Potongan suara selalu lebih kejam daripada kebohongan karena ia memakai kebenaran tanpa konteks.
Dalam rekaman lengkap, aku berkata bahwa aku takut membatalkan pertunangan karena tidak ingin menjadi orang jahat di mata keluarga. Aku juga berkata Damar bukan laki-laki buruk; ia hanya tidak pernah bertanya apakah hidup yang ia rencanakan benar-benar kuinginkan.
Akun gosip hanya mengambil bagian yang membuatku tampak berselingkuh dan tidak tahu berterima kasih.
Kantor magang memanggilku. Supervisor menjelaskan bahwa perusahaan menangani audit klien besar dan tidak ingin nama kantor ma**k percakapan publik. Status magangku ditinjau selama tujuh hari.
“Apakah rekaman itu milik Anda?”
“Itu suara saya. Tetapi disebarkan tanpa izin dan dipotong.”
“Apakah Anda tinggal bersama laki-laki yang mengelola podcast?”
“Karena salah reservasi yang terdokumentasi.”
Setiap jawaban benar tetap terasa seperti pembelaan yang terlambat.
Di luar kantor, Damar menunggu. Ia menawarkan ma**k ke mobil.
“Aku bisa membereskan ini,” katanya. “Kita keluarkan pernyataan bahwa kamu tinggal sendiri dan laki-laki itu memanfaatkanmu.”
“Itu bohong.”
“Lebih baik daripada keluarga mengira kamu memilih dia.”
“Aku tidak memilih siapa pun.”
Damar menghela napas. “Alya, kadang citra harus diselamatkan dulu. Kebenaran bisa dijelaskan belakangan.”
Kalimat itu memperlihatkan mengapa aku selalu sulit bernapas di dekat rencana kami. Bukan karena Damar kejam. Karena ia selalu menganggap versi hidup yang tampak baik lebih penting daripada hidup yang benar.
Aku menolak mobilnya dan kembali ke Unit 17B. Jati tidak ada. Di meja makan terdapat surat pemberitahuan forum media: pemeriksaan resmi terhadap Ruang 00.17, Jati Pradana, dan Bayu Pranata.
Aku membuka laptop cadangan. Log menunjukkan audio diakses dari akun Bayu pada malam sebelum bocor. Ada catatan unduhan, alamat perangkat, dan percakapan tentang teaser promosi. Namun ada juga pesan dari Damar kepada akun gosip yang menghubungkan frasa rekaman dengan identitasku.
Bayu membocorkan suara. Damar memberikan namaku.
Dua laki-laki berbeda, satu hasil yang sama: keduanya merasa berhak menentukan bagaimana ceritaku digunakan.
Jati pulang pukul malam. Ia berhenti ketika melihatku di meja.
“Aku sudah melihat log.”
Ia mengangguk. “Saya akan bersaksi.”
“Aku tidak meminta kamu bicara atas namaku.”
“Saya akan bicara tentang tindakan saya dan Bayu. Bukan tentang pilihanmu.”
Untuk pertama kalinya sejak kebenaran terbongkar, jawabannya tidak membuatku semakin marah.
Namun sebelum kami bisa melanjutkan, Ibu menelepon sambil menangis. Keluarga besar sudah menerima audio kedua.
“Pulang, Alya,” katanya. “Sebelum semuanya hancur.”
Aku menatap Unit 17B—rumah yang mendadak penuh bukti dan kehilangan rasa aman.
Malam itu aku mengemasi koper.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!