Layar ponselku yang berpendar terang di tengah kegelapan kamar terasa seperti pisau yang siap menguliti lapisan pelindung yang kubangun susah payah. Sudah tiga hari. Tiga hari sejak balasan singkat dari Arga menghancurkan ilusi privasi yang selama setahun ini kupuja-puja. Jari jempolku tertahan, menggantung ragu di atas ikon lingkaran hijau dengan bintang putih di tengahnyaβfitur *Close Friends* yang kini terasa seperti lubang hitam yang siap menelanku hidup-hidup.
Biasanya, jam segini aku sudah mengunggah setidaknya tiga atau empat cerita. Mulai dari foto langit malam yang buram, kutipan puisi yang menyayat, hingga curhatan panjang lebar tentang betapa menyesakkannya bernapas di antara orang-orang yang hanya memandangku sebagai 'si pintar yang aneh'. Tapi sekarang, setiap kali aku ingin mengetikkan satu kata saja, wajah Arga yang datar dan tatapan matanya yang seolah bisa menembus dinding pertahananku selalu muncul.
"Aku mendengarmu," bisiknya dalam ingatanku, mengulangi pesan singkat yang meruntuhkan duniaku.
Aku melempar ponsel itu ke atas ka**r, seolah benda itu baru saja menyengat kulitku. Aku bangkit dan berjalan menuju jendela, menatap lampu-lampu jalanan yang temaram. Dadaku terasa sesak, ada gumpalan kata-kata yang menyangkut di tenggorokanku, menuntut untuk dikeluarkan. Menulis di *Close Friends* bukan sekadar hobi bagiku; itu adalah katarsis. Itu adalah satu-satunya cara aku tetap waras saat dunia nyata terasa terlalu berisik dan palsu.
Tanpa fitur itu, aku merasa seperti sebuah botol yang terus-menerus diisi air hingga hampir pecah.
Keesokan harinya di sekolah, semuanya terasa sepuluh kali lebih berat. Di koridor, aku berpapasan dengan Arga. Dia tidak melakukan apa-apa. Tidak menyapa, tidak tersenyum misterius, bahkan tidak melirikku lebih dari satu detik. Dia hanya berjalan melewatiku dengan tas ransel tersampir di satu bahu, tampak tenang seolah dia tidak baru saja memegang kunci ke gudang rahasiaku.
Justru ketenangannya itulah yang membuatku g***. Apakah dia sedang menungguku memposting sesuatu lagi? Apakah dia menertawakanku dalam diam, membayangkan betapa menyedihkannya gadis ini yang curhat pada akun mati?
"Mika, fokus. Halaman empat puluh dua," suara Bu Lastri memecah lamunanku.
Aku tersentak, mengerjapkan mata dan mendapati seluruh kelas menoleh ke arahku. Aku buru-buru menunduk, membolak-balik buku paket biologi dengan tangan gemetar. Di sudut mataku, aku bisa merasakan keberadaan Arga yang duduk tiga baris di belakangku. Aku bisa merasakan kehadirannya seperti muatan listrik statis yang membuat bulu kudukku berdiri.
Istirahat siang, aku bersembunyi di pojok perpustakaan yang paling terpencil, di balik rak buku sejarah yang jarang disentuh orang. Aku mengeluarkan ponsel. Kebiasaanku untuk mengeluh tentang tatapan teman sekelas atau betapa aku benci menjadi pusat perhatian mulai merayap kembali. Tanganku secara otomatis membuka aplikasi Instagram. Aku mengambil foto debu yang menari-nari di bawah sinar matahari yang menembus jendela perpustakaan.
Aku mulai mengetik: *Rasanya aneh ketika tempat paling amanmu tiba-tiba terasa seperti panggung teater di mana hanya ada satu penonton, dan penonton itu adalah orang yang paling tidak kau inginkan...*
Aku berhenti. Jempolku gemetar di atas tombol 'Bagikan'.
*Jangan, Mika. Dia bakal tahu kau sedang membicarakannya,* batinku memperingatkan.
Tapi rasa butuh iniβkeinginan untuk divalidasi, untuk didengarkan, meskipun oleh orang yang salahβterasa sangat mendesak. Selama ini, aku mengira aku berbicara pada hantu mantan sahabatku yang sudah lama menghilang. Aku merasa aman karena hantu tidak bisa menghakimiku. Tapi Arga? Arga adalah manusia nyata. Dia ada di kelas yang sama denganku. Dia melihatku setiap hari.
Aku menghapus semua kata yang sudah kutik hingga layar kembali kosong. Aku mematikan ponsel dan menyandarkan kepala ke rak buku yang dingin. Rasa sepi yang biasanya terasa nyaman kini berubah menjadi kehampaan yang mencekik. Aku merasa seperti kehilangan suara. Selama setahun, aku membangun identitas rahasiaku di sana, dan sekarang, identitas itu terasa seperti barang bukti kejahatan yang bisa digunakan Arga untuk menghancurkanku kapan saja.
"Mika?"
Suara itu rendah dan tenang, tapi sanggup membuatku meloncat dari kursi. Aku menoleh cepat dan menemukan Arga berdiri di ujung rak, memegang sebuah buku tua yang sampulnya sudah mengelupas.
"Kenapa?" tanyaku, nada suaraku terdengar lebih defensif dan tajam dari yang kukira. Aku langsung mema**kkan ponsel ke kantong rok, seolah-olah itu adalah benda terlarang.
Arga tidak langsung menjawab. Dia mendekat beberapa langkah, menjaga jarak yang sopan namun c**up dekat untuk membuatku bisa mencium samar aroma detergen dari seragamnya. "Kau tidak memposting apa pun hari ini," ucapnya datar.
Jantungku rasanya mau copot. "Bukan urusanmu," desisku, berusaha mengumpulkan sisa-sisa keberanianku. "Kenapa kau masih melihatnya? Harusnya kau berhenti. Kau tahu itu bukan untukmu."
Arga menatapku dengan mata cokelat gelapnya yang sulit dibaca. Tidak ada ejekan di sana, tidak ada rasa kasihan yang merendahkan. Hanya ada sebuah rasa ingin tahu yang tenang. "Aku tidak bisa berhenti membaca sesuatu yang jujur, Mika. Di sekolah ini, kejujuran itu barang langka."
"Itu bukan kejujuran, itu kerapuhan yang memalukan!" suaraku naik satu oktav, dan aku segera menutup mulut saat menyadari kami masih di perpustakaan. "Jangan anggap apa yang kau baca itu sebagai sesuatu yang spesial. Aku hanya... aku hanya butuh tempat sampah untuk pikiranku."
Arga menyandarkan bahunya ke rak buku, melipat tangan di dada. "Lalu kenapa kau berhenti? Karena aku?"
"Iya! Karena kau tahu itu aku! Rasanya seperti aku te******* di depanmu, Arga. Kau tahu hal-hal yang bahkan orang tuaku tidak tahu. Kau tahu ketakutanku, trauma-traumaku... itu tidak adil."
"Aku tidak memintamu berhenti," kata Arga pelan. "Dan aku tidak berencana menggunakan apa pun yang kutahu untuk menyakitimu. Kau bisa terus bercerita. Anggap saja aku tetap akun anonim itu."
"Aku tidak bisa!" seruku, air mata frustrasi mulai menggenang di sudut mataku. "Setiap kali aku mau menulis, aku ingat wajahmu. Aku ingat kau adalah orang yang akan membaca kata-kataku. Aku tidak bisa bicara jujur kalau aku tahu ada orang nyata yang mendengarkan."
Aku menyambar tas ranselku dan bergegas pergi, menab**k bahunya dengan sengaja saat aku lewat. Aku berlari keluar dari perpustakaan, mengabaikan teguran petugas yang memintaku jangan berlari. Aku terus melangkah menuju toilet paling ujung di lant** dua, mengunci pintu bilik, dan duduk di atas kloset yang tertutup.
Napas membungkus dadaku dengan sesak. Aku mengeluarkan ponsel lagi. Jariku kembali ke lingkaran hijau itu. Aku butuh bercerita. Aku butuh mengeluarkan rasa marah, malu, dan bingung ini. Tapi Arga benar, di sekolah ini tidak ada yang jujur. Dan sekarang, satu-satunya tempat kejujuranku telah dicemari oleh kehadirannya.
Aku mulai mengetik dengan emosi yang meledak-ledak. Kali ini, aku tidak peduli jika dia membacanya. Mungkin ini cara terbaik untuk mengusirnya.
*Aku benci fakta bahwa kau mendengarku. Aku benci fakta bahwa sekarang setiap kata yang kutulis terasa seperti pengemis yang meminta perhatianmu. Berhenti membaca. Berhenti peduli. Biarkan aku sendirian dalam kegelapan ini, seperti sebelum kau muncul.*
Aku menekan tombol bagikan dengan kasar. Detik berikutnya, sebuah notifikasi muncul di bagian atas layarku. Bukan komentar, bukan balasan. Tapi sebuah pesan langsung (DM) dari akun anonim itu.
Jari-jariku membeku saat membaca baris pertama pesan itu.
*Kalau aku berhenti membaca, siapa lagi yang akan memastikan kau baik-baik saja saat kau merasa dunia ini terlalu berat?*
Ponselku hampir jatuh dari genggamanku. Dia tidak hanya mendengarkan. Dia... dia memperhatikanku dengan cara yang tidak pernah dilakukan orang lain. Dan yang paling menakutkan adalah, sebagian kecil dari diriku merasa lega karena dia melakukannya. Namun, rasa lega itu segera terkubur oleh ketakutan baru: Apa yang akan terjadi jika Arga memutuskan untuk tidak sekadar menjadi pendengar pasif lagi?
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!