Saya menyerahkan kunci administrator Ruang 00.17 kepada forum media, bersama seluruh arsip, log akses, dan dokumen persetujuan yang ternyata jauh dari c**up.
Reza bertanya apakah saya ingin pengacara kampus. Saya menjawab saya ingin proses yang adil, bukan proses yang ringan.
Bayu akhirnya menyerahkan backup lokal setelah kampus mengancam menahan kelulusannya. Ia tetap mengatakan niatnya hanya promosi. Saya mengatakan niat kami tidak mengembalikan privasi orang yang suaranya sudah menyebar.
Masa sewa Unit 17B tinggal sepuluh hari. Saya memindahkan barang sedikit demi sedikit ke studio teman. Kamar Alya tetap kosong, tetapi saya tidak menyentuh apa pun. Mug kuning sudah dibawanya. Hanya satu karet rambut tertinggal di dekat sofa. Saya mema**kkannya ke amplop bersama barang lain.
Alya datang sore hari untuk mengambil sisa buku. Kami berdiri di ruang tamu seperti dua orang yang baru bertemu, padahal saya tahu ritme langkahnya dan ia tahu saya selalu lupa menutup lemari dapur.
“Saya sudah menerima pesanmu,” kata saya. “Di forum, saya hanya akan menjelaskan sistem dan tanggung jawab saya.”
“Terima kasih.”
Ia membuka kamar kanan. Saya tetap di luar.
“Ada satu hal,” katanya tanpa menoleh. “Ketika kamu membuat kopi dan mengetahui caraku minum, apakah itu dari rekaman?”
“Ya.”
“Ketika kamu bertanya apakah aku ingin Damar datang?”
“Itu pertanyaan saya sendiri.”
“Ketika mati listrik dan kamu menyebut rumah?”
“Saya ingat rekamanmu. Saya seharusnya tidak menggunakannya.”
Alya mengangguk. Ia meminta jawaban, bukan penghiburan.
“Saya minta maaf,” kata saya. “Bukan supaya kamu memaafkan. Saya hanya perlu menyebut kesalahan dengan benar.”
Ia menutup koper. “Aku belum tahu apakah momen-momen baik itu masih milikku.”
“Ambil waktu sebanyak yang kamu perlu.”
Saya memberikan amplop barang dan kunci cadangan yang dulu ia tinggalkan. “Kontrak berakhir minggu depan. Saya pindah lebih dulu. Kamu bisa memakai unit sampai hari terakhir kalau perlu.”
Alya menatap kunci di telapak tangannya. “Kamu tidak harus pergi lebih dulu.”
“Saya tahu. Saya memilih pergi agar keputusanmu tentang rumah tidak bergantung pada kehadiran saya.”
Untuk sesaat matanya melembut, lalu kembali hati-hati.
Ia mema**kkan kunci ke saku. “Jati, aku tidak membencimu.”
Kalimat itu bukan pengampunan, tetapi lebih dari yang pantas saya harapkan.
“Saya tahu.”
“Jangan menjawab seolah kamu tahu semuanya.”
Saya hampir tertawa. “Baik.”
Ketika ia pergi, Unit 17B menjadi sunyi. Saya menempelkan satu kertas pada kulkas: Semua arsip telah diserahkan. Tidak ada salinan pribadi.
Di bawahnya saya menulis sesuatu yang tidak akan saya kirim kepadanya: Saya jatuh cinta sebelum tahu cara mencint** tanpa menyimpan kendali.
Lalu saya merobek kertas itu. Perasaan saya bukan lagi rahasia yang harus ia tanggung.
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!