Saya memutar rekaman LangitKecil untuk ketiga kalinya, bukan untuk memastikan identitas Alya. Saya sudah yakin sejak melihat mug dan mendengar kalimatnya. Saya memutarnya karena rasa bersalah terkadang menyamar sebagai kebutuhan teknis.
Dalam rekaman itu, Alya bercerita tentang pertunangan. Ia tidak mengatakan nama Damar, tetapi ia berkata semua orang menganggapnya beruntung karena dipilih laki-laki yang stabil. Lalu ia tertawa pendek dan bertanya, Kalau sebuah hidup aman membuatku sulit bernapas, apakah aku masih boleh menyebutnya rumah?
Saya pernah menjawab rekaman itu di episode publik tanpa menyebut det**l. Saya bilang keamanan yang dipilih orang lain belum tentu sama dengan kedamaian. Sekarang perempuan yang mengirim pertanyaan itu tidur dua meter dari meja kerja saya.
Bayu datang ke studio kampus siang hari. Ia membawa rencana sponsor dan grafik pendengar.
“Ruang 00.17 bisa besar,” katanya. “Kita punya arsip emosional terbaik di kampus.”
“Mereka bukan arsip. Mereka orang.”
“Nama sudah disamarkan.”
“Suara juga identitas.”
Bayu memutar mata. Ia tidak tahu LangitKecil adalah Alya. Tidak seorang pun tahu selain saya.
Saya memindahkan seluruh rekamannya ke folder terenkripsi dan mencabut akses bersama. Langkah itu seharusnya saya lakukan sejak awal untuk semua pengirim, bukan hanya karena orang tertentu kini makan nasi goreng di dapur saya.
Malamnya, Alya pulang membawa sekantong buah. Ia meletakkan apel di rak saya karena raknya penuh.
“Boleh pinjam ruang?” tanyanya.
“Boleh.”
Kata sederhana itu terasa seperti kepercayaan yang tidak layak saya terima.
Kami makan sambil berdiri. Ia bercerita tentang Damar yang akan datang. Saya ingin berkata jangan biarkan siapa pun mempersempit hidupmu. Namun kalimat itu akan terdengar seperti saya memakai rekamannya untuk menjadi lelaki yang paling mengerti. Jadi saya hanya bertanya, “Kamu ingin dia datang?”
Alya mengupas apel lebih lama daripada perlu. “Aku tidak tahu.”
“Tidak tahu juga jawaban.”
Ia menatap saya. “Kamu sering bicara seperti seseorang.”
Saya menahan napas.
“Siapa?”
“Orang yang tidak pernah kutemui.”
Saya bisa jujur malam itu. Semua pintu masih terbuka. Skandal belum terjadi. Kedekatan kami belum terlalu dalam. Namun saya memilih alasan yang terasa aman.
“Mungkin banyak orang bicara begitu.”
Alya mengangguk, tetapi matanya tidak percaya.
Setelah ia ma**k kamar, saya membuka folder LANGITKECIL_27. Saya mengganti izin akses menjadi hanya saya, lalu menuliskan catatan: hapus setelah proyek selesai—minta persetujuan pemilik.
Kursor berkedip di layar.
Untuk melindungi Alya, saya berkata kepada diri sendiri.
Padahal kebenarannya lebih buruk: saya takut kehilangan cara ia memandang saya sebelum ia tahu siapa saya.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!