Jempolku gemetar saat mengusap layar ponsel yang dingin. Cahaya pendar dari aplikasi Instagram itu terasa menyilaukan di bawah bayang-bayang atap gedung sekolah yang mulai menggelap. Di sana, di kolom *Direct Message*, satu baris kalimat pendek itu masih ada. Mengolok-olok keberanianku, menghancurkan benteng pertahanan yang sudah kubangun selama setahun terakhir.
*Aku mendengarmu.*
Suara langkah kaki yang mendekat membuat napas tertahan di tenggorokan. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Aroma sabun cuci yang samar dan langkah sepatu yang teratur itu milik Arga. Cowok yang biasanya duduk tiga bangku di belakangku, yang tidak pernah bicara lebih dari lima kata sehari, kini memegang seluruh hidupku di balik layar ponselnya.
"Mika," panggilnya lirih.
Aku berbalik dengan cepat, punggungku menab**k pagar pembatas *rooftop*. Aku menyodorkan layar ponselku tepat di depan wajahnya, seolah-olah benda itu adalah senjata tajam. "Jelaskan. Sekarang."
Arga tidak mundur. Dia hanya menatap layar itu, lalu beralih menatap mataku. Ekspresinya datar, seperti permukaan danau yang tak terusik angin, namun ada sesuatu yang berkilat di balik pupil hitamnyaβsesuatu yang tampak seperti rasa bersalah, atau mungkin... simpati. Hal terakhir yang kuinginkan dari siapa pun.
"Itu akunku," ucapnya pelan. Suaranya rendah, tanpa nada pembelaan.
"Sejak kapan?" tanyaku, suaraku melengking sedikit terlalu tinggi. "Sejak kapan kamu menontonku te******* seperti ini, Arga? Sejak kapan kamu membaca semua sampah yang aku buang di sana?"
"Hampir setahun."
Rasanya seperti ada air es yang disiramkan ke seluruh tubuhku. Setahun. Selama setahun ini, setiap kali aku menangis karena merasa gagal, setiap kali aku mengutuk diriku sendiri karena trauma masa lalu yang tak kunjung sembuh, setiap kali aku menuliskan betapa aku membenci keramaian... dia ada di sana. Dia melihat sisi diriku yang paling menjijikkan, yang paling rapuh, sementara di sekolah aku berpura-pura menjadi Mika yang 'baik-baik saja'.
"Kamu penguntit," bisikku, air mata mulai menggenang di pelupuk mata, panas dan memalukan. "Kamu membiarkanku bicara pada tembok, padahal kamu tahu itu bukan tembok. Kamu membiarkanku terlihat seperti orang bodoh!"
"Aku nggak pernah menganggapmu bodoh, Mika." Arga melangkah maju satu tindak. Refleks, aku mundur, tapi pagar besi di belakangku sudah mengunci ruang gerakku. "Awalnya itu kecelakaan. Akun itu... akun itu tadinya milik kakaku yang sudah lama nggak aktif. Aku hanya memakai ponsel lamanya dan otomatis ma**k ke akun itu. Tapi kemudian, ada notifikasi *Close Friends* darimu."
"Kenapa nggak bilang?" teriakku. Dadaku naik-turun, sesak oleh udara sore yang makin mendingin. "Kenapa nggak berhenti melihat? Kamu bisa saja memblokirku, atau setidaknya keluar dari daftar itu!"
Arga terdiam c**up lama. Dia menunduk, memandangi ujung sepatunya sebelum kembali menatapku dengan intensitas yang membuatku ingin menghilang. "Karena aku butuh mendengarnya."
Aku mengerutkan kening, bingung. "Maksudmu?"
"Kamu menulis hal-hal yang juga aku rasakan, Mika," katanya, suaranya kini sedikit bergetar. "Tentang betapa melelahkannya harus terus memakai topeng setiap hari. Tentang ketakutan kalau suatu hari orang-orang akan tahu betapa rusaknya kita di dalam. Kamu bicara soal kesepian di tengah kerumunan, dan untuk pertama kalinya, aku merasa nggak sendirian di dunia ini."
Aku tertegun. Kata-katanya menyerangku dari arah yang tidak terduga. Selama ini, aku menganggap Arga sebagai pengamat yang dingin, seseorang yang memegang kendali karena dia tahu rahasiamu. Tapi melihat bahunya yang sedikit merosot dan cara dia meremas jemarinya sendiri, aku melihat sesuatu yang lain. Ada luka yang sama di sana.
Namun, rasa defensifku kembali naik. "Itu tetap nggak benar, Arga. Kamu memanfaatkan kerapuhanku untuk kenyamananmu sendiri. Itu egois."
"Aku tahu," akunya tanpa ragu. "Itulah sebabnya aku nggak pernah membalas. Aku takut kalau aku bicara, kamu akan berhenti menulis. Dan kalau kamu berhenti, aku akan kembali ke tempat yang gelap itu lagi."
Dia menarik napas panjang, lalu merogoh saku seragamnya. Dia mengeluarkan ponselnya dan menggeser layar, lalu menyodorkannya kepadaku. "Aku tahu kamu marah. Kamu punya hak untuk itu. Kamu bisa lapor sekolah, atau kamu bisa memaki-makiku sepuasmu. Tapi sebelum itu, lihat ini."
Dengan tangan gemetar, aku mengambil ponselnya. Di sana, di aplikasi yang sama, ada sebuah akun tanpa foto profil. Aku melihat daftar unggahannya. Tidak ada foto, hanya latar belakang hitam dengan tulisan putih yang singkat-singkat.
*Hari ini aku melihatnya lagi. Dia pura-pura tersenyum pada guru kimia, tapi matanya terlihat ingin menangis. Aku ingin bilang aku ada di sini, tapi aku terlalu pengecut.*
Tanggal unggahannya adalah tiga bulan yang lalu.
Aku menelan ludah, mataku bergerak cepat membaca unggahan-unggahan lainnya. Semuanya tentang aku. Tentang bagaimana dia memperhatikanku dari belakang kelas, tentang bagaimana dia merasa terhubung dengan setiap kata yang kucurahkan di *Close Friends*-ku.
"Kamu..." aku kehabisan kata-kata.
"Aku bukan cuma saksi, Mika," Arga melangkah mendekat, kali ini begitu dekat hingga aku bisa merasakan kehangatan dari tubuhnya. "Aku adalah orang yang sama hancurnya denganmu. Dan malam itu, saat aku mengirim pesan 'Aku mendengarmu', itu bukan ancaman. Itu janji."
Aku menatap ponsel di tanganku, lalu menatap Arga. Dunia yang kukira hanya milikku sendiriβdunia rahasia yang gelap dan jujur ituβternyata dihuni oleh orang lain. Seseorang yang kini berdiri di depanku, menunggu keputusanku.
"Apa yang kamu inginkan sekarang?" tanyaku pelan, hampir berupa bisikan.
Arga menatapku lurus, tanpa ada lagi misteri yang disembunyikan. "Aku ingin kamu berhenti bicara pada layar ponselmu, Mika. Bicaralah padaku."
Aku terdiam, merasakan jantungku berdegup kencang di balik tulang rusuk. Pilihannya hanya dua: aku lari sekarang juga dan menganggap ini tidak pernah terjadi, atau aku membiarkannya ma**k ke dalam duniaku yang selama ini tertutup rapat.
Namun, sebelum aku sempat menjawab, ponsel di tanganku bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar ponsel Arga yang masih kupegang. Pesan dari nomor tak dikenal.
*Ternyata kalian berdua punya rahasia yang menarik, ya?*
Darahku mendadak berdesir hebat. Arga dengan cepat merebut ponselnya kembali. Wajahnya yang semula tenang kini berubah pucat pasi. Kami saling berpandangan dalam keheningan yang mencekam. Ternyata, Arga bukan satu-satunya yang memperhatikan. Ada orang lain di luar sana yang sedang menonton kami.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!