Layar laptop yang menyala di depanku seolah berubah menjadi lubang hitam yang siap menelanku hidup-hidup. Jemariku yang gemetar masih menempel di atas *trackpad*, sementara mataku terpaku pada deretan log aktivitas akun Instagram-ku yang baru saja berhasil kupulihkan lewat bantuan seorang teman daring yang ahli IT.
Cahaya biru dari layar memantul di bola mataku, pedih, tapi tak sepedih sesak yang mulai merayap di dadaku.
Selama ini, aku menuduh Arga. Aku melemparkan segala kemarahan, kecurigaan, dan kata-kata tajam ke arah cowok itu hanya karena dia adalah satu-satunya orang yang mengaku melihat isi *Close Friends*-ku. Aku menjadikannya samsak atas rasa maluku, menganggap diamnya sebagai bentuk pengakuan dosa.
Namun, data di depanku berkata lain.
Ada sebuah alamat IP yang ma**k ke akunku secara berkala dari lokasi yang sangat spesifik—sebuah perumahan di pinggiran kota, tempat yang sangat kukenal. Bukan alamat rumah Arga. Hatiku mencelos saat melihat riwayat *login* itu sudah ada bahkan jauh sebelum Arga membalas unggahanku malam itu.
"Enggak mungkin..." bisikku, suaraku pecah di kesunyian kamar.
Aku menggerakkan kursor dengan panik, membuka folder cadangan pesan yang sempat terhapus. Di sana, di antara tumpukan data sampah digital, aku menemukan sebuah draf pesan yang dikirimkan ke sebuah akun anonim lain—sebuah koordinasi untuk menyebarkan tangkapan layar ceritaku. Dan di bawahnya, terlampir sebuah foto profil yang sangat familiar.
Itu adalah foto gelang persahabatan yang dulu pernah kami buat bersama. Gelang yang dulu kujanjikan tidak akan pernah kulepas, sebelum dia pindah sekolah dan menghilang tanpa kabar setelah pertengkaran hebat yang menghancurkan kepercayaan diriku.
Elina.
Duniaku serasa berhenti berputar. Elina, sahabat lamaku yang kukira adalah pemilik akun anonim itu, ternyata memang benar-benar dia. Tapi dia bukan sekadar pengamat pasif seperti Arga. Dia adalah orang yang ma**k ke akunku, mencuri privasiku, dan memanipulasi keadaan agar seolah-olah semuanya bocor karena kecerobohanku—atau karena Arga.
Darahku mendidih, tapi sedetik kemudian, rasa dingin yang mematikan menyelimuti seluruh tubuhku. Dingin itu datang dari rasa bersalah yang menghantam tanpa ampun.
Aku teringat kejadian di koridor sekolah dua hari lalu. Aku ingat bagaimana aku meneriaki Arga di depan banyak orang, menuduhnya sebagai pengkhianat, menyebutnya "sampah yang bersembunyi di balik wajah pendiam". Aku ingat bagaimana Arga hanya berdiri di sana, menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kuartikan. Dia tidak membela diri. Dia tidak membalas teriakanku. Dia hanya menunduk, membiarkan semua makianku mendarat telak di harga dirinya.
*“Kenapa kamu diam saja, Ga?”* tanyaku dalam hati, air mata mulai menggenang. *“Kenapa kamu membiarkan aku membencimu sejahat itu?”*
Aku teringat satu kalimat Arga yang sempat kuabaikan: *"Mungkin kamu memang butuh seseorang untuk disalahkan, Mika. Kalau itu harus aku, silakan."*
Rasa mual mengaduk perutku. Aku adalah monster yang sebenarnya. Aku begitu sibuk melindungi diriku sendiri, begitu takut dihakimi, hingga aku tidak sadar telah menghakimi satu-satunya orang yang benar-benar mendengarku tanpa menghujat. Arga bukan orang yang membocorkan rahasia itu. Arga adalah orang yang mencoba menahan kebocoran itu dengan cara ma**k ke dalam 'permainan' ini agar aku merasa tidak sendirian.
Dengan tangan gemetar, aku meraih ponselku. Aku mencari nama Arga di daftar kontak, tapi kemudian aku teringat bahwa aku telah memblokirnya di semua platform. Aku segera membuka blokiran itu, jariku bergerak secepat kilat, didorong oleh rasa urgensi yang membakar.
Aku mengetik pesan pendek: *Arga, aku tahu semuanya. Aku minta maaf. Tolong, aku harus bicara.*
*Checklist* satu. Pesanku tidak terkirim.
Aku mencoba meneleponnya. Suara operator yang datar memberitahuku bahwa nomor yang kutuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Aku mencoba lagi. Dan lagi. Tetap nihil.
Aku melempar ponselku ke atas tempat tidur dan menjambak rambutku sendiri. Rasa frustrasi menyergap. Bagaimana bisa aku begitu bodoh? Bagaimana bisa aku lebih mempercayai a**msi burukku daripada ketulusan yang selama ini Arga tunjukkan lewat kehadirannya yang tenang?
Pikiranku melayang pada Elina. Dia sengaja meninggalkan jejak agar aku menemukannya sekarang, setelah kekacauan ini memuncak. Dia ingin melihatku hancur, dan dia berhasil melakukannya dengan tanganku sendiri. Aku telah menghancurkan satu-satunya hubungan tulus yang kumiliki di sekolah ini.
Aku tidak bisa hanya diam di sini. Aku harus menemukannya.
Aku menyambar jaket denimku dan kunci motor yang tergeletak di meja belajar. Aku tidak peduli ini sudah jam sepuluh malam. Aku tidak peduli jika Ibu akan mengomel karena aku keluar rumah tanpa izin. Pikiranku hanya tertuju pada satu tempat: taman belakang sekolah, tempat Arga sering menghabiskan waktu sendirian untuk membaca buku atau sekadar melamun.
Saat aku berlari menuju garasi, sebuah notifikasi ma**k ke ponselku. Aku berhenti sejenak dan membukanya dengan napas memburu.
Bukan dari Arga.
Itu adalah sebuah unggahan baru dari akun anonim milik Elina—yang kini sudah berganti nama menjadi 'Saksi Mata'. Unggahan itu berupa foto Arga yang sedang duduk di halte bus sendirian dengan tas ransel besar di sampingnya. Keterangan fotonya membuat jantungku seakan berhenti berdetak:
*"Beberapa orang memang lebih baik pergi daripada terus disalahkan untuk kesalahan yang tidak pernah mereka lakukan. Selamat tinggal, Sang Pendengar."*
Lututku lemas. Apakah Arga benar-benar pergi? Apakah kecaci-maki-anku tempo hari menjadi alasan terakhir baginya untuk menyerah pada kota ini?
Aku segera menghidupkan mesin motor, derunya memecah kesunyian malam yang mencekam. Aku harus sampai di halte itu sebelum semuanya terlambat. Aku tidak boleh membiarkannya pergi dengan membawa beban kesalahan yang seharusnya kupikul sendiri. Aku harus memberitahunya bahwa dia bukan sekadar 'satu-satunya saksi' dalam hidupku, melainkan satu-satunya orang yang membuat duniaku yang gelap terasa sedikit lebih terang.
Namun, saat aku baru saja hendak memutar gas, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan pagar rumahku. Lampu sennya berkedip, dan seseorang turun dari kursi kemudi dengan tergesa-gesa.
Itu bukan Arga. Itu adalah kakaknya, dengan wajah yang pucat pasi dan mata yang sembap.
"Mika!" serunya, suaranya parau. "Arga... Arga kecelakaan saat mau menuju terminal."
Duniaku benar-benar runtuh detik itu juga. Tanganku terlepas dari stang motor, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasakan kegelapan yang jauh lebih pekat daripada apa pun yang pernah kutulis di *Close Friends*-ku.
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!