Layar ponsel itu berdenyut. Bukan sekadar getaran notifikasi biasa, melainkan denyutan ritmis yang terasa seperti detak jantung di telapak tanganku. Cahayanya yang biru pucat menyinari wajahku, membuat kulitku tampak seputih mayat di tengah kegelapan koridor Rumah Sakit Medika yang pengap. Angka penonton di sudut kiri atas layar terus merayap naik—3,4 juta viewers—dan setiap detiknya, kolom komentar mengalir deras layaknya air bah yang kotor.
*“Hancurkan saja, Radit! Akhiri ritualnya!”* suara batin itu berteriak, mengalahkan bisikan-bisikan halus yang sedari tadi merayap di telingaku.
Aku menatap ponsel si**** itu dengan kebencian yang mendidih. Benda ini bukan lagi tiketku menuju kekayaan; benda ini adalah lintah yang sedang menghisap nyawaku. Jemariku yang gemetar menggenggam tepian ponsel dengan erat. Keringat dingin mengucur dari pelipis, membasahi kerah jaketku yang sudah berdebu.
“Pers**** dengan uang ini,” desisku. Suaraku parau, nyaris tak terdengar.
Aku mengangkat ponsel itu tinggi-tinggi. Di layarnya, komentar-komentar dari para ‘penonton’ mendadak berhenti. Keheningan digital itu terasa lebih mengerikan daripada cacian. Aku mengayunkan lenganku dengan seluruh tenaga yang tersisa, menghantamkan layar Gorilla Glass itu ke sudut tajam meja besi perawat yang sudah berkarat di sampingku.
*B**KK!*
Bukannya bunyi kaca pecah yang kudengar, justru suara tulang berderak yang menggema di dalam dadaku.
“Agh!” aku tersungkur, lututku menghantam lant** semen yang dingin.
Rasa sakit yang luar biasa menusuk tepat di ulu hati, seolah-olah seseorang baru saja menghantam dadaku dengan palu godam. Napas kurasai terputus. Oksigen seakan enggan ma**k ke paru-paruku. Aku terbatuk hebat, dan rasa amis darah mulai memenuhi rongga mulutku.
Aku menoleh ke arah ponsel yang tergeletak di lant**. Layarnya sama sekali tidak retak. Tidak ada goresan sedikit pun. Cahayanya justru semakin terang, berpendar dengan warna merah darah yang jahat. Di layar itu, sebuah pesan donasi muncul dengan nominal yang fantastis, disert** ikon wajah tertawa yang menyeramkan.
**[Donasi 500 Juta: “Jangan mencoba memutus kontrak, Raditya. Tubuhmu sudah menjadi server kami.”]**
“Si****… apa-apaan ini?” gumamku sambil berusaha bangkit, tangan satu memegangi dada yang terasa sesak.
Aku tidak mau percaya. Ini pasti halusinasi akibat kelelahan. Aku meraih kaki kursi kayu yang sudah patah di sudut ruangan. Dengan amarah yang bercampur rasa takut yang amat sangat, aku kembali mendekati ponsel itu. Aku akan menghancurkannya, menghancurkan portal terkutuk ini.
Aku mengangkat kaki kursi itu dengan kedua tangan dan menghujamkannya tepat ke tengah layar ponsel.
*KRAK!*
Kali ini, rasa sakit itu bukan lagi sekadar hantaman. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang merogoh ke dalam perutku dan meremas ginjal serta lambungku hingga lumat. Aku menjerit histeris, suaraku menggema di lorong rumah sakit yang sepi, memantul di antara dinding-dinding berjamur. Tubuhku melilit di lant**, meringkuk seperti janin.
Setiap kali aku membayangkan retakan pada layar itu, aku merasakan sensasi kulitku yang robek. Aku bisa merasakan cairan hangat merembes di balik bajuku. Saat aku memberanikan diri meraba perutku, tidak ada luka terbuka, namun rasa perihnya begitu nyata, seolah-olah organ dalamku sedang dihancurkan secara paksa.
Ponsel itu masih di sana. Tegak. Utuh.
“Berhenti… tolong berhenti…” rintihku pada layar yang kini menampilkan ribuan emoji mata yang berkedip serempak.
Aku menyadari satu kenyataan yang lebih mengerikan dari kematian itu sendiri. Ponsel ini bukan lagi alat streaming. Melalui aplikasi *Soul Stream*, benda ini telah menyatu dengan eksistensiku. Hardware-nya adalah tulangku, sirkuitnya adalah sarafku, dan baterainya adalah jantungku. Menghancurkannya berarti melakukan bunuh diri dengan cara yang paling menyakitkan.
Tiba-tiba, ponsel itu bergetar lagi. Sebuah notifikasi pop-up muncul, menutupi aliran komentar.
**[TANTANGAN BARU: “Update Status.”]**
**[Deskripsi: Ambil foto bagian tubuhmu yang paling berharga dan unggah ke feed. Hadiah: 1 Miliar Rupiah & Akses Pintu Keluar Darurat Lant** 3.]**
**[Sisa Waktu: 05:00]**
Pintu keluar. Kata-kata itu berdenyut di kepalaku seperti oase di tengah gurun. Tapi aku tahu ada harga yang harus dibayar. Penonton gaib ini tidak menginginkan foto selfie biasa. Mereka menginginkan sesuatu yang lebih ‘fisik’.
Aku menatap layar, lalu menatap bayanganku yang terpantul di kaca jendela yang buram. Wajahku tak lagi tampak seperti Radit si influencer sukses. Aku tampak seperti mangsa yang sedang dikuliti hidup-hidup oleh jutaan pasang mata.
Di ujung koridor yang gelap, suara langkah kaki yang terseret mulai terdengar. Bukan satu, tapi puluhan. Ratusan. Arwah-arwah itu mulai mendekat, tertarik oleh cahaya ponselku yang kini berfungsi seperti mercusuar bagi jiwa-jiwa yang lapar.
“Mereka sudah datang,” bisikku, air mata mulai mengalir membasahi pipi.
Aku melihat ke arah ponsel. Tombol kamera di aplikasi itu berkedip-kedip, seolah-olah memanggilku untuk menekannya. Tanganku bergerak sendiri, seakan ada benang-benang halus yang menggerakkan ototku di bawah kulit.
Layar ponsel itu kini menampilkan fitur kamera depan. Namun, di layar itu, aku tidak sendirian. Di belakang pundakku, terpantul sosok pucat dengan leher yang terkulai patah, ikut menatap ke arah kamera dengan seringai yang merobek pipinya.
“Tinggal pilih, Radit,” bisik sebuah suara dingin tepat di telingaku, bukan berasal dari ponsel, melainkan dari kegelapan di belakangku. “Duitnya, atau nyawamu yang kami cicil satu per satu?”
Jempolku gemetar di atas tombol *shutter*. Jika aku menekannya, aku tidak tahu bagian tubuh mana yang akan ‘diambil’ sebagai biaya unggahan. Namun jika aku diam saja, ribuan penonton yang kini sudah mulai menampakkan wujudnya di koridor itu akan melakukan ‘check-out’ langsung dari kulitku.
Aku menelan ludah, merasakan sensasi logam berkarat di tenggorokan, saat sosok di belakangku mulai meletakkan tangannya yang dingin dan transparan di atas bahuku. Kesadaranku mulai kabur, namun satu hal yang pasti: siaran ini belum boleh berakhir, setidaknya sampai mereka mendapatkan apa yang mereka beli.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!