Aku menemukan seluruh kebenaran di studio kecil Jati.
Setelah foto menyebar, kantor magang memintaku menjaga reputasi. Ibu menelepon tanpa henti. Damar menawarkan apartemen baru dengan syarat aku pindah hari itu juga. Jati meminta satu jam untuk menjelaskan semuanya dan membawaku ke Studio Media Arunika.
Di sana, tidak ada dapur kecil atau aturan rumah yang bisa membuat kami merasa setara. Hanya monitor, mikrofon, dan folder suara dari puluhan orang yang mempercayakan hidup mereka kepada seseorang yang tidak mereka kenal.
Jati membuka laptop. “Ruang 00.17 saya dirikan bersama Bayu. Saya host-nya. Kami menjanjikan anonimitas dan tidak pernah memublikasikan rekaman mentah tanpa izin.”
Ia menunjukkan folder LANGITKECIL_27. Di dalamnya ada semua voice note-ku, foto mug kuning, dan catatan respons. Tidak ada namaku. Namun semuanya tetap terasa seperti isi tubuhku diletakkan di atas meja.
“Kapan kamu tahu itu aku?”
Jati menatapku. “Malam pertama.”
Aku mundur satu langkah. “Kamu bilang belum lama.”
“Saya berbohong.”
“Selama ini kamu tahu tentang Damar. Tentang Ibu. Tentang ayahku. Tentang semua hal yang tidak pernah kukatakan langsung.”
“Saya tidak pernah memakai informasi itu untuk—”
“Untuk apa? Membuat kopi dengan cara yang kusuka? Menanyakan pertanyaan tepat? Menjadi orang yang terlihat paling memahami?”
Wajahnya pucat. “Saya berusaha tidak melakukannya.”
“Berusaha?”
Saya—Jati—tidak punya pertahanan yang pantas. Ia menutup layar, tetapi aku membukanya kembali.
“Aku ingin melihat semuanya.”
Ia menyerahkan kendali laptop. Tidak menyentuh tanganku. Tidak meminta maaf berulang-ulang untuk mengurangi rasa bersalahnya.
Aku membaca catatan yang ia buat setelah tiap rekaman. Sebagian hanya teknis. Sebagian berisi kalimat seperti: jangan gunakan det**l ini tanpa izin. Ada juga catatan baru: hapus setelah proyek selesai—minta persetujuan pemilik.
“Kenapa belum dihapus?”
“Karena saya takut Bayu punya salinan lain. Saya memindahkan milikmu ke folder terenkripsi.”
“Keputusan tentang rekamanku tetap kamu ambil sendiri.”
“Iya.”
Satu kata itu menghancurkan sisa pembelaan yang mungkin ia punya.
Aku mengeluarkan kunci cadangan Unit 17B dari tas dan meletakkannya di meja studio. “Aku tidak tahu apakah satu pun momen di rumah itu nyata.”
“Nyata,” katanya pelan. “Tapi saya mengerti kalau bagi kamu sekarang semuanya terasa tercemar.”
Aku pergi tanpa menunggu.
Di halte, ponselku bergetar. Akun gosip kampus mengunggah audio berdurasi dua puluh tiga detik. Suaraku sendiri berkata: Kadang aku berharap pertunangan ini batal sebelum aku harus menjadi orang jahat yang membatalkannya.
Di bawah audio, tertulis satu kata.
LangitKecil.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!