Hujan tipis membasahi kaca jendela perpustakaan, menciptakan pola aliran air yang tampak seperti air mata yang enggan jatuh. Aku menarik napas panjang, menghirup aroma kertas tua dan pembersih lant** yang tajam. Pikiranku masih kacau sejak Arga mengaku bahwa dialah satu-satunya pengikut di akun *Close Friends*-ku. Seharusnya aku marah. Seharusnya aku merasa dilecehkan. Namun, ada rasa aneh yang mengganjal di dadaku—rasa penasaran yang lebih kuat daripada rasa takut.
Arga duduk di sudut paling belakang, di balik rak buku ensiklopedia yang jarang disentuh. Dia tidak sadar aku mengamatinya dari kejauhan. Cowok itu selalu tampak seperti patung; dingin, tak tersentuh, dan diam. Tapi sore ini, ada sesuatu yang berbeda. Bahunya merosot, dan jemarinya yang panjang bergerak gelisah di atas sebuah buku sketsa besar bersampul hitam legam.
Aku melangkah mendekat, sengaja tidak menyembunyikan suara langkah kakiku. Arga tidak mendongak, bahkan ketika bayanganku jatuh menutupi kertasnya.
"Kenapa kamu melakukan itu?" suaraku keluar lebih parau dari yang kuharapkan.
Arga akhirnya mengangkat wajah. Matanya yang biasanya datar kini tampak seperti telaga keruh. Ada lingkaran hitam di bawah matanya, lebih gelap dari yang pernah kulihat sebelumnya. Dia tidak bertanya 'apa'. Dia tahu persis maksudku.
"Kenapa aku menontonmu?" tanyanya balik dengan suara rendah. Dia menutup buku sketsanya dengan gerakan cepat, tapi aku sempat menangkap kilasan goresan tinta hitam yang berantakan—seperti teriakan dalam bentuk visual.
"Bukan cuma menonton. Kamu membiarkan aku bicara pada tembok selama setahun, padahal kamu tahu itu semua rahasia terburukku. Kamu tahu betapa bencinya aku pada ibuku, betapa aku ingin menghilang, betapa aku merasa... kotor." Suaraku bergetar di akhir kalimat. "Kamu menjadikan aku tontonan, Arga."
Arga berdiri perlahan. Dia jauh lebih tinggi dariku, membuatku harus mendongak untuk menatap matanya. Tapi tidak ada sedikit pun keangkuhan di sana. Yang kulihat justru kehancuran yang selama ini ia tutup rapat-rapat di balik seragam sekolahnya yang rapi.
"Aku nggak pernah menganggap itu tontonan, Mika," katanya lembut, hampir seperti bisikan. Dia meletakkan buku sketsanya di meja, lalu menggesernya ke arahku. "Kamu pikir kamu satu-satunya orang yang butuh tempat sampah untuk semua rasa sakit itu?"
Tanganku gemetar saat menyentuh sampul buku itu. Arga tidak mencegahku saat aku membukanya. Halaman pertama hanya berisi coretan garis-garis tajam yang saling tumpang tindih. Tapi saat aku membalik ke halaman tengah, jantungku seolah berhenti berdetak.
Itu bukan sekadar gambar. Itu adalah potongan-potongan realita yang lebih gelap dari apa pun yang pernah aku unggah di Instagram. Ada sketsa seorang pria dewasa yang wajahnya dicoret-coret dengan tinta merah—mungkin ayahnya? Di bawahnya, ada tulisan tangan yang miring dan terburu-buru: *'Jangan bersuara. Kalau kamu diam, mereka tidak akan menyakitimu.'*
Halaman berikutnya lebih parah. Ada daftar tanggal, dan di samping setiap tanggal itu tertulis satu kata yang sama berulang kali: *'Gagal'*.
Aku menatap Arga dengan ngeri. "Arga, ini..."
"Aku juga punya 'Private Story' versiku sendiri, Mika. Bedanya, aku tidak punya keberanian untuk membagikannya pada siapa pun, bahkan pada satu orang asing pun di internet," Arga tertawa, tapi suara tawanya terdengar kering dan menyakitkan. "Waktu aku menemukan akunmu setahun lalu, aku pikir itu cuma akun spam biasa. Tapi saat aku membaca tulisanmu... tentang bagaimana rasanya merasa seperti orang asing di rumah sendiri... aku merasa seperti sedang membaca pikiranku sendiri."
Dia melangkah maju satu langkah, c**up dekat hingga aku bisa mencium aroma samar kopi dan sesuatu yang pahit—mungkin obat-obatan?
"Aku nggak menguntitmu karena aku jahat, Mika," lanjutnya, matanya kini berkaca-kaca, sebuah pemandangan yang hampir mustahil bagi seorang Arga yang dikenal tanpa emosi. "Aku mengikutimu karena hanya dengan membaca ceritamu, aku merasa tidak sendirian di lubang hitam ini. Kamu adalah satu-satunya orang yang membuatku merasa... normal. Karena ternyata, ada orang lain yang sama hancurnya denganku."
Aku terdiam. Kemarahan yang tadi meluap-luap di dadaku tiba-tiba surut, digantikan oleh rasa sesak yang menyesakkan paru-paru. Aku melihat bekas luka kecil di pangkal telapak tangannya—bekas luka lama yang baru saja kusadari. Kita berdua adalah dua orang yang berpura-pura baik-baik saja di bawah lampu neon sekolah yang terang, sementara di balik layar ponsel dan di dalam buku sketsa tersembunyi, kami sedang berteriak minta tolong.
"Kenapa kamu membalas unggahanku malam itu?" tanyaku, kini tanpa nada menuduh.
Arga menatap ke luar jendela, ke arah hujan yang semakin deras. "Karena malam itu, tulisanmu terdengar seperti sebuah perpisahan. Aku takut kalau aku tetap diam, besoknya aku nggak akan punya alasan lagi untuk bertahan hidup. Aku butuh tahu kalau kamu masih ada di sana."
Aku merasakan sesuatu pecah di dalam diriku. Bukan karena kecewa, tapi karena realitas pahit bahwa dunia ini ternyata memang sesakit itu bagi sebagian orang. Kami berdua bukan lagi subjek dan objek; bukan lagi pengunggah dan penonton. Kami adalah dua orang yang tenggelam dan saling berpegangan pada seutas benang yang sama.
Arga kemudian menarik sebuah botol plastik kecil dari saku celananya, menggenggamnya erat sampai buku-buku jarinya memutih. "Kamu tahu apa yang paling lucu? Orang-orang menganggapku jenius karena aku selalu diam. Padahal aku diam karena kalau aku bicara, aku takut semua racun di kepalaku akan keluar dan membunuh siapa pun yang mendengarnya."
Dia meletakkan botol itu di atas meja, di samping buku sketsanya. Itu adalah obat penenang dengan dosis tinggi. Nama di labelnya adalah namanya, tapi tanggal resepnya sudah sangat lama.
"Aku sudah lama berhenti meminumnya," bisiknya. "Tapi hari ini, aku hampir menyerah lagi."
Aku menatap botol itu, lalu menatap Arga. Ada sebuah tebing curam di antara kami, dan untuk pertama kalinya, aku merasa ingin melompat untuk mencapainya. Namun, sebelum aku sempat mengatakan apa pun, pintu perpustakaan terbuka dengan kasar.
Seorang guru piket berdiri di sana dengan wajah tidak sabar. "Mika? Arga? Kenapa masih di sini? Gerbang sekolah akan dikunci sepuluh menit lagi!"
Arga dengan cepat menyambar buku sketsa dan botol obatnya, mema**kkannya ke dalam tas dengan gerakan mekanis yang terlatih. Wajahnya kembali menjadi topeng datar yang dingin, seolah percakapan tadi tidak pernah terjadi.
Dia berjalan melewatiku tanpa sepatah kata pun. Namun, saat dia tepat berada di sampingku, tangannya menyentuh punggung tanganku sekilas—sebuah kontak fisik yang sangat singkat tapi terasa seperti sengatan listrik.
"Besok," bisiknya, sangat pelan hingga hanya aku yang bisa mendengar. "Jangan unggah apa pun tentang hari ini. Tolong."
Aku terpaku di tempat, memperhatikan punggungnya yang menjauh dan menghilang di balik lorong yang mulai gelap. Dia membawa rahasia besarku, dan kini, aku membawa rahasia besarnya yang jauh lebih mengerikan. Kami terikat oleh sesuatu yang lebih kuat dari sekadar 'Close Friends'. Kami terikat oleh rasa sakit yang saling mengenali.
Saat aku berjalan menuju gerbang, ponselku bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar. Bukan dari Arga, melainkan sebuah pesan anonim lain di DM Instagram-ku yang sudah lama terlupakan.
*‘Jangan percaya padanya, Mika. Arga tidak seperti yang kamu kira.’*
Langkahku terhenti tepat di bawah guyuran hujan. Jantungku kembali berpacu. Siapa lagi yang mengawasi kami?
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!