Cahaya biru dari layar ponsel memba**h wajahku, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding kamar yang remang. Jam dinding berdetak dengan ritme yang seolah mengejek kesunyian malam ini. Pukul dua pagi. Waktu di mana kejujuran biasanya merayap keluar dari celah-celah pertahanan yang paling kokoh sekalipun.
Jempolku menggantung di atas ikon lingkaran hijau kecil di sudut kanan atas layar Instagramβfitur *Close Friends*. Selama setahun penuh, lingkaran hijau itu adalah satu-satunya jendelaku untuk bernapas. Di baliknya, aku menumpahkan segala racun, ketakutan, dan sisa-sisa trauma yang tidak berani kusuarakan. Aku selalu mengira aku sedang berbicara pada sebuah nisan digital, sebuah akun anonim milik mantan sahabatku yang sudah lama menghilang dari peredaran.
Namun, kenyataan bahwa Argaβsi cowok pendiam yang duduk di barisan belakang kelas, yang hampir tidak pernah bicara lebih dari tiga kalimat padakuβadalah orang di balik akun itu, mengubah segalanya.
Dadaku berdenyut, rasa sesak yang familiar kembali datang. Bukan karena marah, tapi karena rasa te******* yang luar biasa. Arga telah melihat semuanya. Dia melihat air mataku dalam bentuk tulisan, dia membaca setiap kebencianku pada diri sendiri, dan dia menyaksikan bagaimana aku hancur berkeping-keping di tiap unggahan tengah malam.
Aku mulai mengetik. Kali ini, tidak ada foto pemandangan malam yang kabur atau kutipan sedih dari buku lama. Hanya latar belakang hitam pekat dengan teks putih di tengahnya.
*Selama ini, aku selalu takut terlihat. Aku membangun tembok ini supaya aku punya tempat untuk bersembunyi, sambil diam-diam berharap ada seseorang yang c**up berani untuk memanjatnya.*
Aku berhenti sejenak. Napas kutarik dalam-dalam, membiarkan udara dingin malam memenuhi paru-paruku. Jempolku kembali bergerak, menari di atas *keyboard* virtual.
*Ternyata, kamu tidak hanya memanjat tembok itu. Kamu duduk di sana, di kegelapan, mendengarkan setiap keluhanku tanpa sekali pun menghakimi. Mengetahui bahwa kamu ada di sana... rasanya menakutkan, tapi di saat yang sama, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku merasa tidak sendirian.*
Aku menatap layar itu lama sekali. Kalimat itu terasa sangat berat, seolah setiap hurufnya terbuat dari timah. Ini adalah deklarasi penyerahan diriku. Selama ini aku menganggap Arga sebagai ancaman karena dia memegang rahasiaku, tapi malam ini, aku menyadari bahwa dia bukan pemegang rahasia. Dia adalah saksi hidup dari keberadaanku yang paling rapuh.
*Ini adalah unggahan terakhir di sini. Aku tidak butuh tempat sembunyi lagi. Karena sekarang, aku tahu bahwa suara yang paling lirih sekalipun, jika diucapkan dengan jujur, akan menemukan pendengarnya.*
Aku menekan tombol 'Share'. Lingkaran hijau itu menyala sekali, lalu redup. Selesai.
Selama beberapa menit, aku hanya menatap layar yang menunjukkan unggahan tersebut. Menunggu. Menunggu ledakan yang kupikir akan terjadi di dalam dadaku. Namun, yang datang justru adalah ketenangan yang asing. Rasanya seperti melepaskan ransel penuh batu yang sudah kupanggul selama bertahun-tahun.
Aku beralih ke pengaturan daftar *Close Friends*. Hanya ada satu akun di sana. Akun anonim itu. Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku menekan tombol 'Remove'.
Satu klik.
Daftar itu kini kosong. Angka '1' berubah menjadi '0'.
Aku meletakkan ponsel di atas dada, menatap langit-langit kamar yang gelap. Trauma itu masih ada, luka-luka lama dari pengkhianatan sahabatku masih meninggalkan bekas yang nyata, tapi mereka tidak lagi memegang kendali atas jempolku. Aku bukan lagi tawanan dari rahasia-rahasiaku sendiri.
Tiba-tiba, ponselku bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar kunci. Jantungku mencelos, berdegup kencang hingga terasa ke pangkal tenggorokan.
Bukan dari Instagram. Itu adalah pesan WhatsApp dari nomor yang baru saja kusimpan dua hari lalu.
**Arga:** *Temboknya mungkin sudah runtuh, tapi aku masih di sini. Besok, mau bicara langsung tanpa lewat layar?*
Aku terpaku. Oksigen seolah menghilang dari sekitarku. Selama setahun ini, aku merasa aman karena ada jarak antara aku dan 'sang saksi'. Jarak berupa layar ponsel, enkripsi data, dan identitas anonim. Tapi sekarang, Arga meminta sesuatu yang paling kutakuti di dunia ini.
Dia memintaku untuk hadir sepenuhnya. Tanpa filter, tanpa editan, tanpa jeda untuk berpikir sebelum mengetik.
Aku menatap layar ponselku yang kembali gelap, memantulkan bayangan mataku yang lelah namun waspada. Apakah aku benar-benar siap untuk membiarkan seseorang ma**k ke duniaku yang berantakan, bukan sebagai pengamat rahasia, tapi sebagai manusia yang nyata?
Tanganku bergerak membalas pesan itu, namun sebelum aku sempat mengetik sepatah kata pun, sebuah ketukan pelan terdengar dari jendela kamarku di lant** dua.
Mataku membelalak. Itu mustahil. Tidak ada orang yang bisa naik ke sana, kecuali...
Aku bangkit dari tempat tidur, mendekati jendela dengan jantung yang berpacu liar. Saat aku menyingkap sedikit tirainya, aku melihat siluet seorang laki-laki berdiri di atas dahan pohon mangga besar di samping rumahku, dengan hoodie hitam dan cahaya ponsel yang menerangi wajahnya yang tenang.
Itu Arga. Dan dia tidak sedang menatap ponselnya. Dia sedang menatap lurus ke arah mataku.
Lanjutkan Membaca Bab 20 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!