Kamar tidurku biasanya terasa seperti benteng, tempat paling aman di seluruh dunia. Namun, sore ini, dinding-dinding berwarna abu-abu pucat itu seolah merapat, menghimpit paru-paruku hingga setiap tarikan napas terasa berat dan pendek. Aku menarik selimut tebal sampai ke dagu, mengabaikan hawa gerah yang mulai merayap di kulit. Aku lebih suka berkeringat daripada harus merasa te******* tanpa perlindungan kain ini.
Di atas nakas, ponselku bergetar pelan. Layarnya menyala, memantulkan cahaya biru yang menyakitkan mata ke langit-langit kamar yang gelap. Satu notifikasi muncul. Lalu dua. Lalu tiga. Aku tidak perlu membacanya untuk tahu siapa pengirimnya. Namanya, *Arga*, terasa seperti duri yang tersangkut di tenggorokanβtajam, menyakitkan, dan mustahil untuk ditelan.
Aku memejamkan mata erat-erat, mencoba menghapus bayangan wajah Arga saat terakhir kali kami bicara. Ekspresinya yang tenang, matanya yang seolah bisa melihat langsung ke balik topeng yang kupakai selama bertahun-tahun. Selama ini, aku mengira aku berbicara pada hantu, pada ruang hampa yang tidak akan pernah membalas. Tapi hantu itu punya nama. Hantu itu duduk tiga bangku di belakangku di kelas sejarah. Hantu itu tahu persis seberapa hancurnya aku di malam aku menulis tentang rasa benciku pada cermin.
Tanganku meraba-raba di bawah bantal, menemukan ponsel itu dan menekannya hingga mati total. Kegelapan kembali menguasai kamar, tapi kebisingan di kepalaku tidak mau pergi.
"Mika? Sayang, kamu di dalam?" Suara Mama terdengar pelan dari balik pintu, diikuti ketukan tiga kali yang ragu-ragu.
Aku tidak menjawab. Aku menahan napas, berharap jika aku tetap diam, aku akan benar-benar menghilang dari eksistensi.
"Mika, Mama tadi buatkan sup ayam. Kamu belum makan dari siang. Keluar sebentar, ya?"
"Aku nggak lapar, Ma," sahutku, suaraku parau dan terdengar asing di telingaku sendiri. "Aku mau tidur. Tolong jangan ganggu."
Hening sejenak. Aku bisa membayangkan Mama berdiri di sana, menggigit bibir bawahnya dengan cemas, bertanya-tanya bagian mana dari dirinya yang gagal mendidikku hingga aku menjadi makhluk penyendiri yang pahit ini. Setelah beberapa detik yang terasa selamanya, derap langkah kakinya menjauh.
Aku membalikkan tubuh, meringkuk seperti janin. Inilah lubang kesedihanku. Sebuah ruang yang sudah sangat kukenal sejak kecelakaan itu, sejak sahabat terbaikku pergi dan meninggalkanku dalam kesunyian yang mencekik. Arga sempat menjadi anomali. Dia sempat menjadi cahaya kecil yang membuatku berpikir bahwa mungkin, hanya mungkin, ada seseorang yang bisa menerima versi diriku yang paling berantakan tanpa merasa jijik.
Namun, ketakutan itu selalu menang. *Bagaimana jika dia hanya kasihan? Bagaimana jika setelah ini dia melihatku sebagai gadis aneh yang butuh dikasihani?* Pikiran itu berputar-putar seperti hiu yang mengitari mangsa.
Aku meraih ponselku lagiβsebuah dorongan masokis yang tidak bisa kutahan. Aku menyalakannya, menunggu logo produsen menghilang, lalu langsung menuju aplikasi Instagram. Dengan tangan gemetar, aku membuka profilku. Lingkaran hijau di sekeliling foto profilku, fitur 'Close Friends' yang menjadi penjara sekaligus pelarianku, tampak seperti ejekan.
Aku menekan daftar pengikut di fitur itu. Hanya ada satu akun. Akun tanpa foto profil. Akun yang kupikir milik masa laluku, tapi ternyata adalah milik cowok yang melihatku setiap hari di sekolah.
Jariku melayang di atas tombol hapus. Jika aku menghapusnya, aku akan kembali sendirian. Benar-benar sendirian. Tidak akan ada lagi balasan "Aku mendengarmu" saat aku merasa dunia terlalu bising. Tidak akan ada lagi seseorang yang paham bahwa diamku bukan berarti aku kosong, melainkan karena aku terlalu penuh.
Air mata pertama jatuh, membasahi layar ponsel, menciptakan distorsi pada nama akun Arga.
"Kenapa kamu harus nyata, Arga?" bisikku lirih. Suaraku pecah di tengah kamar yang kedap itu.
Kehilangan Arga terasa jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan sahabatku dulu. Karena dengan Arga, aku secara sadar telah memberikan kunci gudang rahasia tergelapku. Dia memegang semua kartu as-ku. Dia tahu tentang rasa iriku pada gadis-gadis populer, tentang ketakutanku akan kegagalan, tentang betapa seringnya aku menangis di bilik toilet sekolah hanya karena seseorang menatapku terlalu lama.
Aku menekan tombol 'Remove'.
Detik itu juga, lingkaran hijau di profilku menghilang. Fitur 'Close Friends' itu kini kosong. Nol pengikut.
Aku melempar ponsel itu ke ujung tempat tidur seolah benda itu baru saja membakar tanganku. Aku menarik selimut lebih tinggi, menenggelamkan seluruh kepalaku ke dalam kegelapan buatan. Rasa sesak itu kembali, lebih kuat dari sebelumnya. Aku sudah berhasil. Aku sudah mengisolasi diriku lagi. Aku sudah aman.
Namun, kenapa rasanya seperti aku baru saja mengunci diriku sendiri di dalam peti mati sementara aku masih bernapas?
Di tengah kesunyian yang sempurna itu, tiba-tiba terdengar suara ketukan. Bukan di pintu kamar, tapi di jendela.
Jantungku berdegup kencang. Kamarku ada di lant** dua, tapi ada pohon mangga besar yang cabangnya mencapai balkon kecil di luar sana. Aku membeku, telingaku berdenging. Ketukan itu terdengar lagi, lebih keras dan lebih menuntut.
"Mika, aku tahu kamu belum tidur."
Suara itu pelan, teredam oleh kaca, tapi aku mengenalnya. Suara berat yang tenang, yang selama ini hanya kudengar dalam imajinasiku saat membaca pesan-pesannya. Itu suara Arga. Dan dia tidak sedang berada di balik layar ponsel lagi. Dia ada di sana, di balik jendela, menungguku menghadapi kenyataan yang paling kutakuti.
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!