Auditorium kampus penuh ketika aku berdiri di depan mikrofon.
Di layar besar, panitia menampilkan judul forum: Privasi, Anonimitas, dan Tanggung Jawab Media Mahasiswa. Namaku tercetak jelas. Tidak ada LangitKecil.
Damar duduk di baris belakang bersama perwakilan keluarga. Jati berada di sisi panggung, terpisah dari Bayu. Ia tidak menatapku untuk memberi aba-aba. Ia menepati janji: tidak mengambil alih suara.
Aku menjelaskan kronologi dari awal. Aku mengirim rekaman secara anonim karena platform menjanjikan ruang aman. Jati mengenaliku setelah kami tinggal bersama dan gagal memberi tahu. Bayu mengakses arsip, memotong audio, lalu menyebarkannya demi promosi. Damar menghubungkan rekaman dengan identitasku tanpa izin.
“Namun saya tidak berdiri di sini untuk meminta orang memilih siapa laki-laki yang paling salah,” kataku. “Saya berdiri untuk mengatakan bahwa suara seseorang tetap miliknya meski dikirim tanpa nama.”
Reza memutar rekaman lengkap dengan persetujuanku. Untuk pertama kalinya, orang mendengar konteksnya. Aku tidak sedang mengaku berselingkuh. Aku sedang mengakui ketakutan untuk membatalkan pertunangan.
Bayu mengatakan nama telah disamarkan. Aku menjawab, “Anonimitas bukan hanya menghapus nama. Suara, waktu, pengalaman, dan potongan foto dapat mengidentifikasi seseorang.”
Jati mendapat giliran. Ia mengakui sistem penyimpanan lemah dan kegagalannya memberitahuku sejak awal. Ia tidak menyalahkan Bayu untuk menghapus bagiannya. Ia juga tidak menyebut perasaan kami.
Damar diminta menjelaskan mengapa mengirim foto dan identitasku kepada akun gosip. Ia berkata ingin melindungi reputasiku. Aku menatapnya dan berkata, “Perlindungan tanpa persetujuan tetap mengambil hak seseorang.”
Kalimat itu mengakhiri sesuatu di antara kami dengan lebih bersih daripada cincin yang kukembalikan.
Forum memutuskan Ruang 00.17 dihentikan, seluruh arsip diaudit dan dihapus berdasarkan pilihan masing-masing pengirim. Bayu dikenai skorsing kegiatan media dan wajib mengikuti proses etik. Jati juga mendapat sanksi karena tata kelola dan konflik kepentingan, tetapi bukti menunjukkan ia tidak membocorkan audio.
Setelah forum, supervisor magang menemuiku. “Status Anda dipulihkan. Cara Anda menyusun bukti dan konteks menunjukkan integritas.”
Aku hampir menangis, tetapi menahannya sampai Nisa memelukku.
Di luar auditorium, Jati berdiri jauh. Ia tidak mendekat. Aku yang berjalan kepadanya.
“Terima kasih sudah tidak membelaku,” kataku.
Ia mengangguk. “Kamu tidak membutuhkannya.”
“Aku butuh orang yang mengatakan fakta.”
“Itu yang saya coba lakukan.”
Kami berdiri tanpa menyentuh. Ada banyak hal belum selesai, tetapi untuk pertama kalinya kebenaran berada di antara kami tanpa disembunyikan.
Ponselku berbunyi. Kinan mengingatkan masa sewa Unit 17B berakhir tiga hari lagi.
Rumah sementara itu akan selesai sebelum aku tahu apakah kami masih punya sesuatu setelahnya.
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!