Layar ponselku berpendar di tengah keremangan senja, menampilkan lingkaran hijau yang selama setahun ini menjadi satu-satunya katarsis bagiku. *Close Friends.* Satu fitur sederhana yang telah menampung ribuan kata penuh amarah, air mata, dan rasa tidak aman yang tidak pernah berani kuucapkan keras-keras. Namun, sore ini, lingkaran hijau itu terasa seperti jeruji besi yang kupasang sendiri.
Aku duduk di bangku beton taman belakang sekolah yang sudah sepi. Angin sore berembus pelan, menerbangkan beberapa helai rambut ke wajahku. Di sampingku, Arga duduk dengan tenang. Ia tidak menuntut penjelasan, tidak juga mendesakku untuk bicara. Ia hanya ada di sana, kehadirannya terasa seperti jangkar yang menahanku agar tidak hanyut oleh kecemasanku sendiri.
"Kamu tahu," suaraku serak, memecah keheningan yang c**up lama menyelimuti kami. "Waktu aku tahu itu kamu... orang di balik akun anonim itu, aku merasa te*******. Rasanya lebih buruk daripada kalau seluruh sekolah tahu rahasia-rahasiaku."
Arga menoleh. Sinar matahari yang nyaris tenggelam membiaskan warna jingga di garis rahangnya yang tegas. "Kenapa?"
"Karena kamu bukan sekadar penonton," aku meremas pinggiran ponselku. "Kamu kenal aku di dunia nyata. Kamu lihat aku di kelas, kamu dengar aku bicara, dan kamu tahu betapa berbedanya 'Mika yang asli' dengan 'Mika yang ada di Close Friends'."
Arga terdiam sejenak, matanya menatap lurus ke arah pepohonan yang bergoyang. "Bagiku, nggak ada bedanya, Mik. Mika yang menulis semua itu dan Mika yang duduk di depanku sekarang adalah orang yang sama. Satu-satunya perbedaan adalah yang satu menggunakan jempolnya untuk bicara, dan yang satu lagi terlalu takut untuk membuka mulut."
Aku tertawa getir. "Itu sindiran?"
"Itu fakta," sahutnya lembut, tanpa nada menghakimi. "Kita semua punya filter, Mik. Di Instagram, kamu pakai filter untuk membuat fotomu terlihat lebih estetik. Di dunia nyata, kamu pakai filter kepribadian supaya orang nggak melihat luka-lukamu. Aku cuma kebetulan melihat apa yang ada di balik filter itu."
Aku menunduk, memandangi ujung sepatuku yang berdebu. Rasanya aneh. Selama ini aku menganggap Arga sebagai ancaman setelah tahu dia memegang 'kunciku'. Tapi sore ini, di bawah langit yang perlahan menggelap, aku menyadari bahwa dia adalah satu-satunya orang yang tidak berpaling saat melihat sisi terburukku.
"Aku takut kalau kita... kalau aku berhenti menulis di sana, aku nggak punya tempat lagi," aku mengaku, suaraku nyaris berbisik. "Aku takut kalau aku mulai bicara jujur padamu di dunia nyata, kamu bakal bosan. Atau lebih buruk lagi, kamu bakal sadar kalau aku nggak semenarik tulisan-tulisanku."
Arga menggeser duduknya, sedikit lebih dekat hingga aku bisa mencium aroma samar sabun cuci dari seragamnya. Ia mengulurkan tangan, ragu sejenak, sebelum akhirnya menyentuh jemariku yang masih mendekap ponsel. Sentuhannya hangat, berbanding terbalik dengan layar ponselku yang dingin.
"Mika, aku sudah membaca keluh kesahmu selama setahun. Aku sudah tahu betapa berisiknya pikiranmu dan betapa rapuhnya hatimu. Kalau aku mau pergi, aku sudah melakukannya dari bulan pertama," ucapnya pelan namun mantap. "Aku nggak butuh 'Close Friends' untuk peduli sama kamu. Aku mau mendengar suaramu langsung, tanpa jeda layar, tanpa sinyal internet."
Aku menatap matanya, mencari keraguan di sana, tapi yang kutemukan hanyalah ketulusan yang membuat dadaku sesak. Selama ini aku sibuk membangun benteng digital, mengira bahwa kejujuran hanya bisa dilakukan dalam ruang gelap dan tersembunyi. Aku lupa bahwa hubungan manusia yang sebenarnya tidak terjadi di balik sensor cahaya, melainkan di dalam kekacauan dunia nyata.
Perlahan, aku membuka kunci ponselku. Jempolku bergerak ragu di atas layar. Aku ma**k ke pengaturan cerita, melihat daftar *Close Friends* yang hanya berisi satu nama akun anonim milik Arga.
"Kamu yakin?" tanyaku, menatapnya sekali lagi.
Arga tersenyum tipisβsenyum yang jarang ia perlihatkan pada siapa pun. "Hapus saja. Kita ganti dengan sesuatu yang lebih nyata."
Dengan satu ketukan tegas, aku menghapus daftar itu. Lingkaran hijau itu hilang. Diary digital yang penuh dengan trauma dan rahasia itu kini terkunci, atau mungkin, memang sudah saatnya ditinggalkan. Aku mematikan layar ponselku dan mema**kkannya ke dalam tas.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku tidak merasa perlu memeriksa notifikasi atau melihat siapa yang menonton ceritaku. Karena satu-satunya orang yang ingin kupastikan "melihatku" kini sedang duduk tepat di sebelahku.
"Jadi," aku menarik napas panjang, membiarkan udara sore yang segar memenuhi paru-paruku. "Sekarang apa?"
Arga berdiri, lalu mengulurkan tangannya padaku. "Sekarang, kita pulang. Dan mungkin besok, kita nggak perlu lagi pura-pura nggak kenal di koridor sekolah."
Aku menyambut tangannya. Rasanya nyata. Tekstur kulitnya, tarikan ototnya saat membantuku berdiri, hingga suara langkah kaki kami yang beradu dengan lant** semen. Tidak ada filter, tidak ada edit, tidak ada tombol *undo*.
Kami berjalan berdampingan menuju gerbang sekolah. Namun, saat kami melewati lobi, aku menangkap siluet seseorang yang berdiri di dekat mading, memperhatikanku dan Arga dengan tatapan yang sulit diartikan. Itu adalah Sarah, mantan sahabatku yang akunnya dulu kupikir adalah milik si anonim.
Langkahku terhenti sesaat. Jantungku berdegup kencang. Rahasia digital mungkin sudah berakhir, tapi konsekuensi di dunia nyata baru saja dimulai. Sarah memegang ponsel di tangannya, dan matanya melirik tajam ke arah tautan tangan kami. Apakah ini awal dari babak baru yang lebih tenang, ataukah keputusanku untuk keluar dari persembunyian justru akan memicu badai yang lebih besar?
Lanjutkan Membaca Bab 21 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!