Aku mengembalikan cincin itu di Kafe Sore Hari.
Damar datang dengan keyakinan bahwa percakapan kami akan berakhir sesuai rencananya. Ia memesan kopi yang biasa kupilih, menyebut apartemen baru yang sudah ia survei, dan menunjukkan tanggal pernikahan yang tersedia.
Aku meletakkan kotak cincin di antara kami.
“Aku mengakhiri pertunangan.”
Wajahnya berubah perlahan. “Karena Jati?”
“Karena aku.”
“Jangan membuat keputusan besar untuk laki-laki yang sudah membohongimu.”
“Aku tidak memilih Jati. Aku memilih berhenti menjalani hidup yang tidak kupilih.”
Damar menatap kotak itu seolah benda kecil tersebut telah mengkhianatinya. “Keluargamu akan kehilangan dukungan. Ibumu belum siap.”
“Aku akan bicara dengan Ibu.”
“Dan kalau magangmu hilang?”
“Aku akan mencari jalan lain.”
Ia merendahkan suara. “Kamu pikir kebebasan berarti menanggung semuanya sendiri?”
“Tidak. Kebebasan berarti aku boleh menerima bantuan tanpa menyerahkan keputusan.”
Damar tidak menjadi monster. Ia hanya laki-laki yang terlalu lama percaya bahwa cintanya memberinya hak membuat keputusan yang lebih baik untukku. Ia mengambil cincin dan berkata semoga aku tidak menyesal.
“Aku mungkin menyesal,” jawabku. “Tapi setidaknya penyesalan itu milikku.”
Setelah ia pergi, Nisa memelukku. Aku menangis bukan karena ingin kembali, melainkan karena akhir dari sesuatu yang aman tetap bisa terasa seperti kehilangan.
Malamnya aku bicara dengan Ibu. Kami bertengkar, diam, lalu bertengkar lagi. Akhirnya Ibu mengakui ia takut setelah ayah meninggal. Damar dan keluarganya terasa seperti jaminan bahwa aku tidak akan sendirian.
“Aku juga takut,” kataku. “Tapi jangan jadikan takut sebagai rumahku.”
Ibu tidak langsung menyetujui. Namun ia memindahkan foto pertunangan dari meja. Itu c**up untuk malam itu.
Aku menghubungi Reza dan menyatakan bersedia bicara di forum etika digital, bukan sebagai LangitKecil, tetapi sebagai Alya Maheswari. Aku akan menjelaskan kebocoran, konteks audio, dan bagaimana anonimitas tidak berarti pemilik suara kehilangan hak.
Aku juga mengirim satu pesan kepada Jati: Jangan bicara atas namaku. Serahkan fakta tentang sistem dan tindakanmu. Aku akan bicara tentang diriku sendiri.
Balasannya datang cepat: Baik.
Hanya itu.
Aku memandang cincin yang sudah tidak ada di jariku. Bekasnya masih terlihat, garis pucat di kulit.
Untuk pertama kalinya, tangan itu terasa benar-benar milikku.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!