Udara di koridor belakang sekolah yang lembap terasa seolah menghimpit paru-paru Mika. Suara riuh rendah dari lapangan basket di kejauhan terdengar samar, tenggelam oleh degup jantungnya sendiri yang berdentum liar di balik tulang rusuk. Ia mempercepat langkah, nyaris berlari, hingga ia menemukan sosok itu.
Arga sedang duduk di bangku beton tua di bawah pohon akasia yang rimbun, membelakangi keramaian. Punggungnya tampak tegak, namun ada kesan kesepian yang memancar dari caranya menatap lurus ke arah pagar kawat yang membatasi sekolah dengan lahan kosong di belakangnya.
"Berhenti di sana," desis Mika saat jarak mereka tinggal beberapa langkah. Suaranya gemetar, campuran antara amarah yang tertahan dan rasa malu yang meluap-luap.
Arga menoleh perlahan. Ekspresi wajahnya datar, seperti air di sumur tua yang tidak terganggu oleh angin. Ia tidak tampak terkejut melihat Mika yang berdiri dengan napas terengah dan wajah memerah. "Mika," ucapnya pelan, sebuah sapaan yang terasa terlalu akrab bagi telinga Mika.
"Jangan sebut namaku seperti kita berteman," potong Mika cepat. Ia meremas tali tas ranselnya hingga buku-buku jarinya memutih. "Apa yang kamu lakukan itu jahat, Arga. Kamu membiarkan aku bicara sendirian selama setahun. Kamu melihat setiap luka, setiap tangisan, setiap pikiran gelap yang bahkan tidak berani aku katakan pada bayanganku sendiri. Kenapa kamu tidak berhenti mengikutiku? Kenapa kamu diam saja?"
Arga meletakkan buku yang sedari tadi ia pegang ke atas pangkuannya. "Awalnya aku tidak tahu itu kamu, Mika. Akun itu... akun itu hanya muncul di saran pengikut karena kita satu kontak. Aku hanya ingin tahu siapa yang bisa menulis dengan kejujuran yang begitu menyakitkan."
"Itu privasiku!" suara Mika naik satu oktav. Ia merasa te*******. Bayangan tentang unggahan-unggahan di *Close Friends*-nya berkelebat di kepala: foto tangannya yang gemetar setelah bertengkar dengan ibunya, tulisan panjang tentang betapa ia benci melihat cermin, hingga pengakuan-pengakuan tentang rasa haus akan kasih sayang yang selama ini ia bungkus dengan sikap ketus. Semuanya telah dikonsumsi oleh laki-laki di depannya ini. "Aku ingin kamu menghapusnya. Semuanya. Hapus akun itu, blokir aku, dan yang paling penting... hapus semua memori tentang apa yang kamu baca. Anggap itu tidak pernah ada."
Arga bangkit dari duduknya. Ia lebih tinggi dari yang Mika bayangkan, dan kehadirannya tiba-tiba terasa dominan. Namun, matanya tidak menunjukkan ancaman. Ada sesuatu yang lain di sanaβsesuatu yang lebih menyerupai rasa sakit yang bercermin.
"Aku tidak bisa melakukan itu," kata Arga tenang.
Mika tertegun, amarahnya seolah membentur dinding beton. "Apa maksudmu tidak bisa? Itu permintaan yang sederhana, Arga! Kamu tinggal melupakan semuanya dan kita kembali jadi orang asing. Kamu di duniamu yang diam, dan aku di duniaku yang... yang terserah aku."
"Ingatan tidak bekerja seperti data di ponsel, Mika. Aku tidak punya tombol *delete*," Arga melangkah satu tindak lebih dekat. Mika ingin mundur, tetapi kakinya seolah terpaku pada tanah yang ditumbuhi lumut. "Dan jujur saja, aku tidak mau melupakannya."
"Kenapa? Untuk dijadikan bahan ejekan? Kamu mau menggunakannya untuk menghancurkanku kalau suatu saat aku tidak sengaja menyinggungmu?" tuduh Mika dengan suara serak. Matanya mulai panas. Ia benci betapa lemahnya ia saat ini.
Arga menggeleng pelan. "Bukan itu. Kamu pikir selama ini kamu bicara pada tembok kosong, kan? Kamu pikir tidak ada yang peduli pada rasa sakit yang kamu tulis di sana." Ia terdiam sejenak, menatap Mika dengan intensitas yang membuat gadis itu ingin menghilang. "Tapi lewat tulisan-tulisan itu, aku merasa... tidak sendirian. Selama ini, aku merasa seperti hantu di sekolah ini. Tidak ada yang benar-benar melihatku. Sampai aku membaca ceritamu. Aku merasa terhubung denganmu lewat setiap kata yang kamu unggah."
Mika terpaku. Bibirnya sedikit terbuka, namun tidak ada kata yang keluar. Ia mengharapkan ejekan, ia mengharapkan pemerasan, atau bahkan permintaan maaf yang canggung. Ia tidak siap untuk pengakuan semacam ini.
"Kamu bilang kamu terasing," lanjut Arga, suaranya kini lebih lembut, hampir seperti bisikan. "Aku juga. Kamu bilang kamu takut orang melihat sisi burukmu. Aku pun sama. Kamu memberikan suara untuk perasaan-perasaan yang selama ini hanya bisa aku pendam di tenggorokan sampai rasanya menyesakkan. Kamu bukan sekadar bicara pada satu akun anonim, Mika. Kamu bicara padaku. Dan aku mendengarmu."
Mika merasakan air mata pertamanya jatuh. Ia segera menyekanya dengan kasar menggunakan punggung tangan. "Itu tetap tidak benar. Kamu mencuri rahasiaku untuk merasa lebih baik tentang dirimu sendiri. Itu egois."
"Mungkin," Arga mengakui tanpa keraguan. "Tapi menyuruhku menghapus semua itu sama saja dengan menyuruhku menghapus satu-satunya hal yang membuatku merasa dipahami di dunia ini. Aku tidak akan membocorkan rahasiamu pada siapa pun. Aku bersumpah. Tapi jangan paksa aku untuk berpura-pura bahwa aku tidak mengenalmu, Mikaela. Karena sekarang, aku mungkin orang yang paling mengenalmu di dunia ini, melampaui siapa pun."
Mika menatap Arga dengan pandangan kabur. Keheningan menyelimuti mereka, hanya diselingi suara gesekan daun akasia yang tertiup angin sore. Dunia yang selama ini Mika kunci rapat-rapat telah retak, dan Arga berdiri tepat di celah retakan itu, menolak untuk pergi.
"Aku membencimu karena ini," bisik Mika, meskipun nada bicaranya tidak lagi penuh dengan api, melainkan keputusasaan yang melemah.
Arga hanya menatapnya, tidak membalas, tidak juga membantah.
Mika berbalik dan berjalan pergi dengan langkah gont**, meninggalkan Arga di bawah bayang-bayang pohon akasia. Namun, di tengah jalan, langkahnya terhenti. Ia merogoh saku roknya, mengeluarkan ponselnya yang terasa panas. Sebuah notifikasi muncul di layarβsebuah tanda bahwa akun anonim itu baru saja menyukai unggahan terbarunya yang ia buat sejam yang lalu, sebuah kutipan tentang ketakutan akan ditemukan.
Jari Mika gemetar di atas tombol 'Blokir'. Ia tahu ia seharusnya menekannya sekarang juga. Ia harus memutus hubungan ini sebelum semuanya menjadi lebih rumit. Namun, kalimat Arga terus terngiang: *Aku mendengarmu.*
Perlahan, Mika menurunkan ponselnya tanpa menekan apa pun. Ia mema**kkannya kembali ke saku, merasakan beban rahasia itu kini tidak lagi ia pikul sendirian, dan kenyataan itu terasa jauh lebih menakutkan daripada sebelumnya. Di depannya, gerbang sekolah terbuka lebar, namun Mika merasa seolah ia baru saja melangkah ma**k ke dalam labirin baru yang tidak memiliki jalan keluar.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!