Aroma kopi yang dipanggang terlalu lama menyengat indra penciumanku, bercampur dengan bau hujan yang baru saja membasahi aspal di luar jendela kafe kecil ini. Aku mengaduk cangkir cokelat panasku untuk kelima kalinya, meski cairannya sudah tidak lagi mengeluarkan uap. Di depanku, Arga duduk dengan punggung tegak namun bahu yang tampak sant**—kontras yang selalu membuatku bingung.
Dia tidak sedang menatap ponselnya. Dia menatapku.
"Kamu selalu memutar sendok itu ke arah berlawanan jarum jam kalau lagi cemas," suara Arga memecah keheningan yang sejak sepuluh menit lalu menyelimuti meja kami. Suaranya rendah, tidak menuntut, tapi c**up untuk membuat gerakanku terhenti seketika.
Aku meletakkan sendok itu dengan denting kecil yang terdengar nyaring di telingaku. "Aku nggak sadar."
"Aku sadar. Aku membaca tulisanmu tentang bagaimana kamu benci suara hening di meja makan rumahmu, jadi kamu selalu mengetuk-ngetukkan kuku ke piring. Ini versi kafe-nya, kan?"
Aku menelan ludah. Rasanya aneh, sekaligus mengerikan, saat seseorang mengutip isi kepalaku yang selama ini kukunci rapat di *Close Friends*. Selama setahun, aku merasa aman karena mengira akun anonim itu hanyalah sebuah makam digital. Ternyata, itu adalah panggung, dan Arga adalah satu-satunya penonton yang setia di baris terdepan.
"Kenapa kamu nggak bilang dari awal?" tanyaku, memberanikan diri menatap matanya. "Kenapa membiarkan aku mengoceh sendirian seperti orang g*** selama berbulan-bulan?"
Arga menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang keras. Matanya yang biasanya dingin kini tampak sedikit lebih cair, seolah ada lapisan es yang mulai retak. "Awalnya, aku cuma penasaran. Akun itu muncul di saran pertemanan karena kita satu sekolah. Tapi setelah postingan ketiga... tentang bagaimana kamu merasa seperti bayangan di sekolah ini... aku merasa nggak punya hak untuk menginterupsi."
Dia menjeda sebentar, jemarinya mengetuk meja dengan ritme yang teratur. "Kamu nggak sedang bicara pada seseorang, Mika. Kamu sedang bicara pada dirimu sendiri. Kalau aku muncul lebih awal, kamu pasti akan langsung tutup pintu, kan?"
Aku terdiam. Dia benar. Jika aku tahu ada orang nyata di balik layar itu, aku pasti sudah menghapus akun tersebut dan menggantinya dengan dinding pertahanan yang lebih tebal.
"Lalu kenapa sekarang?" desakku.
"Karena tulisanmu minggu lalu," jawabnya pelan. "Tentang keinginanmu untuk menghilang supaya nggak perlu mengecewakan siapa pun lagi. Itu kedengaran... terlalu nyata untuk dibiarkan."
Aku memalingkan wajah ke arah jendela. Di luar, orang-orang berlarian menghindari sisa gerimis, sementara lampu jalan mulai menyala, memantulkan cahaya kuning di genangan air. Aku merasa te******* tanpa busana di depan cowok ini. Rahasiaku tentang kegagalan lomba esai yang membuat ayahku diam seribu bahasa, traumaku saat dikhianati sahabat SMP-ku, hingga rasa benci diriku sendiri saat bercermin—dia tahu semuanya.
"Aku juga punya satu," kata Arga tiba-tiba.
Aku menoleh kembali padanya. "Apa?"
"Rahasia. Sesuatu yang nggak pernah aku ceritakan ke siapa pun di sekolah. Bahkan ke tim basket atau guru-guru yang menganggap aku siswa teladan tanpa cela." Arga menarik napas panjang. Dia mengeluarkan sebuah buku sketsa kecil dari tasnya dan mendorongnya ke arahku.
Dengan tangan gemetar, aku membukanya. Di dalamnya bukan berisi strategi basket atau catatan pelajaran. Lembar demi lembar dipenuhi dengan gambar anatomi manusia yang terdistorsi, pemandangan kota yang hancur, dan coretan-coretan arang yang sangat gelap. Sangat kontras dengan imej Arga yang rapi dan terkendali.
"Ibuku ingin aku jadi dokter bedah, persis seperti kakek dan ayahku," bisik Arga. "Setiap kali aku memegang pensil ini, aku merasa sedang mengkhianati mereka. Bagiku, ini adalah cara untuk bernapas. Tapi bagi mereka, ini adalah sampah yang membuang waktu."
Aku menyentuh permukaan kertas yang kasar, merasakan guratan pensil yang ditekan dengan penuh emosi. "Ini bagus banget, Arga. Kenapa kamu sembunyikan?"
"Karena kalau mereka tahu, mereka akan mengambilnya dariku. Sama seperti mereka mengambil waktu bermainku saat kecil." Arga menatapku tajam. "Kita sama, Mika. Kita sama-sama punya dunia kecil yang kita bangun supaya nggak hancur oleh dunia luar."
Untuk pertama kalinya, rasa sesak di dadaku sedikit melonggar. Ada kehangatan aneh yang menjalar, mengetahui bahwa aku tidak sendirian dalam kesunyian ini. Senyum tipis muncul di bibirku tanpa sadar. Arga membalasnya dengan binar di matanya yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Namun, tepat saat aku merasa seolah-olah beban di pundakku terangkat, sebuah pikiran gelap merayap ma**k ke benakku. Pikiran yang selalu muncul setiap kali sesuatu yang baik terjadi dalam hidupku.
*Sampai kapan?*
Kebahagiaan bagiku selalu terasa seperti pinjaman dengan bunga yang mencekik. Arga sekarang duduk di sini, berbagi rahasia denganku, menatapku seolah aku adalah orang paling penting di dunia ini. Tapi bagaimana kalau ini hanya sementara? Bagaimana kalau setelah dia benar-benar mengenalku—bukan hanya lewat tulisan digital, tapi lewat interaksi nyata yang penuh cela—dia akan merasa bosan atau, lebih buruk lagi, merasa terbebani?
Aku menarik tanganku dari buku sketsanya, membuat jarak yang tidak terlihat namun terasa nyata di antara kami.
"Kenapa?" Arga menyadari perubahan reaksiku. "Ada yang salah?"
"Enggak," dustaku, meski suaraku sedikit bergetar. "Aku cuma... aku cuma merasa ini terlalu aneh. Kamu tahu terlalu banyak tentangku, Arga. Dan aku baru tahu satu hal tentangmu. Ini nggak seimbang."
"Aku bisa cerita semuanya, Mika. Kita punya banyak waktu," ujarnya dengan nada meyakinkan.
Aku menggeleng pelan, merapatkan jaket ke tubuhku. "Waktu itu menipu. Hari ini kita bisa duduk di sini, saling percaya. Besok? Mungkin kamu sadar kalau berteman denganku itu melelahkan. Aku ini... aku ini sulit, Arga. Kamu sendiri yang membacanya di *Close Friends*."
Arga hendak membalas, tapi ponselku di atas meja bergetar hebat. Sebuah notifikasi muncul di layar yang terkunci. Bukan dari Instagram, melainkan dari grup chat kelas yang biasanya aku senyapkan.
*“Ada yang lihat postingan terbaru di akun anonim 'DeepBlueMika'? Kayaknya itu punya anak kelas kita deh. Coba cek deh, parah banget isinya.”*
Jantungku seolah berhenti berdetak. Darahku terasa surut dari wajah. Aku menyambar ponselku dengan tangan yang sekarang benar-benar gemetar hebat. Aku tidak pernah memakai nama asli di akun itu, tapi deskripsi 'DeepBlueMika' terlalu mirip dengan nama pengguna lamaku yang pernah diketahui beberapa orang.
Aku menatap Arga dengan tatapan horor. "Arga... ada orang lain yang tahu."
Wajah Arga seketika berubah tegang. Dia meraih ponselnya sendiri, jemarinya bergerak cepat di atas layar. Keheningan di kafe yang tadinya terasa intim, kini mendadak terasa mencekik, seolah dinding-dindingnya mulai merapat untuk menghimpitku. Rahasia yang baru saja kami rayakan kini terancam menjadi senjata yang siap menghancurkan sisa-sisa duniaku.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!