Deru kipas angin tua di langit-langit kelas terdengar seperti napas yang tersengal-sengal, berusaha keras mendinginkan suasana gerah di jam terakhir pelajaran Sejarah. Namun, bagiku, suara itu lebih mirip detak jantung yang berpacu di luar kendali. Aku meremas ujung rok abu-abuku di bawah meja, merasakan telapak tanganku yang lembap.
Pikiranku sama sekali tidak tertuju pada penjelasan Pak Bambang tentang Revolusi Industri. Fokusku tertahan pada satu baris kalimat yang ma**k ke DM Instagram-ku semalam. *'Aku mendengarmu.'*
Hanya tiga kata. Tapi efeknya lebih mengerikan daripada diseret ke depan kelas untuk mengerjakan soal matematika tersulit. Selama setahun ini, aku merasa aman. Aku merasa sedang melempar surat dalam botol ke samudera yang kosong, hanya untuk menyadari bahwa seseorang di seberang sana telah mengumpulkan botol-botol itu, membacanya satu per satu, dan sekarang ia sedang menatapku dari balik ombak.
Aku melirik seisi kelas dari sudut mataku. Siapa? Siapa pemilik akun @Lentera_Senja itu? Aku selalu yakin itu adalah akun lama Keyla yang sudah tidak aktif, tapi jawaban semalam menghancurkan teori itu. Keyla tidak akan membalas. Keyla sudah pergi dan melupakan segalanya tentang aku.
Mataku terpaku pada punggung beberapa siswa di barisan depan. Rian yang selalu sibuk dengan ponselnya? Tidak, dia terlalu berisik untuk menjadi pendengar yang sunyi. Sarah? Dia terlalu sibuk dengan cermin kecilnya. Lalu, mataku bergeser ke baris belakang, tepat di sudut kiri.
Arga.
Dia duduk dengan bahu tegap, kepalanya menunduk fokus pada buku catatan. Rambutnya yang agak berantakan menutupi keningnya. Arga adalah definisi dari 'tidak terlihat'. Dia jarang bicara, tidak punya geng, dan selalu pulang tepat waktu. Apakah mungkin cowok sekaku itu adalah orang yang menyimak setiap keluhan emosional, kegelapan, dan kerentanan yang aku unggah di *Close Friends*?
Tiba-tiba, tanganku gemetar. Aku harus memastikannya. Aku harus tahu apakah orang ini benar-benar ada di sini, di ruangan ini, sekarang juga.
Dengan gerakan lambat yang sengaja aku buat agar tidak mencolok, aku merogoh ponsel di dalam saku seragam. Aku menunduk, menggunakan tubuh Sarah di depanku sebagai tameng dari pandangan Pak Bambang. Aku membuka kamera Instagram, mengambil foto buram dari sudut meja yang memperlihatkan secangkir kopi kaleng yang sudah kosong dan ujung buku catatanku yang penuh coretan tinta hitamβgambar sebuah mata yang menangis.
Aku mengunggahnya ke *Close Friends*. Tanpa kata-kata. Hanya foto itu.
Jantungku berdegup kencang, menghantam rusukku. Satu menit berlalu. Dua menit. Aku menatap layar ponsel yang meredup, menunggu ikon lingkaran hijau itu berubah menjadi angka satu di daftar penonton.
*Tik.*
Notifikasi muncul di bagian atas layar. Hatiku mencelos. Bukan hanya dilihat, tapi ada pesan ma**k.
@Lentera_Senja: *Kopi itu sudah dingin, Mika. Sama seperti caramu memandang dunia pagi ini. Dan gambarmu... kamu tidak perlu menangis sendirian di atas kertas itu.*
Napas pembelaku tertahan di tenggorokan. Kepalaku pening. Dia tahu namaku. Dia tahu suasana hatiku pagi ini. Tapi yang paling membuatku merinding adalah kalimat berikutnya yang muncul beberapa detik kemudian.
@Lentera_Senja: *Hati-hati, Pak Bambang sedang berjalan ke arah barisanmu. Simpan ponselnya.*
Refleks, aku melempar ponselku ke dalam kolong meja. Suara gesekan plastik ponsel dengan kayu terdengar nyaring di telingaku, meski mungkin bagi orang lain itu hanya suara biasa. Detik berikutnya, bayangan Pak Bambang melintas di samping mejaku. Beliau berhenti sejenak, membetulkan letak kacamatanya, lalu mengetuk meja Sarah di depanku.
"Sarah, tolong fokus. Jangan mainkan rambut terus," tegur Pak Bambang datar sebelum kembali berjalan ke depan.
Aku merasa dingin menjalar dari ujung kaki hingga ke tengkuk. Aku berkeringat dingin. Dia ada di sini. Pemilik akun itu benar-benar ada di dalam kelas ini. Dia bisa melihatku, dia bisa melihat Pak Bambang, dan dia sedang memperhatikanku setiap detik.
Aku memberanikan diri untuk mengangkat kepala, memutar leherku perlahan ke arah belakang. Aku mencari siapa saja yang memegang ponsel. Rian sedang menulis. Sarah sedang merengut. Dan Arga...
Arga sedang menatapku.
Hanya sedetik. Matanya yang tajam dan kelam bertemu dengan mataku yang penuh ketakutan. Tidak ada senyum, tidak ada lambaian tangan. Dia hanya menatapku dengan ekspresi datar yang sulit dibaca, lalu dia kembali menunduk ke buku catatannya. Tangannya bergerak ritmis, menulis sesuatu dengan pulpen hitamnya.
Apakah itu dia? Atau itu hanya kebetulan?
Rasa tidak aman menyergapku seperti kabut tebal. Aku merasa te******* di tengah keramaian. Selama setahun ini, aku menceritakan tentang bagaimana aku membenci diriku sendiri, tentang trauma saat Keyla mengkhianatiku, tentang malam-malam di mana aku ingin menghilang saja. Semua rahasia itu kini berada di tangan seseorang yang mungkin saja duduk hanya berjarak tiga meter dariku.
Aku kembali meraih ponselku di kolong meja dengan tangan yang masih gemetar. Aku mengetik balasan dengan jempol yang terasa kaku.
*Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu melakukan ini?*
Aku mengirimnya, lalu menatap lurus ke punggung Arga. Aku menunggu gerakan tangannya. Aku menunggu dia merogoh saku atau melihat ke bawah meja. Tapi Arga tetap diam. Dia tidak bergerak sedikit pun.
Justru ponsel di dalam genggamanku bergetar lagi.
@Lentera_Senja: *Aku bukan musuhmu, Mika. Aku hanya satu-satunya orang yang tidak pernah memalingkan wajah saat kamu menunjukkan luka yang kamu sembunyikan dari semua orang.*
Lalu, sebuah det**l terakhir membuat jantungku seolah berhenti berdetak.
@Lentera_Senja: *Ngomong-ngomong, jepit rambut biru di sebelah kiri telingamu hampir jatuh. Kamu harus membetulkannya sebelum istirahat.*
Tanganku menyentuh sisi kepalaku. Benar saja. Jepit rambut kecil yang kupakai sejak pagi sudah melonggar dan hampir merosot dari helaian rambutku. Sudut pandang ini... jepit itu ada di sisi kiri. Posisi yang hanya bisa dilihat dengan jelas oleh seseorang yang duduk di barisan belakang sebelah kiri.
Posisi Arga.
Aku menoleh lagi dengan cepat, kali ini dengan tatapan menantang. Namun, kursinya kosong. Tasnya masih ada di sana, tersampir di sandaran kursi, tapi Arga sudah tidak ada di tempatnya. Aku celingukan ke seluruh penjuru kelas yang mulai gaduh karena bel istirahat baru saja berbunyi.
Di ambang pintu kelas yang terbuka, aku melihat sekilas ujung jaket denim gelap yang sangat kukenal milik Arga menghilang di tikungan koridor.
Dia sengaja pergi. Dia tahu aku akan mencarinya. Dan yang paling menakutkan adalah perasaan bahwa mulai detik ini, hidupku bukan lagi milikku sendiri. Ada seseorang yang memegang kendali atas semua rahasia yang kuanggap terkunci rapat.
Aku bangkit dengan kaki lemas, mengabaikan ajakan makan siang dari teman sekelasku yang lain. Aku harus mengejarnya. Aku harus memastikan apakah cowok pendiam itu benar-benar 'saksi' atas segala kehancuranku, ataukah ada permainan yang lebih besar yang sedang terjadi di sini.
Namun, saat aku sampai di ambang pintu koridor yang sepi, sebuah pesan baru ma**k.
@Lentera_Senja: *Jangan dikejar, Mika. Kamu belum siap melihat siapa aku di dunia nyata. Tapi aku akan menunggumu di postingan berikutnya malam ini.*
Langkahku terhenti. Aku berdiri mematung di koridor sekolah yang mulai ramai, merasa bahwa dinding-dinding di sekitarku tiba-tiba memiliki mata dan telinga. Aku tidak lagi punya tempat untuk bersembunyi.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!