Teman Sekamar Punya Rahasia

Bab 1: Bab 1: Dua Nama di Satu Pintu

Pengaturan Membaca

Magangku dimulai besok pagi, tetapi malam itu aku berdiri di depan Unit 17B bersama seorang laki-laki asing yang memegang bukti reservasi persis seperti milikku.

“Ini unit saya,” kataku, menunjukkan layar ponsel.

Laki-laki itu mengangkat ponselnya. Nama Jati Pradana tercetak di bawah nomor unit yang sama. “Kalau begitu, aplikasi itu punya selera humor yang buruk.”

Aku tidak tertawa. Sejak ayah meninggal, aku belajar bahwa masalah akan menjadi lebih besar jika tidak segera dima**kkan ke daftar. Jadi aku membuat daftar cepat di kepala: koper besar, dua kardus dokumen, pukul hampir tujuh malam, kantor magang tiga kilometer dari sini, uang sewa tiga bulan sudah dibayar, dan ibu mengira aku telah tiba dengan aman.

Kinan, agen apartemen, datang dua puluh menit kemudian dengan napas putus-putus. Ia memeriksa dua bukti pembayaran, mengetik berkali-kali, lalu menatap kami seperti dokter yang harus menyampaikan hasil buruk.

“Sinkronisasi dua platform gagal. Keduanya sah.”

“Pindahkan salah satu dari kami,” kataku.

“Semua unit penuh sampai festival media selesai. Refund paling cepat empat belas hari kerja.”

Jati bersandar di kusen. Kaos hitamnya kusut, rambutnya seolah tidak pernah bertemu sisir, tetapi ia tidak tampak panik. Itu membuatku semakin kesal.

Unit 17B memiliki dua kamar terpisah, satu kamar mandi, ruang tamu kecil, dan dapur yang bahkan tidak c**up lebar untuk dua orang berpapasan tanpa bersentuhan. Bu Sari, pemilik unit, ikut menelepon melalui pangg***n video dan menawarkan jalan tengah: kami tinggal bersama selama delapan minggu, membuat kontrak tambahan, lalu salah satu pindah ketika unit lain tersedia.

“Aku bisa cari hotel,” ucapku, meski saldo rekeningku langsung menolak gagasan itu.

“Delapan minggu hotel dekat sini setara uang kuliah satu semester,” kata Jati. “Saya tidak sedang menyuruh kamu setuju. Cuma mengingatkan matematika.”

“Aku mahasiswa akuntansi.”

“Berarti kamu tahu saya benar.”

Aku menatap pintu kamar di kanan. Jati memilih kamar kiri tanpa ma**k, seolah sengaja memberiku ruang lebih jauh dari pintu utama. Sikap kecil itu tidak c**up untuk membuatnya dapat dipercaya, tetapi c**up untuk membuatku berhenti menganggapnya ancaman langsung.

Kami memeriksa setiap sudut bersama Kinan. Dua kunci digital aktif. Dua kuitansi sah. Kesalahan itu murni sistem, bukan jebakan salah satu dari kami. Kinan berjanji mengirim surat resmi malam itu juga.

Ketika semua orang pergi, kesunyian terasa lebih canggung daripada pertengkaran. Jati mengangkat satu kardusku yang hampir jatuh.

“Di mana?”

“Aku bisa sendiri.”

“Pertanyaan saya bukan itu.”

Aku menunjuk kamar kanan. Ia meletakkan kardus di depan pintu, tidak melewati batas tanpa izin. Lalu ia membawa barangnya ke kamar kiri.

Aku menelepon Ibu dan berkata apartemennya baik, aman, dekat kantor. Aku tidak mengatakan ada laki-laki asing di kamar sebelah. Aku juga tidak mengatakan tunanganku, Damar, belum tahu aku pindah hari ini.

Pukul delapan lewat, Kinan mengirim kontrak darurat. Di bagian akhir tertulis tebal: masa tinggal bersama maksimal delapan minggu; tidak ada unit pengganti sebelum itu.

Aku menatap dua pintu kamar yang saling berhadapan.

Delapan minggu tiba-tiba terdengar lebih panjang daripada satu semester.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca