Aroma kertas tua dan pembersih lant** kayu di perpustakaan biasanya menjadi tempat perlindungan paling aman bagiku. Di sini, di antara deretan rak buku tinggi yang seolah-olah memelukku, aku bisa menjadi tidak terlihat. Namun, pagi ini, barisan rak itu justru terasa seperti jeruji yang mengurungku.
Aku menunduk dalam-dalam, pura-pura sangat tekun membaca buku teks Biologi, padahal mataku tidak benar-benar menangkap urutan nukleotida di sana. Pikiranku masih tertinggal pada layar ponsel semalam. Kalimat *'Aku mendengarmu'* terus berputar di kepalaku seperti kaset rusak. Arga. Cowok yang duduk tiga bangku di belakangku, yang jarang bicara kecuali jika ditanya guru, ternyata adalah orang yang selama ini melihat setiap inci luka yang kupajang di *Close Friends*.
Lant** kayu di dekatku berderit. Aku menahan napas, mengeratkan pegangan pada pinggiran meja. Sepasang sepatu kets putih yang sudah agak dekil berhenti tepat di depan mejaku.
"Buku itu terbalik, Mika."
Suara itu rendah, tenang, dan tidak membawa nada ejekan. Aku tersentak, refleks membalik buku Biologiku dengan gerakan canggung yang membuat siku tanganku membentur meja. *B**k!* Suaranya menggema di keheningan perpustakaan.
Aku memberanikan diri mendongak. Arga berdiri di sana. Dia tidak memakai jaket *hoodie* seperti biasanya, hanya seragam sekolah yang lengannya digulung asal-asalan sampai siku. Tatapannya datar, tapi ada sesuatu di kedalaman matanya yang membuatku merasa seperti sedang dite*******i. Bukan secara fisik, tapi secara jiwa.
"Mau apa?" tanyaku, suaraku keluar lebih ketus dari yang kubayangkan. Ini adalah mekanisme pertahananku—berduri agar tidak disentuh.
Arga tidak lari atau tersinggung. Dia justru menarik kursi di depanku dan duduk tanpa izin. "Hanya ingin duduk. Di sana terlalu silau," ucapnya sambil menunjuk jendela besar di sisi lain ruangan.
"Banyak kursi lain," balasku pendek.
"Tapi yang ini yang paling dekat denganku sekarang." Arga meletakkan sebuah kotak susu cokelat kecil di atas mejaku, mendorongnya perlahan dengan telunjuknya sampai benda itu berhenti tepat di depan tanganku. "Wajahmu pucat. Kamu belum s****an, kan?"
Aku menatap kotak susu itu seolah-olah benda itu adalah bom waktu. Bagaimana dia tahu? Apa semalam aku mengunggah cerita tentang lambungku yang perih karena tidak nafsu makan? Aku mencoba mengingat-ingat, tapi kepalaku terlalu penuh.
"Jangan bera**msi seolah-olah kamu kenal aku," bisikku tajam, mataku melirik ke sekeliling, takut ada yang melihat interaksi aneh ini.
Arga menyandarkan punggungnya, melipat tangan di depan dada. "Aku tidak bera**msi. Aku cuma melihat apa yang ada di depanku."
Keheningan yang menyesakkan menyelimuti kami. Aku ingin pergi, tapi kakiku terasa lemas. Arga tidak membicarakan tentang Instagram. Dia tidak menyinggung soal pengakuanku tentang rasa kesepian atau tentang bagaimana aku membenci diriku sendiri saat bercermin. Dia hanya duduk di sana, hadir secara nyata, menghancurkan tembok yang selama setahun ini kubangun dengan aman di dunia digital.
"Mika? Arga?"
Suara melengking itu memecah keheningan. Aku tersentak. Di ujung rak, berdiri Celine—ratu media sosial sekolah kami—bersama dua temannya yang selalu mengekor seperti bayangan. Celine menatap kami dengan alis tertaut, ponsel mahal di tangannya seolah siap memotret apa pun yang dianggapnya skandal.
"Kalian sedang apa di sini? Berdua?" Celine melangkah mendekat, matanya menyapu kotak susu di mejaku lalu beralih ke wajah Arga yang tenang.
"Hanya belajar," jawab Arga singkat, tanpa sedikit pun terlihat terganggu.
"Belajar?" Celine tertawa kecil, nada yang biasanya digunakan untuk merendahkan orang lain. "Mika, sejak kapan kamu punya teman belajar? Apalagi sejenis Arga yang... ya, kamu tahu sendiri, pendiam begini."
Aku merasakan hawa panas menjalar ke pipiku. "Bukan urusanmu, Celine."
"Wah, galak sekali," Celine melirik Arga, lalu kembali padaku. "Kalian terlihat... aneh. Maksudku, kalian tidak pernah bicara di kelas. Tiba-tiba di sini, di pojok perpustakaan yang gelap? Orang-orang mulai bertanya-tanya, tahu. Ada yang bilang kalian sering curi-curi pandang di kelas belakangan ini."
Jantungku berdegup kencang. *Curi-curi pandang?* Apa aku selemah itu dalam menyembunyikan kecemasanku? Aku melirik Arga, berharap dia akan membantah atau setidaknya merasa risi. Namun, Arga justru melakukan sesuatu yang tidak terduga.
Dia mengambil kembali kotak susu yang tadi dia berikan padaku, menusukkan sedotannya, lalu meletakkannya kembali di depanku.
"Minum, Mika. Kamu butuh tenaganya buat menghadapi gangguan seperti ini," ucap Arga tenang, matanya menatap Celine dengan tatapan yang sangat dingin hingga membuat gadis populer itu terdiam sejenak.
Celine mendengus, wajahnya memerah karena merasa terhina. "Terserahlah. Aku cuma mau bilang, jangan sampai gosip sampah tentang kalian merusak reputasi angkatan kita. Cowok aneh dan cewek antisosial... kalian benar-benar pasangan yang pas."
Setelah Celine dan rombongannya pergi dengan langkah kaki yang sengaja dihentak-hentakkan, aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan. "Kamu harusnya tidak melakukan itu," desis pelan. "Sekarang mereka akan terus mengawasi kita."
"Biarkan saja mereka melihat," balas Arga. Suaranya terdengar lebih dekat sekarang.
Aku menurunkan tanganku, menatapnya dengan rasa takut yang mulai bercampur dengan kemarahan. "Kenapa kamu melakukan ini, Arga? Di Instagram, kamu bisa melihatku diam-diam. Kenapa sekarang kamu muncul di dunia nyata? Kamu tahu kan, aku membuat *Close Friends* itu supaya aku tidak perlu menghadapi orang-orang seperti mereka?"
Arga mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak di antara kami. Bau parfumnya yang samar—seperti aroma hujan di atas aspal panas—menyerbu indra penciumanku.
"Karena di layar itu, kamu hanya terlihat seperti bayangan, Mika," bisiknya, matanya mengunci mataku. "Dan aku ingin tahu, apakah orang yang menulis semua hal sedih itu benar-benar punya keberanian untuk meminum susu cokelat pemberian orang asing."
Aku terpaku. Tanganku perlahan menyentuh kotak susu itu. Dinginnya menempel di kulitku, membuktikan bahwa ini bukan mimpi. Namun, saat aku baru saja ingin membuka mulut untuk membalasnya, ponselku di atas meja bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar kunci.
Bukan dari Instagram. Itu adalah pesan anonim di platform tanya-jawab sekolah yang baru saja diunggah dan ditandai ke namaku:
*“Ada yang tahu kenapa si 'Introvert Palsu' Mikaela tiba-tiba mendekati Arga? Apa ini taktik baru untuk cari perhatian?”*
Aku memandang Arga, lalu ke layar ponselku. Dunianya yang selama ini tersembunyi rapat, kini perlahan mulai dibongkar paksa oleh orang-orang yang paling aku takuti. Dan yang paling menakutkan adalah, aku tidak tahu apakah Arga akan membantuku membangun kembali tembok itu, atau justru dia yang akan merobohkannya sampai habis.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!