Tiga bulan setelah Unit 17B, hidupku tidak menjadi mudah. Namun untuk pertama kalinya, kesulitan itu tidak terasa seperti hukuman karena memilih diri sendiri.
Aku menyelesaikan magang dan menerima tawaran kerja paruh waktu. Ibu masih kadang menyebut Damar sebagai pilihan yang sebenarnya baik, tetapi kini ia berhenti ketika melihat wajahku. Kami belajar membicarakan ketakutan tanpa mengubahnya menjadi perintah.
Aku tinggal dengan Nisa di apartemen kecil dekat kampus. Tidak ada kaos hitam Jati di jemuran, tidak ada suara editing pukul 00.17, dan tidak ada orang yang meninggalkan nasi goreng di meja ketika aku pulang lelah.
Aku merindukannya. Rindu itu tidak lagi terasa memalukan.
Jati menjalani sanksi media, menyelesaikan film akhirnya, dan ikut merancang pedoman privasi baru bersama forum kampus. Kami sesekali bertukar pesan tentang hal praktis. Tidak pernah larut malam. Tidak pernah terlalu pribadi.
Sampai undangan wisuda datang.
Jati mengirim pesan: Selamat. Saya dengar kantor audit menawarimu kontrak.
Aku membalas: Dari mana tahu?
Jawaban muncul setelah jeda: Nisa mengunggahnya. Kali ini bukan dari rekaman rahasia.
Aku tertawa sendiri.
Pada hari wisuda, aku melihatnya di seberang halaman. Ia memakai kemeja putih dan membawa kamera. Bayu tidak hadir; proses etiknya masih berjalan. Damar datang sebentar untuk memberi selamat dengan sikap yang lebih tenang. Kami saling meminta maaf untuk bagian masing-masing, tanpa mencoba kembali.
Jati tidak mendekat sampai aku selesai bersama keluarga. Ketika akhirnya berdiri di depanku, ia menyerahkan amplop.
“Apa ini?”
“Salinan sertifikat penghapusan arsip LangitKecil. Semua file sudah dihapus, terma**k backup.”
Aku membuka amplop. Dokumen itu bukan romantis, tetapi justru terasa lebih intim daripada bunga. Ia menunjukkan bahwa kepercayaan dibangun dari tindakan yang dapat diperiksa.
“Terima kasih.”
“Kamu masih minum kopi dengan setengah gula dan sedikit air dingin?”
Aku mengangkat alis.
Ia cepat menambahkan, “Saya ingat dari rumah. Bukan dari rekaman.”
“Memori manusia juga sulit diaudit.”
“Kita bisa mulai dari pertanyaan langsung.”
Kami berjalan ke kafe dekat kampus bersama Nisa dan beberapa teman. Saat semua orang pulang, Jati tetap duduk di seberangku.
“Alya,” katanya, “apakah kamu mau bertemu lagi minggu depan? Bukan untuk membahas forum, arsip, atau apartemen.”
“Sebagai apa?”
“Dua orang yang tidak berbagi kontrak.”
Aku menatapnya. Tiga bulan terpisah telah menghapus alasan keadaan, tetapi perasaan itu masih ada—lebih tenang, lebih jelas.
“Ya,” jawabku. “Satu kali dulu.”
Jati tersenyum. “Saya akan berusaha tidak membuat jadwal delapan minggu.”
Kami keluar dari kafe tanpa bergandengan tangan.
Namun untuk pertama kalinya, jarak di antara kami terasa seperti pilihan, bukan larangan.
Lanjutkan Membaca Bab 20 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!