Enam bulan setelah salah reservasi, aku berdiri di depan pintu apartemen baruku dengan dua kunci di tangan.
Satu untukku. Satu untuk siapa pun yang kupilih ma**k.
Nisa membantu memindahkan kardus. Ibu datang membawa tirai dan akhirnya mengakui apartemen kecil itu lebih terang daripada rumah yang dulu ia takut kulepaskan. Jati datang paling akhir, membawa mug kuning yang sudah diperbaiki dengan garis emas tipis pada retaknya.
“Aku tidak meminta kamu memperbaikinya,” kataku.
“Kamu pernah bilang retaknya membuat pegangan panas.”
Aku menatapnya.
Ia mengangkat kedua tangan. “Itu kamu bilang langsung di Unit 17B. Saya punya saksi kulkas.”
Aku tertawa dan menerima mug itu.
Setelah semua orang pulang, Jati tetap di ambang pintu. Ia tidak ma**k meski pintu terbuka.
“Kunci cadangan?” tanyanya, melihat dua kunci di tanganku.
“Bukan untukmu.”
Wajahnya jatuh sedikit sebelum aku melanjutkan.
“Belum. Kunci bukan hadiah romantis. Itu akses ke rumahku.”
Ia mengangguk. “Saya setuju.”
Aku mema**kkan satu kunci ke laci. Yang lain kugenggam. “Tapi kamu boleh ma**k malam ini.”
Jati melangkah setelah aku memberi ruang.
Kami duduk di balkon. Kota menyala di bawah, hujan tipis menyentuh pagar. Tidak ada aturan rumah di pintu. Tidak ada pertunangan. Tidak ada arsip rahasia. Hanya kami, setelah seluruh alasan untuk bersama dan tidak bersama sudah diuji.
“Aku pernah takut semua perasaanku padamu lahir karena kita terjebak,” kataku.
“Dan sekarang?”
“Sekarang kita sudah lama tidak terjebak.”
Jati menatapku dengan sabar yang kali ini tidak terasa seperti teknik. “Alya, apakah kamu ingin kita menjadi pasangan?”
Pertanyaan sederhana itu membuat mataku panas. Selama bertahun-tahun, banyak orang menganggap hidupku sudah menjawab sebelum aku sempat ditanya.
“Ya,” kataku. “Aku memilih itu.”
Ia mendekat perlahan. “Boleh saya mencium kamu?”
Aku bisa mendengar hujan, lalu lintas jauh, dan napasku sendiri. Tidak ada suara anonim yang menjawab menggantikanku.
“Boleh.”
Ciuman pertama kami hangat dan hati-hati. Tidak sempurna. Hidung kami sempat berbenturan dan aku tertawa di tengahnya. Jati ikut tertawa, dahinya menempel pada dahiku.
“Akhir yang sangat tidak sinematik,” kataku.
“Bisa diulang untuk pengambilan kedua.”
“Jangan rakus.”
Aku yang menariknya mendekat lagi.
Setelah itu kami minum kopi dari dua mug berbeda. Jati tidak meminta kunci cadangan. Aku tidak menawarkan. Hubungan kami tidak membutuhkan bukti berupa akses tanpa batas.
Sebelum pulang, ia berdiri di depan pintu dan bertanya kapan kami bertemu lagi. Aku menyebut Sabtu, pukul tujuh, lalu menambahkan, “Tidak perlu menginap.”
“Peraturan rumah?”
“Pilihan pemilik rumah.”
Ia tersenyum dan pergi.
Aku mengunci pintu, menyalakan lampu dapur, dan memandang apartemen yang kupilih sendiri. Di meja, mug kuning retak memantulkan cahaya keemasan.
Kami tidak lagi berbagi rumah. Untuk pertama kalinya, kami benar-benar memilih pulang kepada satu sama lain.
Lanjutkan Membaca Bab 22 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!