Soul Stream: Kontrak Maut Penonton Gaib

Bab 2: Bab 2 - Memulai live streaming dan membangun suasana ng...

Pengaturan Membaca

Lampu senter di atas ponselku membelah kegelapan koridor Rumah Sakit Medika dengan cahaya putih yang dingin dan tajam. Bau apek dari sisa-sisa disinfektan yang menguap bertahun-tahun lalu bercampur dengan aroma lembap dinding yang berjamur, menusuk lubang hidungku. Aku mengusap telapak tanganku yang berkeringat ke celana jins, lalu menarik napas panjang.

Ini dia. Momen pertaruhanku.

Tanganku sedikit gemetar saat menyentuh ikon aplikasi berwarna merah darah di layar ponsel: *SoulStream*. Sebuah platform baru yang menjanjikan algoritma lebih 'ganas' daripada aplikasi streaming arus utama. Aku memperbaiki posisi gimbal, memastikan wajahku terpapar cahaya dengan sempurnaβ€”sedikit *low-angle* agar terlihat dramatis, tapi tetap mempertahankan garis rahangku yang tajam.

"Tiga, dua, satu... *Go Live*."

Layar ponselku berkedip sejenak sebelum menampilkan wajahku sendiri. Di pojok kiri atas, angka penonton muncul. Angka nol yang statis. Aku memaksakan sebuah seringai lebar, tipe senyum yang biasa kugunakan untuk memikat sponsor kosmetik pria tahun lalu, sebelum semuanya hancur.

"Halo, teman-teman semua! Selamat datang di *Live* paling g*** tahun ini!" suaraku menggema di lorong yang sunyi, terdengar terlalu nyaring dan asing di telingaku sendiri. "Kalian tahu di mana aku sekarang? Rumah Sakit Medika. Tempat yang katanya bikin nyali satpam paling berani sekalipun ciut. Tapi malam ini, Raditya ada di sini untuk membuktikan kalau hantu itu cuma dongeng buat orang penakut."

Aku mulai berjalan pelan, mengarahkan kamera ke arah deretan kursi besi yang berkarat di ruang tunggu. Debu beterbangan di bawah sorotan lampu, berdansa seperti partikel kecil yang gelisah.

"Lihat itu," aku berbisik, mendekatkan kamera ke arah kursi yang sedikit miring. "Konon, di kursi itu sering terlihat bayangan perawat tanpa kepala. Tapi yang kulihat cuma besi tua yang butuh dijual ke loakan."

Aku melirik angka penonton. 12 orang. Hanya 12? Sial. Biasanya di awal *live*, aku bisa menarik setidaknya lima ratus orang dalam hitungan detik. Napas kian memburu, bukan karena takut, tapi karena jengkel. Pesan penagih hutang yang ma**k tadi sore kembali membayangi pikiranku. Kalau malam ini gagal, aku benar-benar habis.

"Ayo dong, mana jempolnya? Bagikan *link* ini sekarang! Kalau tembus seribu penonton, aku bakal ma**k ke ruang mayat di lant** bawah!" seruku, mencoba membakar antusiasme yang bahkan belum tersulut.

*User442: Mana hantunya? Bosen ah.*

*DarkKnight: Palingan settingan kaya kemarin.*

*IndoGhostHunter: Sepi amat bang, gak ada auranya.*

Komentar-komentar itu meluncur di layar, dingin dan meremehkan. Aku mendengus pelan, rasa frustrasi mulai mengikis akal sehatku. Aku berhenti di depan sebuah pintu kayu yang lapuk dengan tulisan 'Unit Gawat Darurat' yang nyaris terkelupas seluruhnya.

"Kalian mau lihat sesuatu yang nyata?" tantangku pada kamera. "Kalian bilang ini membosankan? Oke."

Aku menendang pintu itu hingga terbuka dengan dentuman keras yang m****akkan telinga. Suaranya memantul berkali-kali di sepanjang lorong, menciptakan gema yang seolah-olah menyahut dari kegelapan yang lebih dalam. Aku melangkah ma**k ke dalam ruangan yang dipenuhi meja operasi berkarat dan kain-kain putih yang compang-camping.

"Oi! Penghuni Medika!" teriakku, suaraku meninggi, penuh nada mengejek. Aku berputar 360 derajat dengan kamera, memperlihatkan setiap sudut ruangan yang berantakan. "Katanya rumah sakit ini angker? Mana? Aku sudah di sini! Keluar dong, jangan cuma sembunyi di balik debu! Apa hantu di sini juga sudah mati dua kali karena bosan?"

Aku tertawa, sebuah tawa kering yang dipaksakan. "Ayo, mana kuntilanaknya? Mana pocongnya? Apa kalian butuh uang donasi juga buat muncul? Dasar hantu miskin!"

Tiba-tiba, suhu di ruangan itu merosot tajam. Aku bisa melihat uap putih keluar dari mulutku saat aku bernapas. Bulu kudukku berdiri, tapi egoku tetap memegang kendali. Aku melirik layar ponsel lagi. Angka penonton tiba-tiba melonjak. 50... 150... 400... 1.000!

"Nah, gitu dong! Naik terus!" seruku girang, mataku berbinar melihat grafik yang meroket.

Namun, ada yang aneh. Nama-nama penonton yang muncul di daftar *viewer* bukan lagi nama pengguna biasa. Mereka terdiri dari deretan angka acak atau istilah medis yang tidak ma**k akal.

*Pasien_042 telah bergabung.*

*Gagal_Jantung_99 telah bergabung.*

*Amputasi_Lant**3 telah bergabung.*

"Wah, akun bot atau apa nih? Kreatif juga kalian bikin *username*," aku terkekeh, mencoba mengabaikan rasa dingin yang kini mulai menusuk hingga ke tulang.

Tiba-tiba, sebuah notifikasi donasi muncul di tengah layar. Warnanya bukan emas atau biru seperti biasanya, melainkan merah pekat yang berdenyut, seolah-olah layar ponselku sedang terluka.

**[ANONYMOUS memberikan donasi: Rp100.000.000]**

**[Pesan: Buka lemari pendingin nomor 4. Kami ingin melihat apa yang tersisa di sana.]**

Jantungku berhenti berdetak sejenak. Seratus juta? Untuk satu tantangan g***? Mataku terpaku pada angka nol yang berderet itu. Itu uang yang c**up untuk melunasi setengah hutangku.

Aku menelan ludah, membasahi tenggorokanku yang mendadak kering kerontang. Aku mengarahkan kamera ke pojok ruangan, di mana sebuah lemari pendingin jenazah besar berbahan baja kusam berdiri membeku. Di pintunya, terdapat nomor-nomor yang sudah memudar.

Satu... dua... tiga... empat.

Tepat saat kameraku menyorot pintu nomor empat, sebuah suara benturan keras terdengar dari *dalam* lemari itu. *Duk! Duk! Duk!* Seolah-olah ada sesuatu yang mencoba mendob**k keluar dari balik baja dingin tersebut.

Angka penonton di layar ponselku tiba-tiba melesat menjadi 10.000, dan kolom komentar bergerak begitu cepat hingga menjadi garis-garis kabur yang tidak terbaca. Tapi satu hal yang pasti, ponselku mulai terasa panas di genggaman, dan cahaya senternya mulai berkedip-kedip tidak stabil.

"Kalian dengar itu?" bisikku, kali ini rasa takut yang asli mulai merayap di nadiku. "Ada... ada sesuatu di dalam sana."

Bukannya lari, tanganku justru terulur ke arah gagang pintu nomor empat. Logika berteriak agar aku pergi, tapi angka seratus juta itu berkedip-kedip di layar seperti janji surga. Aku menyentuh besi dingin itu, dan saat itulah aku menyadari sesuatu yang membuat darahku membeku.

Pintu itu tidak terkunci dari luar. Pintu itu sedang ditarik dari dalam.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca