Paru-paruku terasa seperti terbakar, disiram bensin dan disulut api setiap kali aku meraup oksigen yang tipis dan berbau apek. Kakiku sudah tidak terasa seperti milikku lagi; mereka bergerak hanya karena sisa-sisa adrenalin yang memacu insting bertahan hidup paling primitif. Di belakangku, lorong Rumah Sakit Medika yang gelap seakan memanjang, dinding-dindingnya berdenyut seperti kerongkongan raksasa yang mencoba menelanku bulat-bulat.
Layar ponsel di genggamanku yang retak masih menyala terang, memantulkan cahaya biru pucat ke wajahku yang bersimbah keringat dan darah. Angka pemirsa di pojok atas terus meroket—6,6 juta penonton. Komentar-komentar meluncur terlalu cepat untuk dibaca, tetapi aku bisa merasakan aura mereka. Mereka tidak hanya menonton; mereka menarikku, mencabik-cabik eksistensiku melalui sinyal digital.
"Dikit lagi... ayolah, dikit lagi..." suaraku keluar sebagai bisikan parau yang gemetar.
Lobi rumah sakit sudah terlihat. Pintu kaca besar yang menjadi batas antara neraka ini dan dunia luar tampak berkilau tertimpa cahaya abu-abu fajar yang mulai menyembul di ufuk timur. Namun, udara di sekitarku mendadak mendingin secara ekstrem. Bayangan-bayangan di lant** mulai memanjang, meliuk-liuk seperti tentakel hitam yang haus.
*DONASI MA**K: 500 Juta Rupiah dari 'Pasien_Tanpa_Wajah'.*
*Pesan: Jangan pergi, Radit. Kami baru saja mulai mencint**mu.*
Aku tersandung, lututku menghantam lant** ubin yang dingin dengan keras. Ponselku terlempar beberapa meter. Di layar, fitur kamera depan masih aktif, menangkap wajahku yang hancur karena ketakutan. Di belakang bayanganku di layar, aku melihat mereka. Ratusan, mungkin ribuan sosok transparan dengan anggota tubuh yang tidak lengkap, berdesakan di lobi, menatapku dengan mata yang hanya berupa lubang hitam kosong.
"Selesai! Aku sudah melakukan semuanya!" teriakku histeris ke arah kamera yang tergeletak. "Kontraknya sudah terpenuhi! Aku memberikan kalian tontonan! Sekarang biarkan aku keluar!"
Tiba-tiba, suara tawa yang tumpang tindih bergema di dalam kepalaku, bukan di ruangan itu. Itu adalah suara jutaan orang yang berbicara secara bersamaan, sebuah polifoni mengerikan yang merobek kewarasanku.
*“Kau tidak mengerti, Raditya,”* sebuah suara yang sangat mirip dengan suaraku sendiri terdengar dari speaker ponsel, namun nadanya lebih dingin dan datar. *“Kau tidak memberikan kami hiburan. Kau memberikan kami pintu.”*
Jam di dinding lobi yang mati mendadak berdetak sekali. Pukul 06:00 pagi.
Cahaya matahari pertama menembus kaca lobi yang kotor. Seketika, sosok-sosok mengerikan itu menguap seperti kabut, meninggalkan keheningan yang m****akkan telinga. Pintu kaca yang tadinya terkunci rapat oleh kekuatan yang tak terlihat, mendadak terbuka sedikit karena embusan angin pagi.
Aku merangkak, mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhku, dan meraih ponsel itu sebelum menyeret diriku keluar. Begitu kulitku menyentuh aspal jalanan yang kasar di luar gerbang rumah sakit, aku menangis sejadi-jadinya. Aku menghirup udara pagi yang segar, aroma tanah basah dan asap kendaraan yang biasanya aku benci, kini terasa seperti parfum paling mewah di dunia.
Aku selamat. Aku kaya. Saldo di aplikasi streaming-ku menunjukkan angka yang sanggup membeli seluruh blok apartemen di Jakarta Pusat. Aku pemenang.
Sambil bersandar di tiang listrik, aku mencoba menenangkan detak jantungku. Aku mengangkat ponsel untuk mengakhiri sesi *live stream* yang masih berjalan. Namun, saat aku melihat bayanganku di layar ponsel yang gelap sebelum menekan tombol 'End', jantungku seolah berhenti berdetak.
Wajah yang menatapku balik di layar itu memang wajahku. Alis yang sama, hidung yang sama, luka gores di pipi yang sama. Tapi ada yang salah. Di dalam pupil mataku, aku tidak melihat refleksi langit pagi. Aku melihat kerumunan kecil. Ribuan titik cahaya putih kecil di dalam hitam mataku, bergerak-gerak seperti penonton di stadion yang jauh.
Aku mencoba mengedipkan mata, berharap itu hanya halusinasi akibat kelelahan. Tapi saat aku mengedip, aku mendengar suara ribuan orang bersorak di dalam tengkorakku.
"Apa... apa ini?" gumamku.
Tanganku yang memegang ponsel bergerak sendiri. Bukan karena perintah dari otakku, tapi seolah-olah ada sepuluh tangan lain yang ikut menggenggamnya dari dalam kulitku. Aku mencoba melepaskan ponsel itu, tapi jari-jariku terkunci rapat.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi muncul di layar. Bukan dari penonton, melainkan sistem aplikasi itu sendiri.
*ADMIN: Sinkronisasi Identitas Selesai. Selamat datang kembali, Raditya(s).*
Aku mencoba berteriak minta tolong pada seorang pengendara motor yang lewat di kejauhan, tapi yang keluar dari mulutku bukan hanya suaraku. Ada suara wanita tua yang merintih, suara anak kecil yang menangis, dan suara lelaki dewasa yang terbatuk darah—semuanya keluar secara bersamaan dari kerongkonganku dalam satu harmoni yang mengerikan.
Aku melihat ke arah lenganku. Di bawah kulit, sesuatu bergerak-gerak seperti cacing yang merayap. Bentuknya menyerupai wajah-wajah kecil yang berusaha menonjol keluar. Mereka tidak mengambil tubuhku secara fisik di rumah sakit itu; mereka telah menyewa ruang di dalam kesadaranku. Kontrak itu bukan untuk melihatku mati, tapi untuk menjadikan aku sebagai wadah tumpangan bagi mereka yang tak lagi memiliki raga.
Ponsel di tanganku bergetar hebat. Sebuah pesan baru muncul di layar, sebuah tantangan harian baru yang harus dilakukan jika aku tidak ingin 'mereka' mengambil alih kendali sepenuhnya.
*TANTANGAN HARI INI: Ma**klah ke dalam keramaian. Biarkan kami melihat dunia melalui matamu. Jangan berhenti streaming, atau kami akan keluar sekaligus.*
Aku menatap jalan raya yang mulai ramai dengan orang-orang yang berangkat kerja. Mereka semua tampak normal, tenang, dan tidak tahu apa-apa. Sementara itu, aku berdiri di sana, sebuah gedung apartemen berjalan yang dipenuhi oleh jutaan penghuni gaib yang haus akan kehidupan.
Tanganku, yang masih bergerak di luar kendaliku, perlahan mengarahkan kamera ponsel tepat ke wajahku. Fitur *filter* kecantikan otomatis aplikasi itu mendeteksi wajahku, menghaluskan kulitku yang pucat, menyembunyikan luka-lukaku, dan membuat mataku berbinar indah—menutupi ribuan jiwa yang terjebak di dalamnya.
Aku tersenyum ke arah kamera. Itu bukan senyumku. Itu adalah senyum kolektif dari jutaan penonton yang kini mendiami sel-sel tubuhku.
"Halo semuanya," suaraku bergema, bergetar dengan frekuensi yang tidak manusiawi. "Siap untuk melihat apa yang akan kita lakukan hari ini?"
Di pojok layar, angka viewers mulai merangkak naik lagi. Dan kali ini, mereka tidak hanya menonton dari luar. Mereka sedang berebut kemudi untuk menggerakkan kakiku melangkah menuju kerumunan orang di depan sana. Sesuatu di dalam perutku terasa lapar, sebuah rasa lapar yang bukan milikku, tapi milik ribuan perut yang telah lama membusuk di bawah tanah Medika.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!