Lant** ubin di hadapanku sudah lama kehilangan warna putihnya, kini tertutup lapisan debu tebal dan noda kehitaman yang aku harap hanyalah tumpahan cairan kimia, bukan darah. Bau menyengat formalin bercampur aroma apek dari wallpaper yang mengelupas menusuk hidung, membuat perutku mual. Cahaya dari lampu *ring light* portabel yang terpasang di ponselku memantul liar di antara botol-botol kaca yang berjejer di rak laboratorium yang berkarat.
Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa seperti baru saja menelan amplas. Layar ponselku terus berkedip, menampilkan ribuan komentar yang bergerak begitu cepat hingga sulit dibaca. Namun, satu notifikasi besar berwarna merah darah terpaku di bagian atas layar, mendominasi segalanya.
**[DONASI BARU: Rp 500.000.000]**
**Pengirim: Pasien Gagal Organ_1998**
**Tantangan: Habiskan isi botol bertanda label biru di atas meja praktik. Jangan tumpah setetes pun.**
Tanganku gemetar hebat. Di hadapanku, sebuah botol kaca buncit berisi cairan keruh berwarna kekuningan menanti. Label birunya sudah sobek di bagian pinggir, tapi tulisan "ETANOL - REAGENT GRADE" masih terlihat jelas di bawah lapisan debu. Di sampingnya, ada botol lain yang lebih kecil tanpa label, berisi cairan kental berwarna ungu pekat yang seolah-olah berdenyut mengikuti detak jantungku.
"Guys... ini... ini g***," bisikku ke arah kamera, mencoba mempertahankan gaya *influencer*-ku yang biasanya karismatik. "Kalian lihat kan? Lima ratus juta. Tapi ini cairan kimia, Bung! Ini bisa membakar kerongkonganku dalam sekejap. Kalian bercanda, kan?"
Aku tertawa hambar, berharap ada satu komentar yang mengatakan bahwa ini semua adalah *prank*. Namun, kolom komentar justru dipenuhi dengan emot***n wajah pucat dan kata-kata yang seragam: *βMINUM. MINUM. MINUM.β*
Angka *viewers* menembus dua juta. Angka yang biasanya membuatku melonjak kegirangan, kini terasa seperti vonis mati. Aku melangkah mundur, berniat meninggalkan laboratorium laknat ini. Pers**** dengan uangnya. Aku masih ingin hidup.
Namun, saat aku berbalik, langkahku terhenti.
Di ambang pintu laboratorium yang tadinya kosong, kini berdiri sesosok bayangan. Bukan, itu bukan sekadar bayangan. Itu adalah seorang pria dengan seragam perawat yang sudah koyak-moyak, kulitnya sewarna abu-abu semen, dan matanya... matanya hanya berupa lubang hitam yang terus mengeluarkan cairan gelap. Dia tidak bergerak, hanya berdiri di sana, menghalangi satu-satunya jalan keluar.
"Radit, jangan bercanda," gumamku pada diri sendiri, suaranya parau. "Itu cuma halusinasi. Lu kurang tidur, Dit. Lu cuma stres."
Aku mencoba melangkah maju, tapi suhu di ruangan itu mendadak anjlok hingga aku bisa melihat hembusan napasku sendiri. Dari balik meja-meja laboratorium, tangan-tangan pucat dengan kuku yang menghitam mulai bermunculan. Mereka tidak menyerang, mereka hanya... menunjuk. Menunjuk ke arah botol di atas meja.
Ponselku bergetar lagi. Sebuah pesan suara ma**k dari donatur yang sama. Suaranya bukan suara manusia; itu adalah perpaduan antara suara gesekan logam dan rintihan kesakitan yang diputar bersamaan.
*"Tuan rumah harus menjamu tamunya... Minum, atau kami yang akan menuangkannya ke dalam perutmu melalui lubang yang lain."*
"Nggak! Gue nggak mau!" teriakku, nyaris menjatuhkan ponsel.
Tiba-tiba, sebuah tangan dingin dan kaku mencengkeram pundakku. Aku tersentak, mencoba melepaskan diri, tapi pegangan itu sekuat catut besi. Dari sudut mataku, aku melihat sosok perawat tadi sudah berada tepat di belakangku. Bau busuk dari tubuhnya begitu kuat hingga aku ingin muntah.
"Penonton sudah membayar, Raditya," sebuah bisikan serak terdengar tepat di telingaku, disusul dengan embusan napas yang berbau logam dan kematian. "Kontrak harus dipenuhi."
Sosok-sosok lain mulai mendekat dari kegelapan sudut ruangan. Pasien dengan perban yang menutupi seluruh wajah, wanita dengan perut yang robek, anak kecil dengan kulit yang melepuh. Mereka semua mengerumuniku, mendesakku kembali ke arah meja praktik.
Ponselku yang terjatuh di atas meja masih dalam posisi menyala, menyiarkan wajah ketakutanku secara *live* kepada jutaan 'penonton' gaib. Di layar, kulihat saldo akun *Soul Stream*-ku terus bertambah secara otomatis, digitnya berputar g*** seperti mesin slot yang rusak.
"Tolong... jangan..." aku merintih saat tangan-tangan dingin itu mulai memegangi kepalaku, memaksa mulutku terbuka.
Pria berseragam perawat itu mengambil botol berisi cairan ungu pekat tadi. Dia tidak menggunakan tangan, melainkan memegang botol itu dengan jari-jari yang sendinya sudah terbalik. Aku meronta, menendang-nendang, tapi kekuatanku tidak ada artinya dibandingkan cengkeraman belasan arwah ini.
Botol itu semakin dekat ke bibirku. Aku bisa melihat uap tipis keluar dari dalamnya, menandakan betapa korosifnya cairan itu. Di layar ponsel, komentar-komentar berubah menjadi riuh dengan emot***n tepuk tangan dan tawa. Mereka tidak sabar melihat kehancuranku.
"Satu tegukan untuk kekayaan abadi," bisik suara itu lagi.
Ujung botol kaca yang dingin menyentuh gigiku. Aku mencoba mengatupkan rahang, tapi sebuah tangan kurus dengan kuku panjang ma**k ke dalam mulutku, menarik lidahku paksa hingga aku tersedak. Rasa takut yang murni, yang belum pernah kurasakan seumur hidupku, meledak di dada.
Cairan ungu itu mulai mengalir keluar dari botol. Setetes jatuh di daguku, dan seketika aku merasakan sensasi terbakar yang luar biasa, seolah-olah dagingku disundut besi panas. Aku ingin berteriak, tapi yang keluar hanyalah suara erangan tertahan.
Tepat saat cairan itu mulai ma**k ke dalam kerongkonganku, lampu *ring light*-ku tiba-tiba meledak.
Kegelapan total menyergap. Satu-satunya cahaya yang tersisa hanyalah pendar redup dari layar ponsel yang masih menampilkan angka *viewers* yang melonjak ke angka tiga juta. Dan dalam kegelapan itu, aku menyadari sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada rasa sakit di kerongkonganku.
Aku tidak lagi merasa mereka memaksaku. Aku merasa... aku mulai menginginkannya.
Ada suara lain di dalam kepalaku, ribuan suara yang berbisik serempak, *"Jadilah wadah kami, Raditya. Jadilah rumah kami."*
Aku meraih botol itu dengan tanganku sendiri, menenggaknya habis sementara perutku mulai terasa seperti terbakar api neraka. Namun, di tengah siksaan itu, aku melihat ke arah kamera ponsel yang masih menyala di lant**. Di sana, di pantulan layar yang retak, wajahku bukan lagi wajahku.
Kulitku mulai memucat, dan di balik mataku, aku melihat ribuan wajah lain berebut untuk mengintip keluar.
"Guys..." suaraku keluar, bukan lagi satu, melainkan paduan suara dari banyak jiwa yang tersiksa. "Kalian... suka pertunjukannya?"
Rasa sakit itu mendadak hilang, digantikan oleh kekosongan yang dingin dan lapar. Aku menoleh ke arah pintu yang terkunci, tapi kali ini, aku tidak ingin keluar. Aku ingin mereka semuaβsemua penonton yang ada di balik layar ituβmerasakan apa yang sedang kurasakan sekarang.
Satu notifikasi terakhir muncul di layar sebelum ponsel itu mati total.
**[TANTANGAN BERHASIL. MEMULAI PROSES INTEGRASI TUBUH...]**
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!