Saya pindah dari Unit 17B satu hari sebelum kontrak selesai.
Saya membersihkan kamar kiri, memperbaiki engsel lemari, dan membuang semua catatan kerja yang tidak diperlukan. Di dapur, dua rak kulkas kembali kosong. Aturan rumah masih menempel di pintu: tujuh belas pasal, tanda tangan kami, dan satu noda minyak kecil dari malam pertama.
Alya datang untuk pemeriksaan akhir bersama Kinan. Ia mengenakan kemeja magang dan membawa mug kuning dalam tas. Kami berjalan memeriksa unit seperti dua penyewa biasa.
“Kamar kanan aman,” kata Kinan. “Deposit akan kembali penuh.”
Alya menatap noda lembap yang sudah dicat ulang. “Kecuali kenangan pipa bocor.”
“Saya tidak punya prosedur refund untuk trauma plafon,” jawab Kinan.
Kami tertawa. Kecil, canggung, tetapi nyata.
Setelah Kinan pergi, Alya mencabut aturan rumah dari pintu. “Aku mau menyimpan ini.”
“Untuk bukti bahwa saya pernah patuh?”
“Untuk bukti kita pernah mencoba.”
Saya ingin mengatakan bahwa saya masih ingin mencoba, kali ini tanpa rahasia. Namun masa sewa belum berakhir sepenuhnya, luka belum selesai, dan Alya baru saja merebut hidupnya dari terlalu banyak orang yang mengatakan apa yang harus ia lakukan.
Saya menyerahkan kunci utama kepada Bu Sari. Alya menyerahkan kunci cadangan. Dua bunyi logam jatuh ke telapak tangan pemilik unit.
Di depan pintu, kami berdiri dengan koper masing-masing.
“Aku tinggal sementara dengan Nisa sampai dapat kamar baru,” kata Alya.
“Saya di studio teman.”
“Jangan tidur di lant** terlalu lama.”
“Jangan mengatur sendok orang lain berdasarkan ukuran.”
“Tidak ada orang lain yang c**up ceroboh untuk perlu diatur.”
Jeda di antara kami tidak lagi penuh kebohongan. Hanya waktu.
“Alya,” kata saya, “saya punya perasaan untukmu.”
Ia menatap saya, tidak terkejut.
“Saya tidak meminta jawaban. Saya hanya tidak ingin menjadikan perasaan itu rahasia lain.”
Alya menggenggam gagang koper. “Aku juga punya perasaan. Tapi aku belum tahu apakah perasaan itu lahir karena kita terjebak di tempat yang sama atau karena kita benar-benar memilih satu sama lain.”
“Saya mengerti.”
“Kita perlu hidup tanpa alamat yang sama.”
Saya mengangguk. “Berapa lama?”
“Jangan mengubahnya menjadi jadwal.”
Saya tersenyum. “Baik.”
Kami turun lift bersama. Di lobi, jalan kami berpisah. Tidak ada pelukan, tidak ada ciuman, tidak ada janji menunggu.
Hanya dua orang yang akhirnya bebas pergi ke arah berbeda.
Ketika pintu lift menutup, saya mendengar notifikasi ponsel. Pesan dari Alya.
Terima kasih untuk nasi goreng malam pertama. Itu tetap kenangan yang baik.
Saya membaca kalimat itu berkali-kali.
Mungkin tidak semua yang rusak harus dibuang. Beberapa hal hanya perlu dikembalikan kepada pemiliknya.
Lanjutkan Membaca Bab 19 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!