Udara di lorong SMA Pelita pagi ini terasa lebih berat dari biasanya, seolah-olah oksigen telah digantikan oleh partikel-partikel kasak-kusuk yang menyesakkan. Aku menunduk, merapatkan jaket denimku, dan mempercepat langkah. Biasanya, aku adalah hantu di sekolah ini—ada namun tidak dianggap. Tapi hari ini, aku merasa seperti sebuah spesimen di bawah mikroskop.
Langkahku terhenti tepat di depan loker. Sekelompok siswi kelas sebelas yang sedang berkumpul mendadak diam saat aku lewat. Salah satu dari mereka, yang aku tahu bernama Sharen, tidak berusaha menyembunyikan ponselnya. Matanya berpindah dari layar ke wajahku, lalu kembali ke layar dengan seringai yang membuat perutku mulas.
"Oh, ini dia 'Si Gadis Paling Terluka' sedunia," bisik Sharen, c**up keras untuk kudengar. Teman-temannya terkikik, suara mereka terdengar seperti gesekan amplas di telingaku.
Tanganku gemetar saat memutar kunci loker. Ada apa ini? Aku mencoba mengabaikan mereka, tapi getaran di saku rokku tidak berhenti. Ponselku bergetar terus-menerus. Notifikasi Instagram ma**k seperti rentetan tembakan.
Dengan jantung yang berdegup kencang hingga ke tenggorokan, aku mengeluarkan ponsel. Di layar kunci, aku melihat puluhan permintaan pesan baru dan tag dari akun-akun yang tidak kukenal. Aku membuka salah satu pesan ma**k. Jantungku serasa berhenti berdetak saat melihat gambar yang terlampir di sana.
Itu adalah tangkapan layar.
Bukan sembarang tangkapan layar, melainkan unggahan *Close Friends*-ku dari tiga bulan yang lalu. Foto kamarku yang gelap, hanya diterangi cahaya laptop, dengan tulisan panjang yang sangat privat:
*“Terkadang aku merasa rumah ini hanyalah museum bagi kenangan yang seharusnya sudah mati. Ibu masih menyimpan baju-baju Kak Maya seolah dia akan pulang besok, padahal tanah di kuburannya sudah keras. Aku muak jadi bayangan orang mati. Aku muak harus berpura-pura baik-baik saja sementara setiap malam aku merasa seperti tenggelam di tengah daratan.”*
Duniaku runtuh seketika.
Lant** di bawah kakiku terasa goyah. Itu adalah rahasia tergelapku—tentang rasa frustrasiku pada Ibu dan duka yang tak kunjung usai soal Kak Maya. Hal yang hanya kuceritakan pada satu pengikut anonim di *Close Friends*-ku.
"Mika? Lo oke?"
Suara itu berat dan rendah. Aku tersentak, hampir menjatuhkan ponselku. Arga berdiri di samping loker, wajahnya datar seperti biasa, tapi matanya yang tajam menatapku dengan intensitas yang tak biasa. Dia baru saja datang, tasnya masih tersampir di satu bahu.
Aku menatapnya dengan pandangan nanar. Amarah mulai membakar rasa maluku. "Lo..." suaraku tercekat di tenggorokan. "Lo yang lakuin ini?"
Arga mengerutkan kening. "Apa maksud lo?"
Aku menyodorkan layar ponselku ke depan wajahnya. "Cuma lo yang ada di daftar itu, Arga! Cuma lo yang bisa lihat ini! Kenapa lo tega?"
Arga melihat layar itu, lalu matanya menyisir koridor yang kini mulai dipenuhi siswa-siswi yang terang-terangan menunjuk ke arah kami. Beberapa orang mulai mengeluarkan ponsel, memotret konfrontasi kami. "Bukan gue, Mika. Gue nggak pernah *screenshot* apa pun."
"Bohong!" teriakku, suaraku pecah. Air mata mulai mengaburkan pandanganku. "Gue percaya sama lo! Gue biarin lo ma**k ke dunia gue karena gue pikir lo... gue pikir lo ngerti!"
"Mika, tenang dulu," Arga mencoba melangkah maju, tangannya terangkat seolah ingin menenangkan hewan liar yang ketakutan.
"Jangan sentuh gue!" aku mundur selangkah, menab**k pintu loker dengan dentuman keras.
Tiba-tiba, suara notifikasi yang nyaring terdengar serentak dari ponsel-ponsel di sepanjang lorong. Seperti sebuah orkestra yang mengerikan. Orang-orang di sekitar kami mulai berbisik lebih keras, tawa mereka pecah, dan beberapa menatapku dengan tatapan kasihan yang lebih menyakitkan daripada hinaan.
Aku membuka ponselku lagi dengan tangan gemetar. Ada unggahan baru di akun gosip sekolah, *@PelitaExposed*. Bukan hanya satu foto, tapi sebuah *carousel* berisi lima tangkapan layar lainnya. Semuanya dari akun *Close Friends*-ku. Tulisan-tulisanku tentang betapa aku benci keramaian sekolah, tentang betapa aku merasa semua orang di sini palsu, bahkan tentang Arga.
*“Ada cowok di kelas yang namanya Arga. Dia pendiam, dan entah kenapa, aku merasa dia adalah satu-satunya orang yang tidak akan menghakimiku. Tapi mungkin itu cuma a**msiku yang bodoh. Semua orang pada akhirnya akan pergi, kan?”*
Melihat tulisan itu terpampang secara publik membuatku merasa te******* di tengah lapangan. Semua benteng pertahanan yang kubangun selama setahun terakhir hancur lebur hanya dalam hitungan detik.
"Mika, dengerin gue," Arga mencoba bicara lagi, suaranya kini terdengar mendesak. "Ada yang nggak beres. Gue nggak pernah pegang akun itu sejak semalam."
Aku tidak mendengarnya. Telingaku berdenging. Aku melihat Sharen dan kelompoknya berjalan mendekat, seolah ingin menonton pertunjukan dari baris terdepan.
"Wah, ternyata Mika yang kelihatan cupu ini punya pikiran yang c**up... liar ya?" Sharen tertawa, matanya berkilat penuh kemenangan. "Jadi, selama ini lo nganggep kita semua palsu? Dan lo naksir si misterius Arga ini?"
"Tutup mulut lo, Shar," desis Arga, suaranya berubah dingin dan mengancam.
"Kenapa? Kan dia sendiri yang nulis?" Sharen mengangkat bahu, tidak takut. "Lagian, siapa sih yang tega nyebarin ini kalau bukan orang yang paling dekat sama dia? Arga, bukannya lo satu-satunya 'saksi' di situ?"
Aku menatap Arga. Cowok itu terdiam, ekspresinya sulit dibaca. Keraguan mulai merayapi pikiranku. Benarkah Arga? Tapi kalau bukan dia, siapa lagi? Tidak ada orang lain di dunia ini yang memiliki akses ke sana.
Rasa sesak di dadaku memuncak. Aku tidak bisa bernapas di sini. Aku tidak bisa berada di tempat di mana setiap pasang mata membedah jiwaku melalui kata-kata yang seharusnya tetap terkunci.
Tanpa berkata apa-apa lagi, aku berbalik dan berlari. Aku menab**k bahu beberapa orang, mengabaikan seruan mereka, dan terus berlari menuju pintu keluar gedung sekolah. Aku harus pergi. Aku harus menghilang.
Saat aku mencapai gerbang samping, ponselku bergetar lagi. Sebuah pesan ma**k dari akun anonim yang selama ini menjadi satu-satunya pengikutku—akun yang kini kutahu milik Arga.
Tapi pesan itu tidak datang dari Arga yang berdiri di koridor tadi.
*“Mika, cek pengaturan akunmu. Ada seseorang yang ma**k ke akunmu dari perangkat lain sepuluh menit yang lalu. Seseorang sudah meretasmu.”*
Langkahku terhenti di trotoar depan sekolah. Napas dan jantungku berpacu kacau. Jika Arga ada di depanku saat itu dan tidak memegang ponsel, maka siapa yang mengirim pesan ini? Dan siapa yang sedang menertawakanku dari balik layar ponsel mereka sekarang?
Aku menoleh ke belakang, ke arah gedung sekolah yang tampak seperti monster besar yang siap menelanku. Di salah satu jendela lant** dua, aku melihat sesosok bayangan berdiri, memperhatikan pelarianku dengan tenang.
Rahasiaku bukan lagi sekadar rahasia. Itu telah menjadi senjata yang kini ditodongkan ke kepalaku sendiri. Dan aku tidak tahu siapa yang menarik pelatuknya.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!