Suara tawa yang sangat kukenal itu merambat di sepanjang koridor, memantul di dinding-dinding beton sekolah, dan seketika membuat seluruh saraf di tubuhku menegang. Aku mengenali frekuensi itu. Itu adalah tawa yang dulu selalu menjadi pelindungku, namun kini terdengar seperti derit pintu tua yang membangkitkan hantu dari masa lalu.
Aku mempercepat langkah, menunduk dalam-dalam sambil mendekap buku sosiologi di dada. Namun, sebelum aku sempat menghilang di balik pintu perpustakaan, sebuah suara memanggil namaku.
"Mika? Mikaela!"
Langkahku terhenti. Otot bahuku kaku. Aku menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantung yang tiba-tiba berpacu liar sebelum perlahan berbalik. Di sana, berdiri Shila. Penampilannya masih samaβsempurna dengan rambut yang tertata rapi dan aura percaya diri yang selalu membuatku merasa kerdil. Bedanya, sekarang dia mengenakan seragam sekolah ini lagi setelah setahun pindah ke luar kota.
"Shila," ucapku pelan, nyaris seperti bisikan.
Dia berlari kecil ke arahku, lalu tanpa aba-aba merengkuh bahuku dalam pelukan singkat yang beraroma parfum vanila mahal. "Ya ampun, aku kangen banget! Kamu kenapa nggak pernah balas DM-ku sih? Aku balik ke sini seminggu yang lalu, tapi baru hari ini benar-benar ma**k kelas."
Aku melepaskan diri dengan halus, berpura-pura membetulkan letak kacamata. "Aku... aku jarang buka pesan."
Shila memicingkan mata, menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan menyelidik yang khas. "Kamu berubah, Mik. Lebih... tertutup? Dan apa-apaan ini? Kamu sendirian terus?"
"Aku suka sendiri, Shil. Kamu tahu itu," jawabku berusaha setenang mungkin, meski jemariku mulai gemetar di balik sampul buku.
Shila tertawa kecil, tapi tawanya tidak mencapai matanya. "Iya, tapi nggak sampai jadi antisosial juga, kan? Eh, tadi aku dengar gosip aneh di kantin." Dia mendekat, suaranya merendah menjadi bisikan konspiratif. "Katanya kamu lagi dekat sama cowok aneh dari kelas sebelah. Siapa namanya? Arga?"
Jantungku seolah berhenti berdetak selama satu detik. Nama itu, yang biasanya terasa seperti pelabuhan aman di kepalaku, kini terdengar seperti ancaman saat diucapkan oleh Shila.
"Dia nggak aneh," kataku, mungkin sedikit terlalu cepat.
Alis Shila terangkat. "Oh, benarkah? Jadi gosip itu benar? Mikaela Putri yang super pemilih ini sekarang mainnya sama cowok pendiam yang kerjaannya cuma bengong di pojokan?"
"Dia bukan orang yang seperti kamu pikirkan," balasku dengan nada yang mulai mengeras. Aku ingin pergi. Aku ingin lari ke atap sekolah, tempat Arga biasanya menungguku dengan keheningan yang nyaman.
"Hati-hati, Mik," Shila menyentuh lenganku, kali ini dengan ekspresi yang tampak seperti kepedulian tulus, tapi aku tahu ada kilat kecurigaan di sana. "Aku cuma nggak mau kamu dimanfaatin. Orang-orang pendiam kayak dia biasanya punya sisi gelap yang nggak terduga. Kamu kan tahu sendiri, rahasia itu bisa jadi senjata kalau jatuh ke tangan yang salah."
Kalimat terakhirnya menghantamku tepat di ulu hati. *Rahasia.* Shila tidak tahu bahwa selama setahun terakhir, aku menceritakan seluruh hidupku pada sebuah akun anonim yang kukira miliknya. Dia tidak tahu bahwa Arga-lah yang selama ini memegang kunci gerbang duniamu.
Tepat saat itu, aku melihat sosok tinggi dengan jaket hitam yang familiar berjalan di ujung koridor. Arga. Dia berhenti sejenak, matanya menangkap sosokku yang berdiri bersama Shila. Untuk beberapa detik, pandangan kami bertemu. Tidak ada ekspresi di wajahnya, tapi aku bisa merasakan ketegangan yang sama memancar darinya.
Arga tidak mendekat. Dia hanya berdiri di sana, mengamati, seolah sedang membaca sebuah adegan drama yang sudah dia ketahui akhir ceritanya.
"Nah, itu dia kan?" Shila berbisik, matanya ikut tertuju pada Arga. "Kenapa dia melihat ke sini terus? Dia kayak... memperhatikanmu dengan cara yang menyeramkan."
"Dia cuma mau lewat, Shila," dustaku, meski aku tahu Arga sedang menungguku.
Shila tiba-tiba melambaikan tangan ke arah Arga, sebuah tindakan yang membuatku ingin menghilang ditelan bumi. Arga tidak membalas. Dia hanya mengangguk tipis, lalu berbalik dan berjalan pergi ke arah tangga.
"Kaku banget," komentar Shila sambil mencibir. Namun, sedetik kemudian, dia menatapku kembali dengan mata yang tajam. "Tapi tunggu dulu. Kamu... kamu nggak lagi menyembunyikan sesuatu dari aku kan, Mik? Soalnya tadi pagi, aku coba login ke akun lama kita, akun yang dulu sering kita pakai buat curhat bareng. Dan tebak? Ada notifikasi login dari perangkat yang nggak kukenal beberapa bulan lalu."
Darahku terasa surut dari wajah. Tanganku yang memegang buku mendingin seketika.
"Maksudmu?" suaraku terdengar serak.
Shila melangkah satu langkah lebih dekat, memperkecil jarak di antara kami hingga aku bisa melihat pantulan diriku yang tampak ketakutan di matanya. "Akun itu, Mik. Akun yang kamu sangka aku yang pegang. Aku baru sadar kalau aku sudah lupa kata sandinya sejak pindah. Jadi, kalau bukan aku yang baca semua unggahan Close Friends-mu selama setahun ini... lalu siapa?"
Dia menjeda kalimatnya, matanya melirik ke arah tangga tempat Arga menghilang, lalu kembali padaku dengan senyum miring yang mengerikan.
"Apa jangan-jangan, si 'pendiam' itu punya akses ke semua isi kepalamu, Mika?"
Aku terpaku di tempat. Napas yang tadi coba kuatur kini terasa mencekik kerongkongan. Shila mulai mencium bau rahasia yang busuk, dan aku sadar, benteng yang kubangun dengan susah payah bersama Arga baru saja mendapatkan retakan pertamanya. Jika Shila terus menggali, dia bukan hanya akan menghancurkanku, tapi dia juga akan menarik Arga ke dalam kekacauan yang seharusnya menjadi tanggung jawabku sendiri.
"Aku harus pergi," kataku pendek, lalu berbalik pergi tanpa menunggu jawaban. Aku berlari menaiki tangga, mengabaikan pangg***n Shila yang terus bergema di belakangku. Aku harus menemukan Arga. Aku harus tahu seberapa jauh Shila bisa menghancurkan apa yang baru saja kami mulai.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!