Aroma kertas lama dan pembersih lant** yang tajam menyerang indra penciumanku begitu aku melangkah ma**k ke perpustakaan. Biasanya, tempat ini adalah suaka bagiku. Di antara barisan rak tinggi yang membentengi kebisingan dunia luar, aku merasa aman. Namun hari ini, setiap derit lant** kayu di bawah sepatuku terdengar seperti denting lonceng kematian.
Aku melihatnya di sudut paling belakang, di meja kayu panjang yang permukaannya penuh goresan pena. Arga duduk di sana, membelakangi jendela besar yang membiarkan cahaya matahari sore ma**k, membungkus siluetnya dalam pendar keemasan yang menipu. Dia tampak tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja meledakkan seluruh duniaku dengan tiga kata sederhana di Instagram.
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantung yang terasa hingga ke kerongkongan, lalu menarik kursi di hadapannya. Bunyi gesekan kaki kursi dengan lant** beton terdengar m****akkan telinga di tengah kesunyian perpustakaan.
Arga mendongak. Matanya yang gelap menatapku datar, tanpa ekspresi yang bisa kubaca. "Telat lima menit," ucapnya pelan, suaranya serak namun jernih.
"Maaf, tadi ada urusan sebentar," jawabku ketus, tanganku gemetar saat mengeluarkan laptop dan buku catatan dari tas. Aku sengaja tidak menatap matanya. Aku tidak berani. Aku merasa seolah-olah seluruh isi kepalakuβsemua keluh kesah, kemarahan, dan kerapuhanku yang kuunggah di *Close Friends*βterpampang nyata di dahiku.
Kami seharusnya mengerjakan tugas analisis karakter untuk pelajaran Bahasa I****esia. Sebuah tugas kelompok yang sialnya menyatukan aku dengan manusia paling misterius di sekolah ini.
"Mau mulai dari mana?" tanyaku, mencoba terdengar profesional seolah-olah tidak ada badai yang sedang mengamuk di antara kami.
Arga tidak langsung menjawab. Dia memutar-mutar pulpen di antara jemarinya yang panjang. "Dari inti masalahnya. Karakter utamanya merasa terasing, kan? Dia merasa dunia adalah panggung sandiwara di mana dia hanya penonton yang dipaksa ikut menari."
Aku membeku. Kalimat itu terdengar familier, tapi aku berusaha mengabaikannya. "Itu interpretasi yang bagus. Kita bisa tulis itu di bagian latar belakang psikologis."
Aku mulai mengetik dengan cepat, berharap bunyi keyboard bisa menutupi kesunyian yang mencekam. Namun, Arga tidak bergerak. Dia hanya memperhatikanku. Aku bisa merasakan tatapannyaβbukan tatapan mengadili, tapi sesuatu yang lebih dalam, seolah dia sedang menguliti setiap lapisan pertahanan yang kubangun selama bertahun-tahun.
"Kenapa?" tanyaku akhirnya, menyerah. Aku menutup layar laptop dengan sekali gerakan keras. "Kenapa kamu nggak ngetik? Waktu kita nggak banyak."
Arga menyandarkan punggungnya ke kursi. "Mika, kenapa kamu selalu pasang tembok setinggi itu?"
Jantungku mencelos. "Aku nggak tahu apa yang kamu omongin. Kita di sini buat ngerjain tugas, bukan buat sesi konseling."
"Aku sudah baca semuanya," katanya tenang.
Aku merasa oksigen di sekitar duniaku mendadak lenyap. "Arga, stop."
"Semua tentang bagaimana kamu benci melihat pantulan dirimu sendiri di cermin karena kamu melihat kegagalan orang lain di sana. Tentang bagaimana kamu merasa orang-orang hanya menyukai versi 'cerdas' dan 'pendiam' darimu, tapi akan lari ketakutan kalau lihat versi aslimu yang hancur."
"C**up!" suaraku naik satu oktav, membuat seorang adik kelas di meja seberang menoleh kaget. Aku merendahkan suara, gigiku bergeletuk karena menahan amarahβatau mungkin ketakutan. "Kamu nggak punya hak buat bahas itu di sini. Itu privasi."
"Privasi yang kamu kasih ke aku selama setahun, Mika. Secara sadar atau nggak."
Aku mengepalkan tangan di bawah meja hingga kuku-kukuku memutih. "Aku kira itu akun mati! Aku kira aku cuma bicara sama tembok!"
Arga mencondongkan tubuhnya ke depan. Jarak kami sekarang hanya terhalang meja sempit. Aku bisa mencium aroma samar sabun cuci baju dan kopi dari tubuhnya. Tatapannya mengunci mataku, membuatku tidak bisa berpaling.
"Kadang, tembok juga punya telinga," bisiknya. "Dan terkadang, orang yang paling diam adalah orang yang paling mengerti rasa sepi."
Aku ingin lari. Aku ingin membereskan barang-albarangku dan menghilang dari hadapannya. Tapi kakiku terasa seperti terpaku ke lant**. Rasa malu yang luar biasa membakar pipiku, namun di balik itu, ada secercah perasaan aneh yang tidak mampu kudefinisikan. Rasa lega yang menakutkan karena akhirnya ada seseorang yang melihat 'aku' yang sebenarnya.
Arga kemudian membuka buku catatannya, membalik beberapa halaman, lalu membacakan sesuatu dengan suara rendah yang membuat bulu kudukku berdiri.
"'Kesepian itu bukan saat kita sendirian, tapi saat kita berada di tengah keramaian dan menyadari bahwa tidak ada satu pun orang di sana yang benar-benar mengenal kita. Kita semua hanyalah orang asing yang saling bertab**kan, lalu pura-pura tidak terluka.'"
Duniaku seolah berhenti berputar. Kalimat itu. Kalimat yang kutulis dua minggu lalu, saat aku menangis di pojok kamar setelah makan malam keluarga yang penuh kepura-puraan. Aku ingat mengetiknya dengan jemari gemetar, membagikannya ke satu-satunya 'saksi' bisuku.
Arga menutup bukunya dan menatapku dengan sorot mata yang kini tampak lebih lembut, namun tetap mengintimidasi. "Itu tulisanmu yang paling jujur, Mika. Dan aku setuju. Tapi kamu salah soal satu hal."
Aku menelan ludah, suaraku nyaris hilang. "Apa?"
"Kamu nggak sedang bertab**kan dengan orang asing sekarang," Arga berkata sambil menutup pulpennya dengan bunyi klik yang final. "Dan aku nggak punya niat buat pura-pura nggak lihat kalau kamu lagi luka."
Aku tertegun, mulutku terbuka tapi tidak ada kata yang keluar. Arga berdiri, mulai mema**kkan buku-bukunya ke dalam tas seolah percakapan barusan adalah hal yang biasa. Dia meninggalkanku yang masih terpaku, mencoba mencerna kenyataan bahwa benteng yang kubangun dengan susah payah selama ini tidak hanya retak, tapi baru saja diruntuhkan dengan satu kutipan dari tanganku sendiri.
Saat dia hampir sampai di pintu keluar perpustakaan, dia berbalik sebentar.
"Besok jam yang sama, Mika. Masih banyak yang harus kita selesaikan. Bukan cuma tugas ini."
Dia menghilang di balik pintu kaca, meninggalkanku dalam keheningan perpustakaan yang tiba-tiba terasa jauh lebih mencekam daripada sebelumnya. Aku melihat ke layar laptop yang gelap, memantulkan wajahku yang pucat. Untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa rahasia terbesarku bukan lagi milikku sendiri. Arga bukan sekadar saksi; dia sekarang adalah pemegang kunci dari kotak pandora yang selama ini kupendam. Dan aku tidak tahu apakah aku harus bersyukur atau justru harus mulai berlari sejauh mungkin darinya.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!