Dentuman bas dari pengeras suara di sudut ruangan terasa sampai ke tulang rusukku, menciptakan getaran tidak nyaman yang seirama dengan denyut di pelipisku. Ruang tamu rumah Sherly malam ini disulap menjadi lant** dansa amatir yang pengap. Bau campuran parfum mahal, keringat, dan aroma sisa piza dingin mengambang di udara, mencekik indra penciumanku.
Aku menggeser dudukku di sofa beludru yang terasa gatal di kulit kaku lenganku. Di depanku, teman-teman sekelasku—atau lebih tepatnya, orang-orang yang berbagi ruang kelas denganku selama dua tahun terakhir—sedang tertawa keras, saling melempar lelucon yang tidak kupahami, dan sesekali bersulang dengan gelas plastik merah di tangan.
"Mika! Kok malah mojok? Sini dong, gabung!" Sherly, sang pemilik acara, berteriak di antara kebisingan. Gaun satin peraknya berkilauan terkena lampu sorot warna-warni yang ia sewa khusus untuk pesta ulang tahunnya yang ke-17.
Aku memaksakan sebuah lengkungan di bibir—gerakan otot yang lebih mirip seringai kesakitan daripada senyuman. "Gue lagi nunggu pesan penting, Sher. Bentar lagi ya!"
Bohong. Tidak ada pesan penting. Satu-satunya notifikasi di ponselku hanyalah peringatan baterai lemah dan pembaruan aplikasi yang tidak kupedulikan. Sherly hanya mengangguk sekilas sebelum ditarik oleh kerumunan lain yang ingin berfoto dengannya. Aku menghela napas lega saat perhatiannya teralih.
Aku kembali menunduk, menatap layar ponsel yang meredup. Cahaya putihnya memantul di kacamataku, menjadi satu-satunya perisai yang memisahkanku dari dunia luar yang terlalu berisik ini. Jariku bergerak secara otomatis, membuka aplikasi Instagram.
Bukan untuk melihat *story* orang lain yang penuh dengan kemewahan palsu atau tawa yang dipaksakan. Aku menekan ikon profilku, lalu mengetuk lingkaran hijau di sekeliling foto profil—fitur *Close Friends*.
Di sana, hanya ada satu nama. Sebuah akun tanpa foto profil, dengan nama pengguna yang hanya terdiri dari deretan angka acak dan kata 'Kosong'. Akun milik Sarah, mantan sahabatku yang pindah ke luar negeri tiga tahun lalu dan tidak pernah lagi membalas pesanku. Akun itu sudah lama mati, membeku dalam waktu, menjadi semacam lubang hitam di semesta digital.
Bagiku, akun itu adalah kotak hitam pesawat yang jatuh. Tempat aku menyimpan segala kejujuran yang tidak laku di dunia nyata.
Aku membuka kamera Instagram, memotret sepatuku yang ternoda tumpahan minuman di lant** yang lengket. Aku menambahkan teks kecil di pojok bawah, jenis tulisan yang nyaris tidak terlihat jika tidak diperhatikan dengan teliti.
*Kadang aku merasa seperti hantu di ruangan yang penuh orang hidup. Mereka bicara, tapi suaranya seperti dengungan lalat. Aku ingin pulang, tapi aku bahkan tidak tahu 'pulang' itu ke mana.*
Aku menekan tombol kirim ke *Close Friends*.
Seketika, ada rasa lega yang dingin menjalar di dadaku. Seperti baru saja memuntahkan racun yang mengendap di kerongkongan. Aku tahu tidak akan ada yang melihatnya. Tidak akan ada yang memberikan komentar simpati yang dangkal atau bertanya "Kamu oke?" hanya untuk formalitas. 'Kosong' adalah pendengar terbaik karena dia tidak bisa menghakimi.
"Mikaela?"
Aku tersentak, nyaris menjatuhkan ponselku ke lant** yang basah. Aku mendongak dan menemukan Arga berdiri tak jauh dariku. Dia adalah cowok yang duduk di pojok belakang kelas, tipe orang yang kehadirannya sering kali baru disadari saat guru mengabsen. Rambut hitamnya agak berantakan, dan dia mengenakan jaket *hoodie* hitam yang tampak terlalu panas untuk pesta ini.
"Oh, Arga. Lo... baru datang?" tanyaku, mencoba menormalkan suaraku yang agak serak.
Dia tidak menjawab langsung. Matanya menatapku dengan intensitas yang aneh—datar, tapi seolah sedang membaca sesuatu di dahiku. "Gue dari tadi di sini. Di belakang sofa ini."
Aku menelan ludah. Berapa banyak yang dia dengar? Atau lebih buruk lagi, apakah dia melihat apa yang baru saja aku unggah? Tidak mungkin. Dia bahkan tidak ada di daftar pengikutku, apalagi di daftar *Close Friends*-ku.
"Gue mau ke toilet," gumamku asal, segera berdiri tanpa menunggu responsnya.
Aku melangkah cepat menembus kerumunan, mengabaikan senggolan bahu dan aroma parfum yang menusuk. Aku butuh udara. Aku butuh kesunyian yang sesungguhnya.
Aku menemukan diriku di balkon lant** dua yang sepi. Angin malam Jakarta yang lembap menerpa wajahku, membawa aroma aspal dan sisa hujan. Di bawah sana, lampu-lampu kota berkedip seperti bintang yang jatuh ke bumi.
Aku mengeluarkan ponsel lagi. Kebiasaanku kambuh. Saat merasa terpojok, aku menulis. Itu adalah satu-satunya cara agar kepalaku tidak meledak. Aku mengambil foto langit malam yang tanpa bintang, hanya awan kelabu yang menggantung rendah.
*Semua orang di sini memakai topeng yang sangat indah sampai aku merasa bersalah karena hanya punya wajah yang rusak. Aku benci berpura-pura. Aku benci harus ada di sini. Aku ingin menghilang sebentar saja.*
Klik. Terkirim lagi ke 'Kosong'.
Aku menyandarkan siku di pagar balkon, memejamkan mata, dan membiarkan suara musik dari bawah menjadi latar belakang yang samar. Selama setahun terakhir, aku sudah mengunggah ratusan cerita seperti ini. Tentang ketakutanku akan masa depan, tentang rasa sakit hatiku saat ayah pergi, tentang betapa aku merasa tidak berharga setiap kali melihat cermin.
'Kosong' adalah saksi bisu dari setiap luka yang kupunya. Dia adalah satu-satunya yang tahu bahwa Mikaela Putri yang pintar dan sinis di sekolah sebenarnya hanyalah gadis kecil yang ketakutan.
Ponsel di tanganku bergetar.
Aku mengernyit. Mungkin itu notifikasi dari operator atau promosi makanan. Aku membuka layar kunci dengan malas.
Jantungku rasanya berhenti berdetak saat itu juga.
Ada sebuah notifikasi di bagian atas layar. Bukan dari operator. Bukan dari akun iklan.
*@4772_Kosong membalas cerita Anda.*
Tanganku gemetar hebat. Nafasku tertahan di tenggorokan. Akun itu... akun yang sudah mati selama tiga tahun, yang tidak pernah memiliki aktivitas apa pun, baru saja mengirimkan pesan.
Dengan jari yang kaku, aku mengetuk notifikasi itu.
Kotak ma**k terbuka. Di bawah unggahan fotoku yang baru saja kukirim, ada sebaris tulisan singkat yang membuat seluruh tubuhku meremang.
*Aku mendengarmu.*
Aku menoleh ke belakang dengan cepat, menatap pintu kaca balkon yang tertutup. Di balik kaca itu, di tengah keramaian pesta yang berpendar remang, aku melihat sesosok bayangan berdiri diam di dekat meja minuman, menatap lurus ke arahku dengan ponsel di tangannya.
Itu Arga. Dan di wajahnya yang biasanya tanpa ekspresi, kini terpancar sesuatu yang membuatku ingin lari sejauh mungkin: pengakuan.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!