Lant** koridor SMA Pelita Bangsa yang biasanya terasa dingin, pagi ini seolah berubah menjadi bara api di bawah sol sepatuku. Setiap langkah terasa berat, seakan-akan aku sedang berjalan menuju tiang gantungan. Ponsel di saku seragamku terasa panas, seolah benda itu siap meledak kapan saja setelah pesan tiga kata semalam meruntuhkan seluruh dunia yang kubangun dengan susah payah.
*Aku mendengarmu.*
Tiga kata itu terus bergema di kepalaku, mengalahkan bising suara tawa siswa lain yang sedang asyik membicarakan drama Korea terbaru atau rencana nongkrong sepulang sekolah. Aku merapatkan pelukan pada tas ransel di dada, sebuah gestur pertahanan diri yang otomatis kulakukan setiap kali merasa terancam. Dan hari ini, seluruh sekolah terasa seperti ancaman.
Aku melangkah ma**k ke kelas XI-MIPA 2 dengan kepala tertunduk, namun mataku bergerak liar di balik poni. Siapa? Siapa di antara tiga puluh orang di ruangan ini yang selama setahun terakhir diam-diam menyaksikan jiwaku yang te******* di *Close Friends*?
Pandanganku jatuh pada Rian yang duduk di barisan depan. Dia sedang tertawa keras sambil menunjukkan layar ponselnya pada teman-temannya. Jantungku mencelos. Apa yang dia tunjukkan? Apakah itu tangkapan layar unggahanku dua minggu lalu tentang betapa aku benci melihat diriku sendiri di cermin? Aku menahan napas sampai Rian membalikkan ponselnyaβhanya sebuah video kucing yang jatuh dari pagar. Aku mengembuskan napas gemetar, tapi rasa mual di perutku tidak kunjung hilang.
Lalu ada Sarah. Mantan sahabatku yang kini duduk di pojok kiri, sibuk memoles *lip balm*. Dulu, akun anonim itu kubuat karena aku yakin itu adalah akun lamanya yang sudah tidak terpakai. Tapi Sarah bahkan tidak melirikku saat aku lewat. Dia terlalu sibuk dengan dunianya yang berkilau, dunia yang tidak lagi menyisakan tempat untuk orang sepertiku. Lagipula, Sarah tidak pernah punya kedalaman emosi untuk menulis kalimat sependek namun sekuat itu.
Aku duduk di bangkuku, tepat di baris kedua dari belakang. Tanganku gemetar saat merogoh ponsel. Aku ingin memblokir akun itu sekarang juga. Aku ingin menghapus jejak kelemahanku. Namun, jemariku kaku di atas layar. Bagaimana jika dia sudah menyimpan semuanya? Bagaimana jika satu gerakan salah dariku akan membuatnya menyebarkan rahasia-rahasiaku ke grup angkatan?
"Pagi, Mika. Tumben mukanya pucat banget? Kayak habis lihat s****."
Aku tersentak hingga kursiku berderit nyaring. Jessy, teman sebangkuku yang hobi bergosip, menatapku dengan kening berkerut. Matanya yang tajam seolah sedang memindai setiap pori-pori wajahku.
"Kurang tidur aja," jawabku singkat, berusaha menstabilkan suaraku yang parau. Aku segera membuka buku paket Biologi, pura-pura fokus pada diagram sel yang membosankan.
"Oh, kirain kenapa. Eh, lo tahu nggak? Katanya semalam ada yang curhat galau banget di *second account* terus ketahuan sama cowok yang dia taksir. Malu banget sih kalau gue jadi dia," oceh Jessy tanpa diminta.
Darahku serasa berhenti mengalir. Napasku tercekat di tenggorokan. "Si... siapa?"
"Anak kelas sebelah, si Dinda. Kenapa? Kok lo kayak kaget banget gitu?" Jessy menyipitkan mata, menyelidiki reaksiku.
"Nggak apa-apa. Cuma... kasihan aja," aku bergumam, memalingkan wajah ke arah jendela.
Keringat dingin mulai membasahi telapak tanganku. Di luar, lapangan basket mulai ramai. Mataku tak sengaja menangkap sosok Arga yang sedang berjalan sendirian di pinggir lapangan menuju gedung perpustakaan. Arga, cowok yang selalu duduk di pojok belakang kelasku, yang jarang bicara, dan selalu terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu yang jauh lebih berat daripada ujian matematika.
Aku teringat sesuatu. Akun anonim itu tidak pernah mengunggah apa pun. Tidak ada foto profil, tidak ada bio. Tapi dia selalu menjadi orang pertama yang melihat ceritaku, seolah dia memang menunggu kehadiranku di dunia maya.
Apakah mungkin Arga? Tidak, itu konyol. Arga bahkan mungkin tidak tahu namaku jika kami tidak diabsen berurutan. Dia adalah definisi dari 'tidak terlihat'. Tapi bukankah aku juga begitu? Kami adalah dua orang yang sama-sama bersembunyi di balik bayang-bayang.
Bel ma**k berbunyi, memecah kecemasanku untuk sementara. Guru Fisika ma**k dengan setumpuk kertas ulangan yang membuat seisi kelas mengeluh. Namun, fokusku sama sekali tidak pada hukum Newton. Aku menulis beberapa nama di pinggir buku tulisku, lalu mencoretnya satu per satu.
Rian? Terlalu berisik.
Sarah? Tidak mungkin peduli.
Jessy? Dia pasti sudah menyebarkannya sejak tadi pagi kalau dia tahu.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi muncul di layar ponsel yang kusembunyikan di bawah kolong meja. Jantungku berdentum keras hingga rasanya bisa terdengar oleh orang di sampingku. Dengan tangan gemetar, aku mengintip layar.
Satu pesan baru dari akun anonim itu.
*Kamu nggak perlu curiga sama semua orang di kelas, Mika. Aku nggak di sana untuk menghakimimu.*
Aku tersentak dan spontan menegakkan punggung, menoleh ke arah bangku belakang dengan gerakan patah-patah. Di sana, di pojok ruangan yang remang, Arga sedang duduk tenang. Dia tidak memegang ponsel. Tangannya sibuk mencatat penjelasan guru di papan tulis. Namun, tepat saat aku menatapnya, dia mendongak.
Mata kami bertemu. Tidak ada senyum, tidak ada ejekan. Hanya sebuah tatapan datar yang dalam, seolah dia bisa melihat menembus topeng yang kupakai selama ini.
Arga perlahan meletakkan pulpennya. Dia tidak mengalihkan pandangan, justru seulas senyum tipisβhampir tak terlihatβmuncul di sudut bibirnya. Dia kemudian menggerakkan jemarinya, mengetuk meja kayunya pelan, seolah sedang mengirimkan kode morse yang hanya bisa kupahami.
*Dia tahu.*
Rasa takut yang tadinya menguasai, kini berganti dengan rasa mual yang lebih hebat. Arga adalah orangnya. Cowok paling misterius di kelas ini telah memegang seluruh kendali atas harga diriku. Sebelum aku sempat memikirkan langkah selanjutnya, Arga merogoh sesuatu dari saku celananya dan meletakkannya di atas meja.
Sebuah gantungan kunci berbentuk kunci kecil yang sangat kukenali. Itu adalah gantungan kunci yang kuceritakan di *Close Friends* tiga hari laluβbenda yang hilang saat aku menangis di taman belakang sekolah.
Arga menatap gantungan kunci itu, lalu kembali menatapku, memberikan isyarat dengan matanya agar aku menemuinya saat istirahat nanti. Duniamu yang tertutup rapat, kini baru saja didob**k paksa oleh orang yang paling tidak kuharapkan.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!