Private Story: Satu-satunya Saksi

Bab 2: Bab 2 - Mika mengunggah cerita paling traumatis tentang...

Pengaturan Membaca

Lampu meja di sudut kamar hanya memberikan remang yang c**up untuk melihat bayangan jemariku sendiri di atas layar ponsel. Di luar, suara rintik hujan menghantam kaca jendela dengan irama yang monoton, seolah-olah alam sedang berusaha meredam kebisingan di dalam kepalaku. Aku menarik selimut lebih tinggi, mencoba mengusir hawa dingin yang bukan berasal dari AC, melainkan dari sisa-sisa percakapan singkat di meja makan tadi.

Ayah pulang. Seharusnya itu adalah kalimat yang normal bagi setiap anak remaja, tapi bagiku, itu adalah peringatan badai.

Bau parfum maskulin yang tajam—aroma yang selalu ia gunakan untuk menutupi bau asap rokok dan rahasia—masih tertinggal di lorong rumah. Tadi, dia hanya melewati kamarku tanpa mengetuk, hanya berhenti sejenak untuk menanyakan apakah nilaiku sudah keluar, lalu berlalu begitu saja ke ruang kerjanya. Tidak ada pertanyaan tentang bagaimana hariku, atau mengapa mataku sedikit sembap. Baginya, aku hanyalah salah satu inventaris rumah yang harus berfungsi dengan baik.

Tanganku gemetar saat membuka Instagram. Secara refleks, jemariku bergerak menuju ikon kamera di pojok kiri atas. Aku mengambil foto sembarang—hanya kegelapan sudut kamar dengan sedikit cahaya lampu meja yang membiaskan warna oranye pucat.

Di atas foto itu, aku mulai mengetik. Kata demi kata mengalir seperti nanah dari luka yang baru saja tergores ulang.

*“Dia pulang lagi hari ini. Membawa bau yang sama, kebohongan yang sama. Kadang aku bertanya-tanya, apakah dia benar-benar melihatku saat dia menatap ke arahku, atau dia hanya melihat sebuah pengingat akan kegagalannya di masa lalu?”*

Aku berhenti sejenak. Napas kutercekat di tenggorokan. Ini terlalu jujur. Terlalu te*******. Tapi, bukankah itu tujuan utama fitur ini?

Aku menggeser layar, memastikan lingkaran hijau 'Close Friends' itu hanya berisi satu pengikut. @X_Anonymous. Sebuah akun tanpa foto profil, tanpa unggahan, milik seseorang yang dulu sangat berarti bagiku sebelum semuanya hancur. Akun yang kupikir sudah terkubur bersama persahabatan kami yang mati setahun lalu. Di sini, aku merasa aman. Di sini, aku tidak perlu menjadi Mikaela yang juara kelas, yang selalu tenang, yang defensif. Di sini, aku bisa menjadi Mika yang hancur berkeping-keping.

Jemariku kembali menari di atas layar.

*“Aku benci bagaimana dia tertawa di telepon dengan orang lain, tapi bahkan tidak bisa tersenyum padaku. Aku benci fakta bahwa aku masih berharap dia akan mengetuk pintu ini dan meminta maaf karena telah menghancurkan ibu, menghancurkan kita. Tapi yang paling aku benci adalah kenyataan bahwa aku memiliki wajah yang mirip dengannya. Setiap kali aku bercermin, aku melihat monster yang kucaci maki setiap malam.”*

Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh, mendarat tepat di atas layar ponsel, mengaburkan tulisan-tulisanku. Dadaku terasa sesak, seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang meremas paru-paruku. Ingatan tentang malam itu—malam saat aku menemukan pesan-pesan gelap di ponsel Ayah dan tangisan tertahan Ibu di balik pintu kamar mandi—kembali menghantamku seperti ombak pasang.

*“Dia bukan Ayah. Dia hanya pria asing yang kebetulan membayar tagihan listrik di rumah ini. Aku ingin pergi. Aku ingin menghapus setiap tetes darahnya yang mengalir di nadiku.”*

Selesai.

Aku menekan tombol kirim. Lingkaran hijau itu kini melingkari foto profilku. Sebuah pengakuan dosa digital. Ada rasa lega yang aneh, seolah-olah beban seberat satu ton baru saja diangkat dari pundakku. Mengunggah rasa sakit ini ke dunia maya, meskipun hanya untuk satu orang yang tak lagi aktif, adalah satu-satunya caraku tetap waras. Aku butuh saksi. Aku butuh seseorang tahu bahwa di balik seragam sekolah yang rapi ini, ada sesuatu yang sedang membusuk.

Aku meletakkan ponsel di atas dada, menatap langit-langit kamar yang gelap. Jantungku masih berdegup kencang. Rasa takut mulai merayap pelan. Bagaimana jika suatu saat akun itu aktif kembali? Bagaimana jika orang di balik akun itu melihat betapa mengerikannya isi pikiranku?

Namun, pikiran itu segera kutepis. Sudah setahun. Akun itu mati. Aku hanya berbicara pada tembok kosong yang bisa menyimpan rahasia.

Aku memejamkan mata, membiarkan kantuk mulai menarikku ke alam bawah sadar. Namun, baru saja kesadaranku hampir hilang, ponsel di atas dadaku bergetar pendek.

*Zzt.*

Hanya sekali. Notifikasi standar. Mungkin hanya pesan dari grup kelas yang membicarakan tugas matematika esok hari. Aku mengabaikannya selama beberapa detik, mencoba kembali tidur. Tapi rasa penasaran itu menusuk-nusuk.

Dengan malas, aku meraih ponsel dan menyalakan layarnya. Cahayanya membuat mataku pedih sesaat.

Ada satu notifikasi di baris teratas. Bukan dari grup WhatsApp kelas. Bukan dari Ibu.

*Instagram: @X_Anonymous membalas cerita Anda.*

Duniaku seolah berhenti berputar. Napasku tertahan. Jari-jariku menjadi kaku saat aku menekan notifikasi itu, membawaku langsung ke dalam kotak ma**k pesan. Hatiku mencelos. Di sana, di bawah cuplikan ceritaku yang gelap dan penuh kemarahan, muncul satu baris kalimat pendek.

*“Aku mendengarmu. Dan kamu tidak sendirian di dalam kegelapan itu.”*

Aku terlonjak duduk, ponselku hampir saja terlepas dari tangan. Jantungku berdentum begitu keras hingga telingaku berdenging. Akun itu tidak mati. Selama setahun ini, selama semua unggahan depresif, marah, dan rapuh yang kukirimkan ke 'Close Friends'... dia menonton. Dia ada di sana.

Dan yang paling mengerikan adalah, dia baru saja menjawab.

Tanganku gemetar hebat saat aku mencoba mengetik balasan, tapi kemudian aku menyadari sesuatu yang membuat darahku membeku. Di bagian bawah layar, muncul tulisan kecil: *Seen just now*.

Dia masih di sana. Menungguku. Rahasia terbesarku bukan lagi rahasia. Dan aku tidak tahu apakah aku harus lari, atau justru merasa lega karena akhirnya ada yang melihatku di tengah keramaian yang menyesakkan ini.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca