Private Story: Satu-satunya Saksi

Bab 3: Bab 3 - Mika menyadari status 'Seen' muncul di unggahan...

Pengaturan Membaca

Lampu meja belajar yang redup menjadi satu-satunya sumber cahaya di kamar Mika. Remang-remang itu memantulkan bayangan panjang di dinding, menciptakan ilusi seolah-olah ada orang lain yang berdiri di sudut ruangan, mengawasinya. Mika meringkuk di kursi plastiknya, memeluk lutut ke dada. Di tangannya, layar ponsel berpendar terang, menampilkan aplikasi Instagram dengan latar gelap.

Mika baru saja mengunggah sebuah foto hitam-putih—hanya gambar sepatunya yang menginjak genangan air di parkiran sekolah tadi sore. Namun, bukan fotonya yang penting, melainkan barisan kata yang tertulis di sana dengan ukuran fon kecil dan transparan, hampir menyatu dengan latar belakang.

*Hari ini aku tersenyum tiga belas kali. Semuanya palsu. Aku merasa seperti pajangan di etalase toko—terlihat rapi dari luar, tapi sebenarnya kosong dan berdebu di dalam. Kalau besok aku tidak datang ke sekolah, apa ada yang akan menyadarinya? Atau aku hanya akan dianggap sebagai kursi kosong yang tidak sengaja terlupakan?*

Mika menghela napas panjang, sebuah kebiasaan yang ia lakukan untuk membuang sesak di dadanya. Selama setahun terakhir, fitur *Close Friends* ini adalah tempat sampahnya. Satu-satunya pengikut di sana adalah akun bernama @K_Saraswati—akun milik sahabat lamanya yang telah pindah ke luar negeri dan menghapus aplikasinya sejak lama. Akun itu mati, tidak ada foto profil, tidak ada unggahan baru. Bagi Mika, akun itu adalah lubang di tengah hutan tempat ia bisa meneriakkan rahasianya tanpa takut ada gema yang kembali.

Ia hendak meletakkan ponselnya di meja dan mencoba memejamkan mata saat sebuah det**l kecil di sudut kiri bawah layar menangkap perhatiannya.

Matanya menyipit. Jantungnya melewatkan satu detakan.

Biasanya, di sana hanya ada tulisan "Seen by" yang kosong. Tidak pernah ada angka. Tidak pernah ada nama. Namun malam ini, di bawah ikon lingkaran hijau itu, tertera sebuah angka kecil yang seolah-olah berteriak di depan wajahnya.

*Seen by 1.*

Mika membeku. Ia merasa seluruh oksigen di kamarnya tersedot keluar. Dengan tangan yang tiba-tiba bergetar, ia menyentuh angka itu untuk melihat daftar penonton ceritanya.

*@K_Saraswati.*

"Nggak mungkin," bisik Mika pelan. Suaranya pecah di tengah kesunyian malam.

Ia segera mengeklik profil tersebut. Masih sama. Tanpa foto profil. Tanpa unggahan. Namun, statusnya menunjukkan sesuatu yang membuat bulu kuduk Mika meremajang: *Active now.*

Dunia Mika seolah berputar. Selama setahun ini, ia telah membagikan segalanya di sana. Ia menceritakan bagaimana ia membenci cara ibunya memandangnya dengan rasa kasihan, bagaimana ia sering menangis di bilik toilet nomor tiga saat jam istirahat, dan betapa ia merasa muak dengan kepura-puraan teman-teman sekelasnya. Ia telah menelanjangi jiwanya di depan akun mati ini.

Dan sekarang, akun itu hidup kembali.

Sebelum Mika sempat memikirkan apa yang harus ia lakukan—apakah ia harus segera menghapus unggahan itu atau langsung memblokir akun tersebut—sebuah notifikasi muncul di bagian atas layar.

Sebuah pesan ma**k. *Direct Message.*

Mika menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering dan perih. Jarinya ragu-ragu di atas layar, antara ingin lari atau menuntaskan rasa penasaran yang menyakitkan ini. Dengan keberanian yang dipaksakan, ia membuka ruang obrolan itu.

Pesan itu singkat. Hanya tiga kata. Namun efeknya seperti hantaman godam di dada Mika.

**K_Saraswati:** *Aku mendengarmu.*

Ponsel itu hampir saja terlepas dari genggaman Mika. Ia melemparkannya ke atas tempat tidur seolah-olah benda itu baru saja berubah menjadi bara api yang panas. Ia berdiri dengan cepat, mundurnya sampai menab**k rak buku hingga beberapa novelnya terjatuh ke lant**.

"Siapa? Siapa kamu?" Mika bertanya pada kegelapan, seolah-olah sosok di balik layar itu bisa mendengarnya secara fisik.

Pikirannya berpacu liar. Saras? Tidak, Saras tidak pernah menggunakan gaya bicara sesingkat itu. Lagi pula, nomor ponsel yang terhubung dengan akun itu seharusnya sudah hangus. Lalu siapa yang sekarang memegang aksesnya? Siapa yang selama ini diam-diam membaca setiap keluhan, setiap rasa sakit, dan setiap pemikiran gelap yang Mika tumpahkan selama 365 hari terakhir?

Mika kembali menyambar ponselnya dengan gerakan panik. Ia ma**k ke pengaturan akun, jempolnya bergerak liar mencari tombol *Delete Account* atau *Deactivate*. Ia harus melenyapkan ini semua. Semua bukti kerentanannya, semua rahasia yang ia kunci rapat-rapat dari dunia nyata, kini berada di tangan seseorang yang asing.

Seseorang tahu bahwa ia pura-pura bahagia. Seseorang tahu tentang trauma itu. Seseorang memegang kendali atas dirinya.

Ia membuka arsip ceritanya. Ada ratusan unggahan di sana. Semuanya adalah bagian dari diri Mika yang paling rapuh. Jika orang ini telah melihat semuanya...

Mika menutup mulutnya dengan telapak tangan, menahan isak tangis yang mulai mendesak keluar. Rasa malu yang luar biasa membakar pipinya. Ia merasa seperti berdiri te******* di tengah lapangan sekolah, sementara semua orang menunjuk dan menertawakannya.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar lagi di genggamannya. Satu pesan baru ma**k.

**K_Saraswati:** *Jangan dihapus. Kamu tidak perlu berpura-pura di sini.*

Mika melempar ponselnya ke lant**. Kali ini ia benar-benar membiarkannya tergeletak di sana. Napasnya tersengal-sengal, air mata mulai membasahi wajahnya. Ia merasa tidak aman, bahkan di dalam kamarnya sendiri.

Siapa pun orang ini, dia bukan hanya sekadar melihat. Dia sedang memperhatikan. Dia tahu apa yang sedang Mika pikirkan saat ini.

Mika menatap pintu kamarnya yang terkunci, lalu kembali menatap ponsel yang tergeletak diam di lant** dengan layar yang masih menyala redup. Ketakutan terbesarnya telah menjadi kenyataan: sisi buruknya telah terlihat, dan sekarang, ia tidak lagi memiliki tempat untuk bersembunyi.

Namun, di balik kepanikan yang melumpuhkan itu, ada secercah tanya yang muncul di benaknya: *Siapa sebenarnya yang berada di balik layar itu, dan mengapa dia baru membalas sekarang?*

Mika memungut ponselnya kembali, jari gemetarnya berhenti tepat di atas tombol 'Blokir'. Ia ragu. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, seseorang mengatakan bahwa mereka "mendengarnya". Kalimat itu terasa seperti kutukan, sekaligus sebuah jangkar yang menariknya dari kedalaman isolasi.

Mika menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan badai di kepalanya. Ia harus tahu siapa orang ini sebelum ia benar-benar menghilang. Dengan sisa keberanian yang ada, ia mulai mengetik balasan.

*Siapa kamu sebenarnya?*

Mika menunggu. Satu menit terasa seperti satu jam. Ikon "typing" muncul di bawah nama akun itu, membuat jantung Mika berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Siapa pun itu, orang ini memegang kunci gerbang dunianya yang selama ini tertutup rapat. Dan begitu gerbang itu terbuka, Mika tahu hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca