Damar tidak berteriak. Itu justru lebih buruk.
Ia ma**k, meletakkan s****an di meja, lalu melihat dua pintu kamar, matras Jati di lant**, dan ember di bawah plafon bocor. Semua penjelasan ada di depan mata, tetapi ia memilih versi yang paling melukai.
“Kamu tinggal dengan laki-laki ini dan tidak mengatakan apa pun.”
“Kesalahan reservasi. Ada surat resmi.”
“Aku bertanya kenapa kamu menyembunyikannya.”
Aku membuka surel Kinan. Damar bahkan tidak melihat.
Jati berdiri dekat pintu, memberi ruang. “Saya bisa keluar kalau kalian perlu bicara.”
“Memang seharusnya kamu keluar,” kata Damar.
“Damar.” Suaraku lebih tegas daripada yang kuharapkan. “Ini juga unitnya.”
Damar menatapku. “Kamu membelanya?”
“Aku menjelaskan fakta.”
Ia mengusap wajah, mencoba kembali tenang. “Alya, aku tidak mau mempermalukanmu. Keluarga kita akan sulit memahami. Jadi sementara, jangan ada yang tahu. Kita cari cara memindahkanmu.”
“Uangku belum kembali.”
“Aku bayar.”
“Aku tidak meminta.”
“Karena kamu selalu merasa harus membuktikan bisa sendiri.”
Kalimat itu mengenai luka lama: setelah ayah meninggal, aku memang tidak ingin menjadi beban. Namun Damar memakai pengetahuan itu untuk mengubah keberatanku menjadi kelemahan.
Aku berdiri di antara dia dan pintu kamar. “Aku akan menyelesaikan delapan minggu sesuai kontrak.”
Damar terdiam. “Kamu memilih tinggal dengannya daripada menerima bantuanku?”
“Aku memilih tidak dipindahkan seperti barang.”
Untuk pertama kalinya sejak pertunangan, aku melihat rasa tidak percaya di wajahnya. Bukan karena aku berbuat salah, tetapi karena aku tidak menurut.
Damar keluar. Di koridor ia memotret Jati yang berdiri di depan pintu. Jati menutup wajah dengan tangan.
“Untuk apa foto itu?” tanyaku.
“Supaya ada bukti kalau nanti orang bertanya.”
“Orang siapa?”
“Keluarga.”
Ia pergi sebelum aku bisa mengambil ponselnya.
Di dalam unit, Jati memungut kantong s****an yang tertinggal. “Saya minta maaf.”
“Bukan salahmu dia mengambil foto.”
“Banyak bagian lain tetap salah saya.”
Aku menatapnya. Pengakuan tentang podcast belum lengkap. Ia masih belum mengatakan kapan mengenaliku. Namun pagi itu, aku juga melihat ia tidak menggunakan kemarahan Damar untuk mendekat. Ia tidak menyuruhku putus. Ia tidak menawarkan dirinya sebagai pilihan.
Ponselku berbunyi. Ibu mengirim foto yang sama, diteruskan dari Damar.
Di bawahnya ada pesan: Pulang akhir pekan ini. Kita bicarakan sebelum keluarga besar mendengar.
Beberapa detik kemudian, akun gosip kampus mengunggah foto koridor dengan judul: Tunangan orang tinggal serumah dengan mahasiswa film?
Wajah Jati buram. Wajahku tidak terlihat. Namun nomor Unit 17B tercetak jelas di pintu.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!