Teman Sekamar Punya Rahasia

Bab 4: Bab 4: Kaos Hitam dan Dapur Kecil

Pengaturan Membaca

Pagi berikutnya aku berangkat magang sebelum sempat menanyai Jati. Ketika pulang, aku menemukan dapur kecil kami berubah menjadi tempat yang terlalu nyaman untuk ukuran rumah sementara.

Ada dua porsi nasi goreng di meja. Jati berdiri di depan kompor memakai kaos hitam dan celana rumah, rambutnya basah sehabis mandi. Bukan pemandangan luar biasa. Justru kesederhanaannya yang mengganggu. Selama ini aku mengenal laki-laki melalui jadwal makan keluarga, acara resmi, dan kemeja yang disetrika. Melihat seseorang berdiri tanpa pertahanan di bawah lampu dapur membuat jarak antarmanusia terasa tipis.

“Porsi sebelah buat kamu,” katanya.

“Aku belum bilang akan makan di rumah.”

“Kamu menaruh kotak makan kosong di wastafel dan membuka aplikasi makanan tiga kali sejak ma**k. Dugaan saya c**up aman.”

Aku meletakkan tas. “Kamu memperhatikan terlalu banyak.”

Ia menurunkan api. “Editor suara. Kebiasaan buruk.”

Aku ingin menanyakan folder itu, tetapi kata-katanya terasa seperti pagar. Jadi aku memilih jalur lain. “Kopi.”

Jati mengambil mug kuningku, menuangkan setengah sendok gula, lalu menambahkan sedikit air dingin setelah air panas.

Aku memegang mug tanpa minum. “Dari mana kamu tahu?”

Ia diam sepersekian detik terlalu lama. “Kemarin kamu membuatnya begitu.”

“Aku membuat kopi di kantor.”

“Pagi tadi.”

“Aku berangkat sebelum kamu bangun.”

Jati menatap permukaan nasi goreng. “Mungkin saya menebak.”

Terlalu banyak tebakan yang tepat.

Kami makan berhadapan. Ia mengeluh tentang dosen pembimbing film yang meminta adegan hujan ketika anggaran tidak punya mesin hujan. Aku bercerita tentang supervisor magang yang memeriksa spasi dalam laporan. Percakapan kami ringan, tetapi di bawahnya ada pertanyaan yang bergerak seperti arus listrik.

Ketika aku mencuci piring, tanganku menyenggol gelas dan hampir menjatuhkannya. Jati menangkap gelas itu dari belakangku. Lengannya melewati sisi tubuhku tanpa benar-benar menyentuh. Aroma sabun dan deterjen dari kaosnya terasa terlalu dekat.

“Dapur ini dibuat untuk satu orang,” kataku.

“Kontraknya juga mungkin begitu.”

Kami tertawa kecil. Untuk beberapa detik, kecurigaanku kehilangan bentuk.

Lalu ponselnya berbunyi. Nama Bayu muncul di layar disert** pesan: Jadwal unggah Ruang 00.17 malam ini. Jangan lupa arsip Langit.

Jati membalikkan ponsel terlalu cepat.

Aku pura-pura tidak melihat. Ia mengangkat piring dan menjauh, kembali menjadi laki-laki yang menyimpan terlalu banyak pintu di dalam dirinya.

Malam itu, ketika aku membuka aplikasi podcast, episode terbaru Ruang 00.17 terunggah tepat pukul 00.17.

Host-nya mengucapkan kalimat pembuka.

Dan aku mendengar suara Jati.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca