Teman Sekamar Punya Rahasia

Bab 2: Bab 2: Aturan Rumah Nomor Satu

Pengaturan Membaca

Saya tidak pernah membayangkan kontrak tempat tinggal bisa memiliki tujuh belas pasal hanya karena seorang perempuan menatap spons cuci piring seperti sedang mengaudit kejahatan keuangan.

Alya duduk di meja makan dengan laptop terbuka. Rambutnya masih diikat rapi meski kami baru selesai mengangkat kardus hampir tengah malam. Di layar tertulis: Aturan Rumah Unit 17B.

“Pasal satu,” katanya, “kamar adalah wilayah pribadi. Tidak ma**k tanpa izin.”

“Setuju.”

“Pasal dua, tamu harus diberitahukan minimal enam jam sebelumnya.”

“Kalau kurir makanan?”

“Itu bukan tamu.”

“Bagi saya, orang yang membawa nasi goreng layak diperlakukan sebagai keluarga.”

Ia menatap saya datar. Saya menahan senyum dan menandatangani bagian bawah dokumen.

Kami membagi rak kulkas, jadwal kamar mandi, biaya air, listrik, dan siapa yang membuang sampah. Alya memberi label pada wadah makanan. Saya menempelkan kertas kecil bertuliskan JANGAN MEMBUAT KULKAS MENJADI LAPORAN KEUANGAN. Ia mencabutnya tanpa komentar.

Namun saat ia merapikan mug kuning retak di rak paling atas, sesuatu dalam ingatan saya bergerak.

Setahun terakhir saya mengelola Ruang 00.17, podcast anonim tempat orang mengirim rekaman suara tanpa nama. Salah satu pengirim memakai nama LangitKecil. Ia pernah mengirim foto mug kuning yang sama—retak tipis di dekat gagang—sambil bercerita bahwa benda itu satu-satunya barang dari ayahnya yang berani ia bawa keluar rumah.

Saya mengingatkan diri sendiri bahwa ribuan orang punya mug kuning. Bahwa suara Alya belum c**up lama saya dengar. Bahwa kemiripan bukan kepastian.

“Lampu dapur jangan dimatikan kalau salah satu masih di ruang bersama,” katanya.

“Takut gelap?”

“Tidak. Aku tidak suka ma**k ruangan dan tidak tahu ada orang atau tidak.”

Kalimat itu menghentikan tangan saya di atas tanda tangan terakhir.

LangitKecil pernah berkata dalam sebuah rekaman: Aku tidak takut gelap. Aku cuma takut mema**ki hidup yang tidak pernah memberitahuku siapa yang sudah ada di dalamnya.

Saya menatap Alya. Ia sedang menyusun sendok berdasarkan ukuran, sama sekali tidak menyadari bahwa satu kalimat telah membuka pintu yang seharusnya tetap tertutup.

“Mengapa?” tanyanya.

“Tidak apa-apa.”

“Kamu melihatku seperti baru ingat utang.”

“Mungkin saya baru ingat ada orang yang bicara persis seperti kamu.”

Ia berhenti sebentar, lalu kembali merapikan sendok. “Semoga orang itu menyenangkan.”

Saya tidak menjawab. LangitKecil menyenangkan, menyebalkan, cerdas, dan lebih jujur dalam rekaman tiga menit daripada kebanyakan orang dalam percakapan bertahun-tahun.

Alya mencetak aturan rumah, menandatanganinya, lalu menyodorkan pulpen. Saya ikut menandatangani. Dua tanda tangan di atas satu alamat.

Sebelum ma**k kamar, ia berkata, “Aturan nomor satu yang sebenarnya sederhana. Jangan membuatku menyesal sudah percaya pada kesepakatan ini.”

Pintu kamarnya tertutup.

Di ruang tamu, saya masih memegang pulpen. Untuk pertama kali sejak kami bertemu, saya berharap suara Alya tidak benar-benar suara yang sudah saya kenal.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca