Jantungku terasa seperti genderang yang dipukul bertalu-talu, gema detaknya merambat hingga ke ujung jemari yang kini terasa dingin dan lembap. Aku berdiri di ambang pintu perpustakaan yang sepi, mataku menyapu setiap sudut ruangan yang dipenuhi aroma kertas tua dan pembersih lant**. Di sana, di meja paling pojok yang tersembunyi di balik rak ensiklopedia, aku melihatnya.
Arga.
Dia sedang menunduk, fokus pada buku catatan di depannya. Cahaya matahari sore yang menerobos ma**k melalui celah jendela kaca besar menyinari sisi wajahnya, mempertegas garis rahangnya yang kokoh namun menyimpan kesan kesepian yang dalam. Selama ini, aku selalu melihatnya sebagai sosok yang tak tersentuh, seorang pengamat diam yang tak sengaja terjebak dalam pusaran rahasia gelapku. Namun hari ini, aku tahu aku tidak bisa lagi bersembunyi di balik layar ponsel.
Langkah kakiku terasa berat, seolah lant** kayu di bawahku berubah menjadi lumpur hisap. Setiap inci kemajuan yang kubuat menuju mejanya diiringi oleh suara di dalam kepalaku yang berteriak agar aku berbalik dan lari. *Dia akan menertawakanmu, Mika. Dia akan menganggapmu menyedihkan. Dia tidak butuh maafmu.*
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan badai di dadaku. Saat jarak kami tinggal dua meter, Arga mendongak. Gerakannya tenang, namun matanya yang tajam langsung mengunci pandanganku. Dia tidak terkejut. Seolah-olah dia sudah tahu aku akan datang, atau mungkin dia memang selalu siap menghadapi apa pun.
"Boleh aku duduk?" suaraku keluar lebih kecil dari yang kuharapkan, hampir tertelan oleh suara desis pendingin ruangan.
Arga hanya mengangguk pelan, lalu menutup buku catatannya. Dia melipat tangan di atas meja, menungguku berbicara. Keheningan yang tercipta di antara kami terasa mencekik. Aku bisa merasakan keringat dingin mulai membasahi punggungku. Aku benci perasaan iniβperasaan menjadi te******* tanpa perlindungan fitur *Close Friends*. Di dunia nyata, tidak ada tombol *delete* jika aku salah bicara.
"Aku..." aku memulai, menatap ujung sepatuku yang tiba-tiba tampak jauh lebih menarik daripada wajahnya. "Aku mau minta maaf soal kemarin. Soal semua hal yang aku katakan saat aku panik."
Arga tidak langsung menjawab. Dia hanya memperhatikanku dengan tatapan yang sulit dibaca. Tatapan yang membuatku merasa seolah dia sedang membaca setiap bab tersembunyi dalam diriku yang selama ini kukunci rapat.
"Aku tahu aku sering bera**msi buruk," lanjutku, kata-kata itu mulai meluncur keluar seperti bendungan yang retak. "Aku terbiasa berpikir kalau orang-orang hanya ingin mencari kelemahanku untuk dijadikan bahan tertawaan. Jadi, saat aku tahu kamu yang ada di balik akun itu... aku ketakutan. Aku takut kamu melihatku sebagai orang yang rusak."
Aku memberanikan diri untuk menatap matanya. "Aku nggak seharusnya melampiaskan itu ke kamu. Kamu cuma mendengarkan, dan aku malah memperlakukanmu seolah kamu pelakunya."
Arga menghela napas pendek, suara itu terdengar seperti embusan angin di tengah padang rumput yang sunyi. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi, masih belum melepaskan pandangannya dariku.
"Mika," panggilnya. Namaku terdengar berbeda saat dia yang mengucapkannyaβtidak ada nada mengejek, tidak ada nada kasihan. Hanya kejujuran yang mentah. "Aku nggak pernah menganggap kamu rusak."
Aku terpaku. Tenggorokanku terasa sakit, ada gumpalan emosi yang mendesak ingin keluar.
"Menjadi rapuh itu bukan berarti rusak," Arga melanjutkan, suaranya rendah namun tegas. "Selama setahun ini, aku membaca tulisan-tulisanmu bukan karena aku ingin tahu rahasiamu. Aku membacanya karena untuk pertama kalinya, aku merasa ada orang lain yang merasakan kehampaan yang sama denganku. Kamu nggak bicara pada tembok kosong, Mika. Kamu bicara pada seseorang yang juga sedang mencari jalan pulang."
Kata-katanya menghantamku lebih keras daripada makian mana pun yang pernah kuterima. Selama ini aku menganggap diriku sebagai korban, satu-satunya orang yang menderita di bawah tekanan ekspektasi dan trauma. Aku terlalu sibuk membangun benteng sampai aku tidak sadar bahwa Arga juga berada di luar sana, menggigil di bawah hujan yang sama.
"Jadi..." aku berbisik, jemariku mulai meremas pinggiran rok seragamku. "Kamu nggak marah?"
Arga menggeleng kecil. Sebuah senyum tipisβhampir tak terlihatβmuncul di sudut bibirnya. "Aku cuma kecewa karena kamu pikir aku akan sejahat itu."
Rasa lega yang luar biasa menyapu diriku, membuat bahuku yang tegang akhirnya merosot lemas. Namun, di saat yang sama, ada rasa malu yang baru. Maafku telah diterima, tetapi itu tidak menghapus fakta bahwa aku masihlah Mika yang penuh ketakutan.
"Terima kasih, Arga. Karena sudah mendengarku... bahkan saat aku nggak minta."
"Sama-sama, Mika."
Arga kemudian membuka kembali buku catatannya, seolah percakapan berat tadi hanyalah interupsi kecil. Namun sebelum aku sempat berdiri untuk pergi, dia menggeser buku itu ke arahku. Di halaman yang terbuka, ada sebuah sketsa pensil. Bukan gambar pemandangan atau benda mati, melainkan sketsa seorang gadis yang tampak dari belakang, berdiri sendirian di depan jendela besar, menatap dunia yang tampak kabur di luar sana.
Itu aku. Sketsa itu menangkap kesendirianku dengan begitu akurat hingga aku merasa sesak.
"Ada satu hal yang harus kamu tahu," kata Arga, suaranya mendadak berubah menjadi lebih serius, lebih gelap.
Aku menatapnya bingung. "Apa?"
Arga menutup bukunya dengan bunyi *gedub**k* yang c**up keras di keheningan perpustakaan. Dia memajukan tubuhnya, menatapku dengan intensitas yang membuat bulu kudukku meremang.
"Aku bukan satu-satunya yang memperhatikanmu, Mika. Dan akun yang kamu kira milik mantan sahabatmu itu... kamu yakin dia benar-benar sudah tidak aktif?"
Darahku serasa membeku seketika. Pertanyaan itu menggantung di udara, merobek rasa aman yang baru saja kubangun. Sebelum aku sempat bertanya apa maksudnya, ponsel di dalam saku seragamku bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar kunci.
*Satu pesan baru dari akun anonim.*
Pesan itu hanya berisi satu foto: foto diriku dan Arga yang sedang duduk di pojok perpustakaan ini, diambil dari kejauhan, dari balik rak buku di seberang kami.
Dan di bawahnya ada teks tambahan: *'Bagus sekali, Mika. Akhirnya kamu keluar dari persembunyian. Sekarang, permainan yang sebenarnya dimulai.'*
Lanjutkan Membaca Bab 19 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!