Lant** beton di bawah sepatuku terasa lengket, seolah-olah bangunan ini sedang berusaha menahan langkahku agar tidak pernah pergi. Bau udara di koridor ini adalah campuran antara debu tebal, bau apek kertas basah, dan sisa-sisa antiseptik yang sudah kedaluwarsa bertahun-tahun lalu. Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa seperti baru saja menelan amplas.
"Oke, *Guys*... kita masih di sini. Masih hidup," bisikku ke arah kamera ponsel yang terpasang di atas *gimbal*. Suaraku bergetar, meski aku berusaha menutupinya dengan seringai narsis andalanku. Cahaya dari lampu *ring light* mini yang kupasang menciptakan lingkaran putih pucat di bola mataku, memantulkan wajahku yang mulai diba****i keringat dingin.
Layar ponselku meledak dengan notifikasi. Angka penonton menyentuh 650.000. Sebuah angka yang seharusnya membuatku melompat kegirangan, tapi sekarang angka itu terasa seperti beban yang menghimpit dada.
*Sultan_Kematian baru saja memberikan 'Nisan Emas' (Rp5.000.000)!*
*Pesan: Ma**k ke Ruang Perawat di ujung lorong. Ada hadiah untukmu di sana.*
Jantungku berdegup kencang. Lima juta hanya untuk ma**k ke sebuah ruangan? Tanganku yang memegang tangkai kamera gemetar hebat. Sisi logisku berteriak untuk lari, tapi layar ponsel yang terus menampilkan simbol rupiah itu seperti rant** yang membelit leherku.
"Lima juta, hah? Kalian benar-benar g*** malam ini," kataku, mencoba berlagak berani di depan kamera. "Oke, Sultan. Kita lihat apa yang ada di balik pintu itu."
Aku berjalan mendekati pintu kayu yang catnya sudah mengelupas parah, seperti kulit yang membusuk. Papan namanya masih tergantung miring, nyaris jatuh: **RUANG PERAWAT - LANT** 3**. Dengan dorongan pelan yang menghasilkan derit memilukan, pintu itu terbuka.
Udara di dalam ruangan itu jauh lebih dingin. Aku mengarahkan senter ponselku ke sekeliling. Meja-meja kayu tua berjejer dengan tumpukan dokumen yang menguning. Kursi-kursi besi yang berkarat terbalik di sudut ruangan. Di tengah ruangan, sebuah meja panjang tampak lebih rapi dibandingkan yang lain, seolah-olah ada seseorang yang baru saja merapikannya sebelum aku datang.
"Lihat ini, *Guys*," bisikku, melangkah mendekat. Kamera kuarahkan ke tumpukan map biru yang tertata di atas meja. Debu di atasnya tidak setebal di tempat lain. "Sepertinya ini catatan medis atau daftar pasien. Klasik banget, kan? Kayak di film-film horor."
Aku meletakkan ponselku di atas tripod kecil di meja agar penonton bisa melihat wajahku dan dokumen itu secara bersamaan. Jemariku yang gemetar mulai membuka sampul map pertama. Judulnya: **DAFTAR PASIEN RAWAT INAP – TAHUN 2005**.
Aku membalik halamannya. Suara kertas yang bergesekan terdengar nyaring di keheningan ruangan. Mataku menyisir nama-nama yang tertulis dengan tinta hitam yang mulai pudar.
"Halaman pertama... ada nama 'Herman Susanto'. Meninggal karena gagal jantung," gumamku sambil membaca teks itu keras-keras untuk para penonton.
Tiba-tiba, kolom *chat* di sisi kiri layar ponselku bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar.
**Herman_Susanto78:** *Itu aku, Radit. Jantungku masih sakit sampai sekarang.*
Aku tertegun. Mataku mengerjap beberapa kali. "Wah, *fans* kita ada yang namanya sama kayak di buku ini. Kebetulan yang keren, ya?" ujarku, mencoba tertawa kecil, meski tawaku terdengar hampa.
Aku membalik halaman berikutnya.
"Nama kedua... 'Siti Aminah'. Komplikasi paru-paru. Meninggal tanggal 14 Juni 2005."
**Siti_Aminah_Real:** *Napas itu mahal, Radit. Aku ingin napasmu.*
Hening. Bulu kuduk di tengkukku berdiri tegak. Pesan itu ma**k tepat setelah aku menyebutkan namanya. Bukan satu, bukan dua, tapi puluhan komentar serupa mulai memba****i layar.
**Budi_Ganteng05:** *Aku di halaman empat, Radit. Coba cek. Kanker otak. Kepalaku masih terasa pecah.*
Dengan tangan yang kini benar-benar menggigil, aku membalik halaman dengan kasar. Halaman empat. Mataku membelalak. Di baris ketiga, tertulis dengan jelas: *Budi Santoso – Kanker Otak Stadium 4 – Meninggal 20 Agustus 2005.*
"Ini... ini nggak mungkin," bisikku. Keringat menetes dari ujung hidungku, jatuh tepat di atas nama Budi. "Kalian... kalian kru aplikasi ini, kan? Kalian nge-prank aku, kan? Kalian baca daftar ini duluan terus ganti nama akun kalian buat nakut-nakutin aku?"
Suaraku meninggi, hampir histeris. Aku mencari-cari kamera tersembunyi di sudut langit-langit ruangan, berharap menemukan kru yang sedang tertawa melihat reaksiku. Tapi yang kutemukan hanyalah sarang laba-laba dan sudut-sudut gelap yang seolah sedang memperhatikanku balik.
Layar ponselku tiba-tiba berkedip merah. Sebuah donasi raksasa muncul, menutupi seluruh tampilan layar.
*Arwah_Tanpa_Nama memberikan 'Keranda Berlian' (Rp50.000.000)!*
*Pesan: Lihat halaman terakhir, Radit. Nama yang paling bawah. Itu namamu.*
"G***! Lima puluh juta!" seruku sesaat, keserakahanku sempat mengalahkan rasa takut. Namun, pesan itu membuat jantungku seolah berhenti berdetak. "Nama... namaku?"
Aku segera membalik halaman-halaman map itu dengan liar. Kertas-kertas tua itu sobek di pinggirannya karena gerakanku yang kasar. Aku sampai di halaman terakhir yang seharusnya kosong karena merupakan penutup buku registrasi tahun 2005.
Di sana, di bagian paling bawah setelah nama pasien terakhir yang meninggal belasan tahun lalu, ada sebuah tulisan tinta merah yang masih basah. Tulisannya berbeda dengan tulisan tangan di halaman-halaman sebelumnya. Lebih tajam, lebih berantakan, dan seolah-olah dipaksakan keluar dari kertas.
**Raditya Putra – Kematian: Live Streaming – Status: MENUNGGU CHECK-OUT.**
Ponselku tiba-tiba mengeluarkan suara statis yang m****akkan telinga. Lampu *ring light*-ku berkedip-kedip sebelum akhirnya mati total, menyisakan kegelapan pekat yang hanya ditembus oleh cahaya biru pucat dari layar ponsel.
Aku menatap layar. Angka penonton melesat ke 1,5 juta. Dan di kolom *chat*, jutaan pesan ma**k dengan isi yang sama, berulang-ulang hingga layar ponselku seolah-olah bergetar hebat.
*KAMI SUDAH MEMBAYAR, RADIT. SEKARANG BERIKAN TUBUHMU.*
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar dari luar koridor. Bukan satu orang. Tapi ratusan. Suara seretan kaki yang berat, bunyi ranjang pasien yang didorong dengan kasar, dan isakan tangis yang menyayat hati terdengar mendekat ke arah Ruang Perawat.
Aku menoleh ke arah pintu yang tadi kubiarkan terbuka sedikit. Di sana, di kegelapan koridor, puluhan pasang mata berwarna kuning pucat mulai bermunculan, menatapku dengan lapar dari balik bayang-bayang.
"Tunggu dulu... ini bukan bagian dari kontraknya," bisikku, suaraku nyaris hilang. "Aku mau keluar! Batalkan donasinya! Aku mau keluar!"
Namun, sebuah notifikasi terakhir muncul di layar ponselku, bercahaya begitu terang hingga menyilaukan mata.
*Sistem: Donasi telah diterima. Proses pengiriman 'Tubuh Inang' sedang berlangsung. Jangan tinggalkan area siaran.*
Pintu Ruang Perawat membanting menutup dengan sendirinya. *B**k!* Kunci otomatis berputar. Dan dari bawah celah pintu, cairan kental berwarna hitam mulai merembes ma**k, membawa bau busuk mayat yang menyengat.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!