Soul Stream: Kontrak Maut Penonton Gaib

Bab 4: Bab 4 - Mencoba menghentikan stream karena merasa ada y...

Pengaturan Membaca

Keringat dingin memba****i pelipisku, mengalir melewati tulang pipi dan menetes tepat di atas layar ponsel yang masih menyala terang. Bau rumah sakit ini—campuran antara pembersih lant** yang kadaluwarsa, debu tebal, dan aroma anyir yang samar—seolah mulai mencekik paru-paru. Aku mencoba menelan ludah, tetapi tenggorokanku terasa seperti baru saja menelan segenggam pasir kering.

"Oke, *guys*... kayaknya untuk malam ini c**up sampai di sini," ucapku, berusaha menjaga nada suaraku agar tetap terdengar sant** di depan kamera, meski tanganku gemetar hebat. "Kalian lihat sendiri kan? Pintunya terkunci, dan suasananya makin nggak kondusif. Gue perlu cari jalan keluar lain dan... ya, kita lanjut lagi besok di tempat yang lebih aman."

Aku melirik kolom komentar yang melaju secepat cahaya. Angka penonton di sudut kanan atas kini menyentuh 500.000. Sebuah angka yang seharusnya membuatku melompat kegirangan, namun kali ini, deretan nama pengguna itu justru membuat bulu kudukku berdiri. *PasienKamar402, TanpaWajah99, SusterLuka.*

*“Jangan pergi, Raditya...”* sebuah komentar muncul dengan warna merah darah. *“Pertunjukan baru saja dimulai.”*

"Si*****," bisikku pelan. "Ini pasti kerjaan *hacker* atau semacamnya."

Aku segera mengarahkan jempolku ke tombol merah bertuliskan 'End Stream' di pojok bawah. Aku menekannya. Sekali. Tidak ada respon. Aku menekannya lagi, kali ini lebih keras hingga kuku jempolku memutih. Aplikasi itu seolah membeku, namun anehnya, kolom komentar masih terus mengalir dan video wajahku yang pucat pasi masih tertampil dengan jernih.

"Ayo dong, mati..." gerutuku.

Aku mencoba menekan tombol *power* di samping ponsel. Biasanya, paksaan *restart* akan mematikan segalanya. Namun, layar itu tetap menyala, memancarkan cahaya biru pucat yang kini terasa lebih menyilaukan dari sebelumnya. Aku mencoba menekan tombol itu berulang kali, dengan ritme yang semakin panik, hingga napasku memburu pendek-pendek.

Tiba-tiba, sebuah notifikasi donasi muncul dengan suara denting koin yang nyaring, bergema di koridor rumah sakit yang sunyi.

**[USER: MAYAT_HIDUP01 DONATED 100.000.000 RUPIAH]**

**[PESAN: JANGAN MATIKAN KAMERANYA, ATAU KAMI AKAN MATIKAN JANTUNGMU.]**

Jantungku mencelos. Uang seratus juta itu ma**k ke saldo *e-wallet*-ku dalam sekejap—aku bisa melihat angkanya berubah di barisan notifikasi atas. Namun, rasa mual justru mengaduk perutku. Ini bukan lagi soal uang. Ada sesuatu yang sangat salah.

"C**up. Gue selesai," kataku tegas, lebih kepada diriku sendiri daripada kepada penonton.

Aku memutuskan untuk menjatuhkan ponsel itu ke lant**. Aku ingin meninggalkannya di sini, lari sekencang mungkin menuju jendela mana pun yang bisa kupecahkan. Namun, saat aku membuka genggaman tanganku, ponsel itu tidak jatuh.

Aku tersentak. Aku mencoba mengibaskan tanganku dengan kuat, seperti sedang mengusir serangga yang hinggap. Ponsel itu tetap menempel erat di telapak tangan kananku. Aku menarik ponsel itu dengan tangan kiri, berusaha melepaskannya sekuat tenaga.

"Akh!" aku meringis kesakitan.

Rasa sakit itu tidak ma**k akal. Rasanya seolah-olah kulit telapak tanganku telah menyatu dengan casing ponsel yang terbuat dari logam dan kaca. Saat aku menariknya paksa, aku bisa melihat kulit di sekitar tepi ponsel meregang dan memerah, seolah-olah benda itu telah berakar ke dalam dagingku.

Rasa panas mulai menjalar dari baterai ponsel, merambat ma**k ke pembuluh darah di pergelangan tanganku. Itu bukan panas biasa; itu adalah sensasi terbakar yang disert** denyutan, seirama dengan detak jantungku yang mengg***.

"Apa-apaan ini..." suaraku bergetar, kini hampir menjadi isakan.

Aku menatap layar ponsel itu lagi. Kamera depannya kini tidak lagi menangkap wajahku secara normal. Wajahku di layar tampak mulai terdistorsi; kulitku terlihat lebih pucat, mataku tampak lebih cekung, dan di belakang bahuku, di dalam kegelapan koridor yang tertangkap kamera, samar-samar aku melihat puluhan pasang mata yang bersinar redup.

Layar ponsel itu berkedip-kedip, lalu sebuah pesan sistem muncul di tengah layar, menutupi wajahku:

**[KONTRAK DIMULAI: JANGAN PERNAH LEPASKAN PANDANGAN MEREKA.]**

**[SYARAT PEMBATALAN: TIDAK DITEMUKAN.]**

Aku mencoba membenturkan tanganku ke dinding beton di sampingku, berharap benturan itu akan melepaskan ponsel si**** ini. *B**k!* Rasa sakit menghujam tulang tanganku, tetapi ponsel itu tetap diam di posisinya, seolah telah menjadi bagian permanen dari anatomi tubuhku.

Cahaya dari layar ponsel kini bukan lagi sekadar pantulan. Aku melihat dengan ngeri saat urat-urat di punggung tanganku mulai menghitam, menjalar dari titik di mana ponsel itu menempel. Urat-urat itu berdenyut dengan warna biru neon yang mengerikan, seolah-olah aplikasi *Soul Stream* itu sendiri sedang memompa data langsung ke dalam sistem sarafku.

Tiba-tiba, ponselku bergetar hebat. Getarannya begitu kuat hingga gigiku gemeretak. Sebuah tantangan baru muncul di layar, tertulis dengan huruf kapital yang berkedip-kedip merah.

**[TANTANGAN BARU: MA**KI RUANG BEDAH DI UJUNG KORIDOR.]**

**[HADIAH: 500.000.000 RUPIAH]**

**[PENALTI GAGAL: PEMUTUSAN SARAF MOTORIK TANGAN KIRI.]**

"Enggak... gue nggak mau..." tangisku pecah.

Namun, kakiku bergerak sendiri. Bukan karena aku menginginkannya, melainkan karena ada sensasi seperti sengatan listrik yang memaksa otot-otot kakiku untuk melangkah maju. Tanganku yang memegang ponsel terangkat secara otomatis, mengarahkan kamera ke depan, menjadi penunjuk jalan bagi 'mereka' yang sedang menonton.

Aku menatap telapak tanganku yang kini tak terlihat lagi karena tertutup ponsel. Aku menyadari satu hal yang lebih mengerikan dari kematian: aku bukan lagi seorang pembuat konten. Aku hanyalah sebuah tripod bernyawa yang dikendalikan oleh ribuan penonton mati yang lapar akan tontonan darah.

Di ujung koridor, pintu ruang bedah yang tadinya tertutup rapat, perlahan-lahan berderit terbuka, mengeluarkan kepulan asap tipis yang berbau formalin dan daging busuk. Dari balik kegelapan ruangan itu, sebuah suara bisikan terdengar serentak dari *speaker* ponselku dan dari dalam ruangan di depanku.

"Ma**k, Raditya... kami ingin melihat lebih dekat."

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca