Ponsel di genggamanku terasa seperti bongkahan es yang membekukan jemari, namun di saat yang sama, denyut jantungku memacu darah panas ke seluruh tubuh hingga ke ujung kepala. Layar itu masih menyala, menampilkan sebuah grup WhatsApp angkatan yang biasanya aku bisukan. Di sana, sebuah tangkapan layar beredar luas.
Itu adalah unggahan *Close Friends*-ku dari dua malam yang lalu. Foto sebuah botol obat penenang yang sudah kosong dengan keterangan: *“Kadang aku bertanya-tanya, apakah dunia akan lebih tenang kalau aku berhenti mencoba bangun di pagi hari?”*
Hanya ada satu orang di daftar itu. Hanya satu pasang mata yang punya akses ke dalam lubang gelap di kepalaku.
Langkah kakiku bergema keras di koridor gedung tua sekolah yang mulai sepi. Aku tidak peduli pada tatapan beberapa siswa yang masih tertinggal, yang berbisik-bisik sambil melirik ponsel mereka lalu melirikku dengan tatapan kasihan yang menjijikkan. Aku hanya punya satu tujuan: taman belakang di dekat laboratorium biologi. Tempat Arga biasanya menghabiskan waktu sebelum pulang.
Aku menemukannya di sana, duduk tenang di bangku semen sambil membaca sebuah buku bersampul cokelat. Wajahnya yang datar dan sorot matanya yang selalu tampak mengantuk itu biasanya memberiku rasa aman. Tapi sekarang, melihat ketenangan itu justru membuat perutku mual.
"Puas, Ga?" suaraku keluar lebih tajam dari yang kubayangkan, bergetar oleh amarah yang tertahan di tenggorokan.
Arga mendongak. Ia menutup bukunya perlahan, keningnya berkerut tipis. "Mika? Kamu belum pulang?"
Aku tertawa pendek, tawa yang kering dan menyakitkan. Aku melangkah mendekat, menyodorkan layar ponselku tepat di depan wajahnya. "Jangan akting seolah-olah kamu nggak tahu apa-apa. Ini apa?"
Arga terdiam. Matanya memindai layar ponselku, lalu beralih menatap mataku. Tidak ada kepanikan di sana, hanya kekosongan yang membuatku semakin meledak. "Mika, aku bisa jelasin—"
"Jelasin apa? Bahwa kamu sudah mengkhianatiku?" potongku kasar. Air mata mulai menggenang, membuat pandanganku kabur, tapi aku menolak untuk membiarkannya jatuh. "Selama setahun ini, aku pikir aku bicara sama tembok. Terus kamu datang, kamu bilang kamu 'mendengarku'. Aku mulai percaya sama kamu, Arga! Aku buka pintu yang sudah lama aku kunci rapat-rapat, dan ini yang kamu lakukan? Kamu memamerkan lukaku ke seluruh sekolah?"
"Aku nggak pernah menyebarkan itu," ucap Arga tenang, tapi ada nada tegang di suaranya. Ia berdiri, mencoba meraih lenganku, tapi aku menyentak mundur seolah sentuhannya adalah api.
"Terus siapa? S****? Jin?" teriakku. Dadaku naik-turun dengan cepat. "Cuma kamu yang ada di daftar itu, Arga! Cuma akun anonim itu yang aku izinkan melihat sisi paling menjijikkan dari hidupku. Dan sekarang, semua orang tahu kalau aku depresi. Semua orang tahu kalau aku pernah berpikir untuk menyerah. Kamu baru saja membunuhku dua kali!"
"Mika, dengerin dulu! Ponselku sempat hilang tadi siang di kantin," Arga mencoba menaikkan volume suaranya, matanya kini memancarkan keputusasaan yang asing bagiku. "Seseorang pasti mengambilnya dan membuka akun itu. Aku baru menemukannya di atas meja piket sepuluh menit yang lalu. Aku baru mau hubungi kamu—"
"Bohong!" suaraku pecah. Aku menggelengkan kepala dengan kuat. "Itu alasan paling klasik, Arga. Kenapa aku harus percaya sama kamu? Kamu itu misterius, nggak punya teman, dan tiba-tiba kamu tahu semua rahasiaku. Mungkin sejak awal kamu cuma mau punya bahan untuk menjatuhkanku, kan? Mungkin kamu senang melihat 'Mika yang sombong dan pintar' ini hancur?"
Wajah Arga berubah. Ketenangan yang tadinya menyelimuti dirinya luruh, digantikan oleh gurat luka yang sangat dalam. Ia menatapku lama, dan untuk pertama kalinya, aku melihat kemarahan di matanya. Bukan kemarahan yang meledak-ledak seperti milikku, melainkan kemarahan yang dingin dan sunyi.
"Begitu rendahnya kamu menilai aku, Mika?" tanyanya dengan suara rendah yang bergetar.
"Aku menilai berdasarkan kenyataan, Arga! Kenyataannya adalah duniaku hancur, dan kamu adalah satu-satunya orang yang memegang senjatanya!"
Aku melempar ponselku ke arah bangku semen dengan kasar hingga layarnya retak. Aku tidak peduli. Seluruh tubuhku gemetar hebat. Ketakutan terbesarku menjadi nyata: aku dihakimi, aku dite*******i di depan publik, dan orang yang aku anggap sebagai pelindung ternyata adalah sang eksekutor.
"Jangan pernah bicara sama aku lagi," bisikku, jari telunjukku menunjuk tepat ke wajahnya. "Jangan pernah muncul di depanku. Kamu lebih buruk dari mereka yang terang-terangan membenciku. Kamu penipu."
Arga tidak bergerak. Ia berdiri kaku seperti patung di bawah bayang-bayang pohon besar. Ia tidak lagi mencoba membela diri. Ia hanya menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kekecewaan dan sesuatu yang tampak seperti rasa menyerah.
"Kalau itu yang kamu mau, oke," katanya pelan. Ia mengambil tasnya, lalu berjalan melewatinya begitu saja. Bahunya sempat bersenggolan denganku, dan untuk sesaat, aku merasakan hawa dingin yang luar biasa menjalar.
Aku berdiri sendirian di taman itu, dikelilingi oleh suara serangga sore yang mulai bermunculan. Hening. Sangat hening sampai aku bisa mendengar suara retakan di dalam dadaku sendiri. Aku pikir dengan meneriaki Arga, beban ini akan terangkat. Aku pikir dengan menyalahkan seseorang, rasa maluku akan berkurang.
Namun, saat aku melihat punggung Arga menghilang di balik belokan koridor, aku justru merasa lebih kosong dari sebelumnya. Aku menunduk, mengambil ponselku yang layarnya retak seribu. Sebuah notifikasi muncul di layar yang pecah itu. Bukan dari grup angkatan, melainkan sebuah pesan pribadi dari nomor tidak dikenal.
Aku gemetar saat membuka pesan itu. Isinya hanya sebuah foto: foto Arga yang sedang tidur di perpustakaan dengan ponsel yang tergeletak di sampingnya, dan sebuah tangan asing—bukan tangan Arga—yang sedang memegang ponsel itu.
Jantungku seolah berhenti berdetak. Aku menatap foto itu dengan napas tertahan. Jika itu bukan Arga, maka siapa? Dan yang lebih mengerikan, jika bukan Arga yang menyebarkannya, berarti aku baru saja mengusir satu-satunya orang yang benar-benar peduli padaku.
Ponselku bergetar lagi. Pesan baru ma**k dari nomor yang sama.
*“Baru permulaan, Mika. Masih banyak postingan diarsip yang belum aku sebar. Pilihannya: ikuti perintahku, atau besok pagi satu sekolah tahu alasan sebenarnya kenapa sahabat lamamu pergi.”*
Duniaku mendadak gelap. Aku menoleh ke arah koridor tempat Arga pergi, tapi ia sudah tidak ada. Aku benar-benar sendirian sekarang, dan sang pemangsa baru saja memulai permainannya.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!