Malam pertama di Unit 17B seharusnya kuhabiskan tidur agar tidak terlambat magang. Sebaliknya, pukul 00.17 aku terjaga oleh suara laki-laki dari kamar sebelah.
Bukan suara percakapan biasa. Jati berbicara pelan, teratur, seperti seseorang yang tahu kapan harus memberi jeda agar orang lain berani bernapas.
“Tidak semua rumah harus dipertahankan hanya karena kita pernah merasa aman di sana,” katanya.
Aku duduk di ranjang. Kalimat itu terasa familier. Sangat familier.
Selama setahun, setiap kali hidupku terlalu sempit, aku mengirim voice note ke podcast anonim bernama Ruang 00.17. Host-nya tidak pernah menyebut nama. Ia hanya memakai suara yang hangat dan sedikit serak, menanggapi beberapa rekaman terpilih tanpa menghakimi. Aku menjadi LangitKecil karena aku ingin punya satu ruang yang tidak mengenalku sebagai anak Ibu Rina, tunangan Damar, penerima beasiswa, atau mahasiswi yang selalu baik-baik saja.
Suara dari kamar Jati memiliki ritme yang sama.
Aku keluar dengan alasan mengambil air. Pintu kamarnya terbuka sedikit. Cahaya layar biru menyentuh lant**. Jati duduk memakai headphone hitam, membelakangiku. Di laptopnya bergerak gelombang audio. Ia berhenti bicara dan menekan beberapa tombol.
Aku sengaja menjatuhkan tutup botol.
Jati menoleh cepat. “Belum tidur?”
“Besok hari pertama magang. Tentu saja aku memilih begadang mendengarkan tetangga kamar bicara sendirian.”
“Editing tugas.”
“Mahasiswa film?”
“Dan editor audio. Pekerjaan yang membuat orang terlihat mencurigakan pada jam normal.”
Aku berdiri di ambang pintu, tidak ma**k. Aturan rumah nomor satu. Di sisi layar, deretan folder terlihat sebentar sebelum ia mengecilkan jendela. Ada nama-nama abstrak, angka, dan kode tanggal.
“Suaramu familiar,” kataku.
Jati melepas satu sisi headphone. “Kita baru bertemu kemarin.”
“Bukan dari sini.”
Ia tersenyum kecil, tetapi tangannya bergerak menutup laptop. “Saya pernah mengisi suara iklan kopi instan. Mungkin kamu korban pemasaran.”
Aku tidak percaya, tetapi aku juga tidak punya bukti. Aku kembali ke dapur. Mug kuningku berada di rak, padahal tadi sore kutinggalkan di kardus. Jati pasti menemukannya saat membereskan ruang bersama.
Ketika aku kembali melewati kamarnya, pintu sudah tertutup. Namun sebelum layar laptop menghilang sepenuhnya, aku melihat satu nama folder di sudut bawah.
LANGITKECIL_27.
Tubuhku berhenti lebih cepat daripada pikiranku.
Itu bukan nama umum. Itu nama yang kupilih sendiri, dieja tanpa spasi, diikuti angka dua puluh tujuh karena tanggal ulang tahun ayah.
Aku mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban.
“Jati?”
Suara kursi bergeser. Kemudian ia berkata dari balik pintu, “Sudah malam, Alya.”
Aku menatap gagang pintu yang tidak boleh kusentuh tanpa izin.
Di baliknya, seseorang menyimpan namaku yang tidak pernah kukatakan kepada siapa pun.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!