Alya tidak menjawab pesan saya. Saya tidak berhak menuntutnya.
Audio yang bocor berasal dari server lama, bukan folder terenkripsi. Bayu masih memiliki akses administrator. Saya menemukannya di studio sedang memeriksa grafik lonjakan pendengar.
“Kamu mengunggah rekaman itu?”
“Cuma teaser. Nama disamarkan.”
“Orang sudah menghubungkannya dengan Alya.”
Bayu mengangkat bahu. “Bukan saya yang menyebut namanya. Foto apartemen sudah beredar. Tunangannya sendiri yang mengenali frasa.”
Saya meraih laptopnya, lalu berhenti sebelum menyentuh. Batas tidak hanya berlaku ketika saya sedang jatuh cinta. “Cabut unggahan.”
“Sudah disalin puluhan akun.”
“Serahkan log akses.”
“Jangan sok suci. Kamu menyimpan semua arsip. Kamu tahu perempuan itu pengirim kita dan tetap tinggal bersamanya.”
Kalimat itu benar dalam bagian yang paling menyakitkan.
Saya mengirim surel resmi kepada forum media kampus, mengakui identitas saya sebagai host dan melaporkan kebocoran. Saya menonaktifkan kanal Ruang 00.17, mengubah semua akses, lalu mengirim seluruh kunci arsip kepada Alya. Bukan sebagai cara meminta maaf, melainkan karena memang miliknya.
Di Unit 17B, kamar kanan tertutup. Alya belum pulang. Saya meletakkan laptop cadangan berisi salinan arsip dan dokumen akses di depan pintunya, bersama surat satu halaman.
Saya tahu sejak malam pertama. Saya berbohong karena takut kehilangan kepercayaanmu. Alasan saya tidak menghapus akibatnya. Semua arsip dan bukti akses ada di sini. Kamu boleh menghapus, menyimpan, atau menyerahkannya kepada kampus. Saya tidak akan meminta kamu melindungi saya.
Pukul dua pagi, pintu utama terbuka. Alya ma**k ditemani Nisa. Matanya bengkak, tetapi langkahnya tegak.
“Aku hanya mengambil barang,” katanya.
“Saya akan keluar.”
“Tidak perlu. Unit ini juga milikmu.”
Kata-kata yang dulu terdengar hangat kini menjadi garis batas.
Nisa membantu mema**kkan pakaian ke koper. Alya menemukan laptop di depan kamarnya.
“Semua?” tanyanya.
“Semua yang saya punya.”
“Terma**k log Bayu?”
“Ya. Saya sudah melapor.”
Ia menatap saya. “Apakah kamu berharap ini membuatku percaya lagi?”
“Tidak.”
“Apakah kamu berharap aku membelamu?”
“Tidak.”
“Lalu apa yang kamu harapkan?”
Saya memutar cincin hitam di jari, lalu melepaskannya. “Kamu punya pilihan yang seharusnya saya berikan sejak awal.”
Alya mengambil laptop, bukan tangan saya. Ia ma**k kamar dan menutup pintu.
Beberapa menit kemudian akun gosip mengunggah potongan kedua. Kali ini suaranya menyebut Damar dan ketakutannya pada keluarga.
Dari balik pintu terdengar isak yang cepat ditahan.
Saya berdiri di lorong, dua langkah dari kamar, dan untuk pertama kalinya memahami bahwa menjaga jarak tidak sama dengan memperbaiki kerusakan.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!