Private Story: Satu-satunya Saksi

Bab 5: Bab 5 - Mika dipasangkan dengan Arga untuk proyek kelas...

Pengaturan Membaca

Suara decit ujung spidol di atas papan tulis terasa seperti gesekan amplas di telingaku. Aku meremas ujung rok abu-abuku, berusaha menetralkan gemuruh di dada yang tidak mau kompromi sejak sepuluh menit lalu. Di depan kelas, Bu Rahmi baru saja mengumumkan bahwa proyek analisis puisi angkatan pujangga baru harus dikerjakan berpasangan.

Dan nama yang disebut tepat setelah namaku adalah Arga.

"Silakan duduk dengan pasangan masing-masing. Kalian punya waktu empat puluh menit untuk menentukan pembagian tugas dan memilih penyair yang akan dibahas," suara Bu Rahmi terdengar seperti gema yang jauh.

Aku menarik napas panjang, menoleh perlahan ke arah barisan belakang. Di sana, di pojok kelas yang remang karena lampu neon yang berkedip-kedip, Arga sedang mema**kkan buku tulisnya ke dalam tas dengan gerakan yang sangat lambat. Wajahnya datar, seperti air di sumur tua—gelap dan tidak memantulkan apa pun.

Apakah benar dia? Cowok yang selama ini kulihat hanya sebagai figuran di kelas ini, benarkah dia pemilik akun anonim itu? Cowok yang tadi malam mengirimkan pesan singkat namun mampu meruntuhkan seluruh benteng pertahananku?

Dengan kaki yang terasa seberat timah, aku menyeret kursiku mendekat ke mejanya. Suara gesekan kayu kursi dengan lant** semen menimbulkan bunyi nyaring yang membuat beberapa teman menoleh, tapi Arga bahkan tidak berkedip. Saat aku sampai di hadapannya, dia hanya menggeser tumpukan bukunya sedikit, memberi ruang bagiku untuk meletakkan catatanku di sudut mejanya.

"Hai," sapa ku, nyaris berbisik. Suaraku terdengar payah, ada getaran yang kentara di sana.

Arga tidak menjawab. Dia hanya mengangguk tipis—sangat tipis sampai aku ragu apakah itu benar-benar sebuah anggukan atau hanya gerak refleks lehernya yang kaku. Dia tetap menunduk, fokus mencoret-coret pinggiran buku paketnya dengan pulpen hitam.

"Bu Rahmi bilang kita harus pilih penyair," lanjutku, mencoba mencairkan keheningan yang menyesakkan ini. "Aku kepikiran Amir Hamzah, atau mungkin Chairil Anwar kalau kamu mau yang lebih... eksplosif?"

Arga akhirnya mendongak. Matanya yang tajam tertutup oleh helaian rambut hitam yang sedikit berantakan. Dia menatapku selama dua detik—dua detik yang membuatku merasa seperti sedang dipindai oleh sinar X. Aku mencari-cari jejak empati di sana, mencari sosok yang menulis *'Aku mendengarmu'* di kolom pesanku. Namun, yang kutemukan hanyalah tatapan kosong yang dingin. Sangat dingin hingga membuat tengkukku meremang.

"Terserah kamu saja," jawabnya singkat. Suaranya rendah dan datar, tanpa intonasi sedikit pun.

Aku mengerutkan kening. "Terserah? Ini proyek bareng, Arga. Nilainya bakal ma**k ke rapor akhir."

"Aku ikut pilihanmu. Kabari saja bagian mana yang harus kukerjakan," ucapnya lagi, kali ini dia kembali menunduk dan mulai memakai satu *earphone* di telinga kirinya.

Sikapnya yang acuh tak acuh ini memicu rasa jengkel sekaligus bingung di dadaku. Ini tidak ma**k akal. Orang yang melihat sisi paling rapuhku di *Close Friends*—orang yang tahu betapa seringnya aku menangis karena merasa tidak terlihat oleh dunia—tidak mungkin bersikap seolah aku hanyalah gangguan di hari Seninnya yang membosankan.

Aku condong ke depan, mencoba memperkecil jarak di antara kami. Bau parfumnya yang samar—seperti aroma kayu basah dan mint—merayap ma**k ke indra penciumanku.

"Arga, bisa kita bicara soal yang lain?" tanyaku dengan suara rendah, hanya untuk kami berdua.

Tangan Arga yang sedang menulis berhenti bergerak. Pulpennya tertahan di atas kertas, meninggalkan noda tinta hitam yang melebar. Jantungku berpacu lebih cepat. Aku menatap punggung tangannya, mencari tanda-tanda kegugupan, tapi tangannya tetap stabil.

"Soal apa?" tanyanya tanpa menoleh.

"Soal... pesan itu. Tadi malam."

Hening sejenak. Di sekeliling kami, riuh rendah suara teman-teman sekelas yang sedang berdiskusi terdengar seperti kebisingan latar belakang yang tidak nyata. Arga perlahan melepaskan *earphone*-nya, lalu menoleh ke arahku sepenuhnya. Untuk pertama kalinya, aku bisa melihat wajahnya dengan jelas dalam jarak sedekat ini. Ada luka gores kecil di dekat pelipisnya, dan matanya terlihat sangat lelah.

"Aku nggak tahu apa yang kamu bicarakan, Mika," katanya, suaranya kini terdengar sedikit lebih tajam, seperti peringatan.

"Jangan bohong. Akun itu... itu kamu, kan? Kamu yang lihat ceritaku selama setahun ini?" desakku. Rasa takut dan penasaran bercampur menjadi satu, membuat dadaku terasa sesak.

Arga menutup buku paketnya dengan suara 'buk' yang c**up keras hingga membuatku tersentak. Dia merapikan letak kacamatanya, lalu menatapku dengan tatapan yang sangat asing. Tatapan yang biasanya diberikan orang asing kepada orang g*** di pinggir jalan.

"Aku nggak main Instagram kalau itu yang kamu maksud," ucapnya dingin. "Ponselku bahkan nggak punya aplikasi itu. Jadi, kalau kamu mau bahas proyek ini, ayo bahas. Kalau mau bahas hal aneh yang nggak kupahami, mending kamu cari pasangan lain."

Aku tertegun. Kata-katanya seperti siraman air es di tengah siang yang terik. Aku menatapnya, mencari kebohongan di matanya, tapi yang kulihat hanyalah kejengkelan yang jujur. Dia tidak terlihat seperti orang yang menyembunyikan rahasia besar; dia terlihat seperti cowok yang benar-benar terganggu karena waktunya terbuang sia-sia.

Apakah aku salah orang? Tapi akun itu... akun itu mengikuti semua pergerakanku. Dan hanya Arga yang selalu ada di sekitarku saat aku mengunggah sesuatu di sekolah.

"Tapi..."

"Bagianku yang mana?" Arga memotong perkataanku, dia menyodorkan selembar kertas kosong ke depanku. "Tulis saja. Aku bakal selesaikan di rumah."

Aku mengambil pulpen dengan tangan gemetar, menuliskan beberapa poin pembagian tugas tanpa benar-benar melihat apa yang kutulis. Arga memperhatikanku sebentar, lalu tanpa sepatah kata pun, dia mengambil kembali kertas itu setelah aku selesai dan mema**kkannya ke dalam saku jaketnya.

Bel pergantian pelajaran berbunyi nyaring. Arga langsung berdiri, menyampirkan tasnya di bahu, dan melangkah pergi bahkan sebelum Bu Rahmi resmi membubarkan kelas. Dia berjalan menembus kerumunan siswa dengan bahu yang tegak, tidak menoleh sekali pun ke arahku.

Aku masih terpaku di kursinya, mencium sisa aroma kayu basah yang tertinggal. Pikiranku kalut. Jika bukan dia, lalu siapa? Siapa yang selama setahun ini diam-diam ma**k ke dalam ruang paling gelap di kepalaku? Siapa yang berani-beraninya mengatakan bahwa dia mendengarku, lalu membiarkanku merasa sendirian lagi seperti ini?

Aku merogoh saku seragamku, mengeluarkan ponsel, dan membuka aplikasi Instagram dengan tangan yang masih gemetar. Aku membuka daftar pengikut di fitur *Close Friends*-ku. Hanya satu akun. Tanpa foto profil. Tanpa unggahan.

Tepat saat itu, sebuah notifikasi muncul di bagian atas layar ponselku.

**[Username Anonim]: Kamu kelihatan bingung hari ini, Mika. Kenapa?**

Napas seolah berhenti di tenggorokanku. Aku mendongak dengan cepat, menyapu pandangan ke seluruh koridor kelas yang mulai kosong. Di kejauhan, aku melihat punggung Arga yang menghilang di balik belokan tangga. Namun, di sudut lain koridor, dekat loker yang gelap, aku melihat seseorang yang lain. Seseorang yang sedang memegang ponsel, menatap lurus ke arahku dengan senyum tipis yang sulit diartikan sebelum akhirnya berbalik pergi.

Tanganku mendingin. Siapa pun itu, dia ada di sini. Di sekolah ini. Dan dia sedang memperhatikanku sekarang.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca