuju satu arah.
Menujuku.
Sinyalnya mungkin sudah mati, tapi mereka sudah terlanjur berada di sini. Dan mereka tidak butuh aplikasi untuk mengambil apa yang mereka inginkan dariku.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!