Teman Sekamar Punya Rahasia

Bab 5: Bab 5: Tunangan yang Menelepon Terlalu Larut

Pengaturan Membaca

Damar menelepon pukul sebelas malam ketika Jati sedang mengeringkan pakaian di ruang tamu.

“Apartemennya nyaman?” tanya Damar.

Aku berbalik agar kamera hanya menangkap dinding kamar. “Nyaman.”

“Sendirian?”

Pertanyaan itu terdengar biasa, tetapi nada Damar membuatnya seperti pemeriksaan. Aku menjawab terlalu cepat. “Tentu.”

Dari luar terdengar suara gantungan jatuh. Aku menutup mikrofon. Jati mengangkat tangan meminta maaf lalu membawa keranjang cucian ke kamarnya.

Damar menatapku dari layar. Ia selalu tampak rapi, bahkan setelah bekerja. Keluarga kami mengenalnya sebagai pilihan aman: pekerjaan jelas, keluarga baik, tidak punya kebiasaan mengejutkan. Pertunangan kami berlangsung enam bulan, tetapi belum pernah ada satu malam ketika aku merasa bisa mengaku takut tanpa ia langsung mengubahnya menjadi rencana.

“Kamu kelihatan lelah,” katanya. “Kalau magang terlalu berat, kita bisa percepat pernikahan. Kamu tidak perlu memaksakan semua sendiri.”

“Aku ingin menyelesaikan magang.”

“Aku tahu. Aku hanya menjaga pilihanmu tetap realistis.”

Kalimat itu seharusnya terdengar penuh perhatian. Entah mengapa, malam itu terdengar seperti seseorang yang menutup jendela karena takut aku melihat jalan lain.

Setelah pangg***n selesai, aku keluar. Jati duduk di lant**, memasangkan kaus kaki yang bahkan tidak sama warna.

“Kamu tidak perlu bersembunyi karena aku,” katanya.

“Aku tidak bersembunyi.”

“Baik.”

Aku membenci caranya tidak membantah. “Dia belum tahu soal kesalahan reservasi.”

“Itu urusan kamu.”

“Kamu tidak punya pendapat?”

“Saya punya. Tapi pendapat saya tidak memberi saya hak memutuskan kapan kamu harus bicara.”

Jawaban itu membuatku menatapnya. Host Ruang 00.17 sering mengatakan hal serupa: nasihat yang tidak mengambil alih pilihan pendengarnya.

“Jati, kamu pernah bekerja untuk podcast?”

Tangannya berhenti memasangkan kaus kaki. “Banyak proyek.”

“Ruang 00.17?”

“Saya editor lepas.”

Bukan penyangkalan penuh.

Sebelum aku bisa mengejar, ponselku berbunyi lagi. Damar mengirim pesan: Aku akan datang akhir pekan. Kita makan malam dan bicara dengan tenang.

Aku membaca pesan itu dua kali.

Jati berdiri dan mema**kkan keranjang ke kamar. “Tamu enam jam sebelumnya, ingat?”

“Dia tunanganku.”

“Kontrak tidak punya pasal khusus tunangan.”

Pintu kamarnya menutup.

Di ponsel, Damar mengirim pesan kedua: Pastikan tidak ada hal yang perlu membuat keluarga khawatir.

Untuk pertama kalinya, aku tidak tahu pihak mana yang sedang kusembunyikan dari pihak lain—dan mengapa aku merasa rumah sementara ini lebih jujur daripada hubungan yang sudah direncanakan bertahun-tahun.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca