Napas Raditya memburu, pendek dan kasar. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya, mengaburkan pandangan yang sudah c**up kacau oleh cahaya redup dari lampu ponselnya. Ia berhenti sejenak, bersandar pada dinding koridor yang catnya mengelupas seperti kulit mati. Bau karbol yang bercampur dengan aroma amis samar menusuk hidungnya, membuat perutnya mual.
"Kalian lihat ini?" Raditya mengangkat ponselnya dengan tangan yang gemetar. Kamera itu menangkap wajahnya yang pucat, mata yang terbelalak, dan latar belakang koridor Rumah Sakit Medika yang tampak tak berujung. "Pintu depan terkunci. Oke, gue akui, ini trik yang g***. Tapi gue nggak akan terjebak di sini."
Di layar ponselnya, angka penonton terus bergerak naik dengan kecepatan yang tidak ma**k akal. *1.200.000 Viewers*. Komentar-komentar meluncur terlalu cepat untuk dibaca, namun beberapa nama pengguna yang tertulis dengan huruf merah mencolok tetap tertangkap matanya.
*@PasienKamar402: Lari sejauh apa pun, kau tetap di sini.*
*@TanpaWajah: Aku ingin kakimu, Raditya. Kakiku sudah hancur sejak kecelakaan itu.*
Raditya menelan ludah, mengabaikan komentar-komentar itu meski bulu kuduknya berdiri tegak. "Gue bakal cari jendela. Atau atap. Bangunan tua kayak gini pasti punya celah," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada penontonnya.
Ia mulai berlari lagi. Sepatu ketsnya beradu dengan lant** linoleum yang lengket, menciptakan bunyi *plok-plok* yang menggema di kesunyian malam. Ia melewati sebuah b**nkar berkarat yang tergeletak miring di tengah jalan. Radit melompatinya, nyaris tersandung, lalu terus memacu langkahnya menuju ujung koridor di mana sebuah jendela besar seharusnya berada.
Namun, saat ia sampai di sana, jantungnya seolah berhenti berdetak.
Tidak ada jendela. Di tempat yang seharusnya merupakan kaca transparan menuju dunia luar, kini hanya ada dinding beton yang kasar dan kusam. Raditya meraba dinding itu dengan telapak tangannya yang basah. Dingin. Dan nyata.
"Sial! Tadi di sini ada jendela! Gue yakin tadi ada jendela!" teriaknya frustrasi. Ia mengarahkan kamera ponselnya ke dinding itu. "Lihat! Ini g***! Siapa pun yang melakukan ini, ini nggak lucu! Gue bisa tuntut kalian semua!"
Sebuah notifikasi donasi muncul di layar, diiringi suara denting koin yang nyaring namun terdengar seperti suara tulang yang patah.
*@DonaturMaut memberikan 5.000 Soul Coins: "Cari lagi, Raditya. Labirin ini baru saja dimulai. Hadiahmu menanti di lant** atas."*
Raditya memaki pelan. Ia berbalik dan berlari menuju tangga darurat. Ia menaiki anak tangga dengan tergesa, dua langkah sekaligus. Napasnya tersengal, dadanya terasa panas seperti terbakar. Pikirannya hanya terfokus pada satu hal: mencapai atap. Dari atap, ia bisa melompat ke pohon besar di samping gedung atau berteriak minta tolong ke arah jalan raya.
Ia sampai di lant** tiga. Ia terus berlari, melewati ruang perawat yang gelap, menuju tangga berikutnya. Empat. Lima. Enam.
Raditya berhenti, lututnya lemas. Ia menatap papan penanda di samping pintu besi di hadapannya.
*Lant** 2 - Ruang Radiologi.*
"Apa?" bisiknya tak percaya. "Gue tadi naik... gue udah naik empat lant**. Kenapa gue balik ke lant** dua?"
Ia mencoba tenang. Mungkin ia salah hitung karena panik. Ia kembali mema**ki koridor, memutuskan untuk mencoba arah yang berbeda. Ia berlari melewati pintu-pintu kamar pasien yang tertutup rapat, hingga ia melihat sesuatu yang membuatnya terpaku.
Sebuah b**nkar berkarat yang tergeletak miring di tengah jalan.
Raditya mendekati b**nkar itu dengan langkah gont**. Ia mengenali noda karat yang membentuk pola menyerupai wajah di sisi sampingnya. Ini b**nkar yang sama dengan yang ia lewati sepuluh menit yang lalu.
"Nggak mungkin..." ia terengah, menyeka keringat di dahinya. "Gue cuma lurus. Gue nggak muter balik."
Layar ponselnya berkedip-kedip. *Glitch* digital mengaburkan gambarnya sejenak, digantikan oleh wajah-wajah pucat yang muncul sekilas di antara sela-sela piksel.
"Kalian lihat kan? Gue dijebak!" Raditya berteriak ke arah kamera, suaranya mulai pecah karena histeria. "Siapa pun kalian, sultan mana pun yang bayar untuk semua *prank* ini, hentikan! Gue mau keluar! Ambil semua duitnya, gue nggak butuh!"
Tiba-tiba, suara tawa lirih terdengar dari arah belakangnya. Bukan satu suara, melainkan puluhan, ratusan suara yang tumpang tindih. Suara itu terdengar seperti gesekan kertas amplas, kering dan menyakitkan.
Raditya memutar tubuhnya dengan cepat, mengarahkan lampu ponselnya ke arah koridor gelap di belakangnya. Kosong. Hanya ada bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding seiring tangannya yang gemetar.
Namun, saat ia melihat kembali ke layar ponselnya, ia melihat sesuatu yang tidak ada di depan matanya. Melalui lensa kamera, di koridor yang tampak kosong itu, berdiri ratusan sosok berpakaian rumah sakit yang lusuh. Mereka berdiri diam, menunduk, memenuhi seluruh lebar koridor, hanya beberapa meter darinya.
Layar ponselnya kembali memunculkan notifikasi tantangan:
*MISI BARU: Jangan Menoleh ke Belakang. Berlarilah menuju Lift yang Terbuka. Imbalan: 1 Miliar Rupiah.*
Bersamaan dengan itu, bunyi denting lift yang terbuka terdengar dari ujung koridor yang lainβujung yang seharusnya buntu. Raditya menoleh dan melihat pintu lift tua itu terbuka, memuntahkan cahaya kuning pucat yang redup.
Radit tak punya pilihan. Ia berlari sekuat tenaga menuju lift itu. Namun, setiap langkah yang ia ambil seolah tidak mendekatkannya pada tujuannya. Lant** di bawah kakinya terasa seperti ban berjalan yang bergerak ke arah berlawanan.
"Ayo... ayo dong!" rintihnya.
Tiba-tiba, ia merasakan sesuatu yang dingin dan lembap menyentuh pergelangan kakinya. Raditya melirik ke bawah dan melihat tangan-tangan pucat mulai muncul dari celah-celah ubin lant**, mencengkeram sepatunya.
Ia meronta, menendang-nendang dengan kalap hingga salah satu sepatunya terlepas. Dengan kaki yang tinggal sebelah beralas kaki, ia memaksakan diri melompat ke dalam lift tepat sebelum pintu besinya menutup dengan suara dentuman keras.
Raditya tersungkur di lant** lift yang dingin, terengah-engah, dadanya naik turun dengan liar. Ia selamat. Untuk sesaat, ia merasa aman.
Ia mengangkat ponselnya, hendak menyapa penontonnya lagi dengan kesombongan yang tersisa. "Gue... gue berhasil..."
Namun, kalimatnya terhenti saat ia melihat pantulan dirinya di dinding lift yang terbuat dari *st**nless steel* yang kusam. Di dalam pantulan itu, ia tidak sendirian. Lift yang sempit itu tampak penuh sesak oleh sosok-sosok yang kini tidak lagi menunduk, melainkan menatapnya dengan mata yang telah menghilang, menyisakan lubang hitam yang dalam.
Dan pintu lift itu tidak bergerak naik. Layar indikator lant** di atas pintu menunjukkan angka yang terus bergerak mundur dengan cepat.
*2... 1... B1... B2...*
Raditya menyadari dengan ngeri, lift ini tidak membawanya ke atap. Lift ini membawanya jauh ke bawah tanah, ke tempat di mana cahaya tak lagi sanggup menjangkau.
*Ting.*
Pintu terbuka, dan aroma busuk daging yang membusuk langsung menyergap indranya.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!