Kencan pertama kami berlangsung buruk dalam cara yang menyenangkan.
Restoran yang saya pilih tutup mendadak. Hujan turun. Kamera film saya tertinggal di studio. Alya datang tepat waktu dan menatap saya seolah sedang menilai kelayakan finansial seluruh rencana.
“Dulu kamu bisa membuat nasi goreng dari sisa kulkas,” katanya. “Sekarang mengatur makan malam saja gagal.”
“Dulu ada kontrak yang mengancam saya.”
Kami akhirnya makan mi rebus di warung kecil. Tidak ada Unit 17B, tidak ada sofa yang harus dibagi, dan tidak ada pintu kamar yang hanya berjarak beberapa langkah. Anehnya, tanpa kedekatan paksa, saya lebih gugup.
Saya bertanya tentang pekerjaannya. Alya bertanya tentang film akhir saya. Kami membicarakan hal-hal yang belum pernah ma**k rekaman: makanan yang saya benci, kota yang ingin ia kunjungi, bagaimana saya belajar editing dari kaset lama ibu, bagaimana ia sebenarnya menyukai lagu pop murahan.
Setiap kali saya merasa sudah tahu jawabannya, saya tetap bertanya.
“Kenapa kamu terus memastikan?” tanya Alya.
“Latihan tidak bera**msi.”
“Itu melelahkan.”
“Boleh saya berhenti?”
“Untuk hal kecil, boleh. Untuk hal besar, jangan.”
Setelah makan, kami berjalan di bawah satu payung. Bahu kami bersentuhan sesekali. Saya ingin menggenggam tangannya, tetapi tidak tahu apakah itu terlalu cepat. Dulu kami hidup begitu dekat tanpa menyentuh; sekarang satu sentuhan terasa seperti keputusan besar.
Di halte, Alya berkata, “Kamu boleh memegang tanganku.”
Saya menatapnya. “Kamu yakin?”
“Jangan buat aku mengisi formulir.”
Saya tertawa dan menggenggam tangannya. Hangat, sederhana, tanpa rasa bersalah.
Kami berkencan beberapa kali selama sebulan. Tidak semua percakapan mudah. Alya masih bertanya apakah perhatian saya berasal dari pengetahuan lama. Saya menjawab sejujur mungkin. Kadang ia marah lagi. Kadang saya merasa tidak adil karena kesalahan yang sudah diproses terus kembali. Lalu saya ingat kepercayaan tidak mengikuti jadwal sanksi kampus.
Pada malam setelah pemutaran film akhir, kami berdiri di balkon kafe. Pukul 00.17 muncul di layar ponsel.
Alya menatap angka itu. “Lucu. Dulu jam ini berarti aku bicara kepada orang yang tidak kukenal.”
“Sekarang?”
“Sekarang aku mengenalmu. Terma**k bagian yang tidak kusukai.”
Saya menelan napas. “Apakah itu kabar baik?”
“Lebih baik daripada dicint** sebagai versi yang dibayangkan.”
Saya mengangkat tangan, lalu berhenti sebelum menyentuh wajahnya. “Boleh?”
Alya melihat saya lama. “Belum.”
Saya menurunkan tangan. “Baik.”
Ia tidak menjauh. Sebaliknya, ia menyandarkan kepala di bahu saya.
“Bukan tidak,” katanya. “Aku hanya ingin momen itu bukan milik jam, apartemen, atau krisis.”
Saya mengerti. Untuk pertama kalinya, menunggu tidak terasa seperti kehilangan.
Lanjutkan Membaca Bab 21 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!